Jumat, 28 Februari 2014

Si Penjual Tisu

Kurang lebih 1 minggu yang lalu, dalam perjalanan menuju tempat kerja penulis  bertemu dengan seorang teman di dalam Bus Transjakarta. Kebetulan, ia bekerja di gedung yang sama dengan penulis. Maka kami turun dari bus dan berjalan bersama-sama menuju gedung tempat kami bekerja. Dalam perjalanan, ia membeli  2 bungkus tisu dari seorang pedagang tisu yang berjualan di pinggir jalan.  Tak dinyana, ia memberikan 1 bungkus tisu yang yang baru ia beli kepada penulis. Ia lalu berkata bahwa ia sebenarnya tidak membutuhkan tisu. Ia hanya ingin menghargai jerih payah sang penjual tisu.
Penulis tentu menghargai kebaikan hati teman penulis itu. Namun bagi pedagang asongan seperti sang penjual tisu, akan lebih baik jika dalam menjalankan aktivitasnya mendapat jaminan perlindungan secara resmi dari pemerintah. Sebab tanpa jaminan perlindungan, posisi sang penjual tisu sangatlah rentan. Rentan terhadap penggusuran, rentan jatuh miskin secara mendadak akibat kecelakaan lantaran tidak memiliki jaminan asuransi kesehatan. Mereka juga tidak memiliki sistem dan struktur bisnis. Peluang mereka untuk berkembang juga amat terbatas. Dari sisi pertumbuhan ekonomi, kesuksesan penjual tisu praktis tidak akan berdampak apapun bagi pendapatan nasional karena tidak ada pajak yang dibayarkan.
Dalam istilah ekonomi, sang penjual tisu berada dalam sektor ekonomi informal. Di negeri ini, begitu banyak orang-orang yang bernasib seperti dirinya. Termasuk diantaranya penjual makanan di pinggir dan di tengah jalan (saat lalu lintas berhenti), penjual pulsa telepon genggam, penawar jasa pembersih kaca jendela mobil di tengah-tengah kemacetan, dan sebagainya. Juga para penjahit pakaian berskala kecil (yang biasanya melakukan pekerjaannya di rumah), Rata-rata dari mereka umumnya berpendidikan rendah, tidak sampai mencicipi Sekolah Menengah Pertama (SMP). Bahkan banyak diantaranya tang tidak tamat Sekolah Dasar (SD). Perlu dicatat, mereka bukanlah pelaku tindakan kriminal meski tidak tercatat secara resmi. Biasanya orang-orang bekerja di sektor informal karena terpaksa demi mempertahankan hidup. Bagi pelaku sektor informal, lolos dari kewajiban membayar pajak menjadi daya tarik tersendiri. Apalagi bila mereka pintar berlindung di balik rasa belas kasihan masyarakat.
Apa yang melatarbelakangi tumbuhnya sektor informal?Yang utama adalah pertumbuhan jumlah tenaga kerja yang pesat tanpa diimbangi oleh ketersediaan lapangan kerja yang memadai. Pesatnya pertumbuhan jumlah tenaga kerja merupakan hasil dari lajunya pertumbuhan penduduk. Selama satu dekade  terakhir, menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), tingkat fertilitas penduduk Indonesia mencapai 2,4. Pada tahun 2035, jumlah penduduk Indonesia, menurut Badan Pusat Statistik (BPS),  diperkirakan mencapai 305 juta jiwa. Tanpa pertumbuhan sektor formal yang signifikan, jumlah tenaga kerja yang akan memasuki sektor informal bakal semakin bertambah.
Penyebab berikutnya tumbuh pesatnya sektor informal adalah sulitnya memasuki sektor formal. Salah satunya lantaran rendahnya kualitas rata-rata tenaga kerja sehingga sektor formal enggan merekrut mereka. Hal ini mengindikasikan adanya masalah dalam bidang pendidikan sehingga tidak mampu memasok tenaga-tenaga kerja yang terampil.
Penyebab lainnya adalah apa yang dalam ilmu ekonomi disebut fleksibilitas dan efisiensi pasar tenaga kerja (labor market flexibility and efficiency). Pasar tenaga kerja haruslah efisien sehingga tenaga kerja dapat dengan mudah berpindah dari satu sektor ekonomi ke sektor ekonomi lainnya dengan biaya rendah. Sedangkan pasar tenaga kerja yang efisien harus menjamin insentif bagi pekerja serta terciptanya meritokrasi. Merujuk kepada Global Competitiveness Report 2013-2014 yang diterbitkan World Economic Forum (WEF), kakunya pasar tenaga kerja menjadi salah satu masalah terbesar yang dihadapi Indonesia dalam usaha meningkatkan daya saing.
Keberadaan sektor informal wajib dikikis agar pendapatan pemerintah bertambah dan rakyat mendapat perlindungan dalam mencari nafkah.

Rabu, 15 Januari 2014

Pak Rahmat dan Kamhar

Warung makan itu terletak tidak jauh dari kantor penulis, di kawasan bisnis terkemuka di Jakarta.  Meski tidak luas, namun tempatnya cukup nyaman sehingga orang betah untuk duduk lebih lama seraya menunggu usainya waktu istirahat setelah makan siang . Makanan yang disajikan harganya cukup terjangkau, sesuai bagi kebanyakan karyawan.  Menu yang ditawarkan kurang lebih sama dengan yang biasa dijumpai di warung-warung Tegal. Meski tidak setiap hari,  penulis cukup sering makan siang di warung itu.
Pemilik warung itu sebut saja namanya Pak Rahmat. Entah sejak kapan ia mulai berdagang di tempat itu. Yang jelas,  ia hampir selalu menyapa pelanggannya dengan sebutan khas, “Orang Muda”. Semua orang dipanggilnya demikian meski tentu ada yang usianya tidak muda lagi. Yang membuat penulis senang makan di warung itu adalah gaya Pak Rahmat yang ramah. Bila lama tidak berkunjung, ia selalu menjabat tangan penulis erat-erat, seraya berkata,  “Terima kasih, masih ingat dengan orang tua.” .
Bagaimanapun, tidak semua orang mempunyai kesan positif terhadap Pak Rahmat. Seorang pesuruh yang bekerja di sebelah kantor penulis bercerita tentang keluhan anak buah Pak Rahmat.  Menurutnya, Pak Rahmat suka marah dan kurang memperhatikan kesejahteraan karyawan.  Ia hanya ramah kepada pelanggan. Pesuruh itu tidak menjelaskan lebih lanjut perihal suka marah dan kesejahteraan yang “dianggap” kurang ini (kata “dianggap” sengaja penulis beri tanda kutip karena boleh jadi masalah kesejahteraan ini bersifat relatif).
Setelah mendengar cerita pesuruh itu, ingatan penulis lantas melayang ke sebuah novel yang pernah penulis baca. Novel itu berjudul Cinta di dalam Gelas, dikarang oleh Andrea Hirata yang terkenal dengan Laskar Pelangi-nya.  Dalam novel Cinta di dalam Gelas, dikisahkan Ikal, sang tokoh utama, yang bekerja di warung kopi milik pamannya. Sang paman bernama Kamhar. Di samping ikal, ada tiga orang karyawan yang juga bekerja di warung kopi milik  Kamhar, masing-masing bernama Midah, Hasanah, dan Rustam.
Paman Ikal adalah orang yang sangat cerewet dan suka marah. Marah sudah menjadi kesehariannya. Jangankan berbuat salah, berbuat benarpun anak buahnya tetap bisa kena semprot.  Meski demikian, Midah, Hasanah, dan Rustam tetap setia bekerja di warung kopi Kamhar. Mereka sudah bertahun-tahun kerja di sana. Padahal, mudah saja bagi mereka untuk pindah kerja, termasuk bekerja di warung kopi lain. Bahkan dengan pengalaman yang dimiliki, mereka mungkin bisa meminta gaji lebih tinggi di tempat lain. Inilah teka-teki yang ingin dipecahkan Ikal, yang belum lama bergabung dengan warung kopi milik sang paman.
Teka-teki terkuak saat sang paman harus meninggalkan warung kopi selama tiga hari untuk menghadiri pernikahan salah seorang anak sahabatnya.  Pada awalnya, Midah, Hasanah, dan Rustam merasa “merdeka”. Tak ada yang memarah-marahi mereka, paling tidak selama beberapa hari. `Namun hal ini tidak berlangsung lama. Perasaan kesepian mulai menghnggapi mereka. Kemarahan sang paman yang biasanya membuat hati jengkel,  saat itu justru mereka rindukan. Namun ternyata bukan hanya itu. Merekapun rindu terhadap kelemahlembutan dan kasih sayang paman saat ia sedang tidak marah.
Saat itu Ikal dan kawan-kawannya menyadari bahwa meski galak, sang paman adalah orang yang sangat mencintai profesinya sebagai pemilik warung kopi.  Ia mendidik anak buahnya untuk bangga terhadap pekerjaan mereka. Di samping itu, sang paman adalah orang yang jujur dan siap menjadi sahabat saat diperlukan. Ternyata, hal-hal inilah yang membuat Midah, Hasanah, dan Rustam betah bekerja dan tetap setia pada paman.

Apakah Pak Rahmat memiliki sifat-sifat yang sama dengan paman Ikal?Entahlah. Namun yang jelas, meski penting uang bukanlah segalanya yang membuat orang betah bekerja di sebuah tempat. Suasana kerja ternyata lebih penting. Termasuk didalamnya perlakuan yang adil dari pemimpin. Menghargai anak buah bila berprestasi dan memberi sanksi bila berbuat salah.  Keduanya harus diberikan secara seimbang. Tak kalah penting, pemimpin harus rajin turun ke bawah guna memahami sifat-sifat dan situasi yang dihadapi anak buahnya. Iapun harus pandai-pandai memotivasi anak buahnya. Bila kesemuanya ini dipenuhi, pengikut akan termotivasi untuk memberikan yang terbaik. Merekapun akan bangga menjadi bagian dari organisasi. 

Kamis, 31 Oktober 2013

Sang Legenda Setan Merah

Mereka yang menjadi sasaran kritik Sir Alex memberi reaksi beragam.  Beckham ingat saat Ferguson membantunya memulihkan kepercayaan diri yang runtuh pasca Piala Dunia 1998 di Perancis. “Di tengah kecaman publik Inggris, dia tak henti memotivasi dan mati-matian menyelamatkan karier saya. Sir Alex fantastis”, kata Beckham, yang membela MU  pada kurun waktu 1993-2003 sebelum hijrah ke Real Madrid. Rakyat Inggris marah lantaran Beckham menendang Diego Simeone, pemain Argentina, pada partai 16 Besar Piala Dunia 1998. Akibat ulahnya itu, Bechkam diganjar kartu merah. Partai itu dimenangkan Argentina, sehingga Inggris tersingkir dari arena Piala Dunia 1998.
Roy Keane menganggap mantan pelatihnya itu tak tahu berterima kasih. ”Gelimang gelar yang ia dapatkan adalah hasil keringat para pemain. Dia tak pantas berbicara seenaknya sendiri. Seolah-olah hanya dia yang paling benar”, kata Keane.
Kenny Dalglish, mantan pelatih Liverpool, mengatakan Sir Alex asal bicara lantaran menganggap Gerard bukan pemain hebat. Sedangkan Jamie Carragher, mantan pemain Liverpool, mengatakan Gerard beberapa kali menjadi penentu kemenagan tim, termasuk saat Liverpool menghadapi MU.
Namun agaknya kontroversi seputar otobiografi Ferguson tidak mengurangi statusnya sebagai salah satu manajer terbaik dalam sejarah. Selama 26 tahun berkarier sebagai manajer, ia berhasil membawa MU meraih 2 kali juara Liga Champions, 13 kali juara liga Inggris, dan 5 kali juara piala FA. Yang paling terkenal adalah tahun 1999 saat MU meraih “treble”, juara Liga Inggris, juara Piala FA, dan juara Piala Champions dalam satu musim kompetisi. Atas prestasinya ini, Ferguson dianugerahi gelar bangsawan “Sir”.
Apa rahasia kesuksesan Ferguson? Pertama, manajemen modern melalui penciptaan struktur organisasi berorientasi jangka panjang. Ia membangun “pusat keunggulan” bagi talenta-talenta muda. Hasilnya, lahirlah pemain-pemain sekelas David Beckham, Ryan Giggs, dan Paul Scholes  yang membawa MU meraih treble pada tahun 1999. Kedua, tidak terlena dengan kesuksesan. Ia berani memberikan kepercayaan kepada pemain-pemain muda. Di saat yang sama, ia bersedia melepas pemain-pemain yang masih bagus seraya tetap menjaga beberapa pemain veteran demi kontinuitas dan kelestarian budaya klub. Ketiga, kemampuan menyuntikkan motivasi ke dalam diri para pemain sehingga mereka pantang menyerah hingga akhir pertandingan. Keempat, memegang kendali penuh dan tak segan bertindak tegas terhadap pemain yang melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan, siapapun dia. Bahkasn seorang Roy Keane dan David Beckham, yang telah berjasa bagi tim,  harus rela ditendang lantaran dianggap bertindak melampaui batas. Kelima, paham bagaimana harus bersikap kepada setiap pemain seraya tetap mengutamakan kepentingan tim. Saat memutuskan untuk membangkucadangkan seorang pemain, Ferguson akan mendekati si pemain secara pribadi dan meyakinkan bahwa keputusannya hanyalah berkaitan dengan masalah taktik dan si pemain pasti akan diberikan kesempatan untuk tampil di partai-partai berikutnya. Ferguson yakin tidak boleh melakukan pendekatan yang sama untuk setiap pemain dalam setiap situasi. Ia tidak pernah memuji berlebihan. Jika pemain gagal memenuhi ekspektasi, ia akan mengungkapkannya tanpa menunda-nunda. Keenam, mendelegasikan tugas seraya tetap mengawasi dengan cermat dan berkala. Dan ketujuh, pandai menyesuaikan diri dengan perubahan.

Otobiografi Ferguson boleh saja kontroversial. Namun tak ada yang meragukan bahwa ia adalah legenda.

Senin, 14 Oktober 2013

Ilusi Pariwisata Nona Dunia

Pergelaran Miss World  2013 telah berakhir. Seperti diberitakan, acara ini menuai pro dan kontra. Pihak penyelenggara dan para pendukungnya yakin acara ini akan berdampak positif bagi Indonesia. Negeri ini akan lebih dikenal dunia. Wisatawan, terutama wisatawan asing,  akan berbondong-bondong datang berkunjjung. Hal-hal yang dianggap tidak sesuai dengan kondisi di Indonesia juga telah dihilangkan pada acara Miss World 2013. Sedangkan pihak yang kontra menganggap kontes ini tidak sesuai dengan budaya Indonesia dan bertentangan dengan norma-norma agama.
Tulisan ini tidak akan mengulas perdebatan seputar kontes Miss World 2013. Acara ini toh telah ditutup dan pemenangnya sudah diketahui. Tulisan ini akan mengulas anggapan bahwa penyelenggaraan kontes Miss World akan mendongkrak pariwisata Indonesia.
Benarkah anggapan ini? Pernyelenggaraan peristiwa-peristiwa bertaraf internasional semacam Miss World memang akan membuat nama sebuah negara lebih sering disebut. Selanjutnya, wisatawan akan mulai berdatangan guna mengetahui lebih lanjut objek-objek wisata yang menarik di negeri itu. Namun masih harus dilihat apakah para wisatawan ini akan kerasan tinggal lebih lama untuk kemudian kembali lagi suatu saat.
Membuat wisatawan merasa betah inilah yang diusahakan oleh banyak negara di dunia. Mereka berlomba-lomba menjadi yang terbaik. Faktor-faktor apa sajakah yang membuat wisatawan senang untuk tinggal lebih lama di sebuah negara?
Indeks daya saing pariwisata atau Travel and Tourism Competitiveness Index (TTCI) dapat menjawab pertanyaan ini.  TTCI mengukur faktor-faktor dan kebijakan-kebijakan yang membuat industri pariwisata di sebuah negara menarik, berkembang, dan berdaya saing tinggi. Pengukuran dilakukan terhadap 140 negara. TTCI diterbitkan oleh Forum Ekonomi Dunia atau World Economic Forum (WEF) setiap tahun sejak 2007. Berdasarkan TTCI, ada 14 faktor yang menentukan daya saing pariwisata sebuah negara, yaitu peraturan dan regulasi; kelestarian lingkungan; keselamatan dan keamanan; kesehatan; perhatian terhadap industri pariwisata; infrastruktur angkutan udara; infrastruktur angkutan darat; infrastruktur pariwisata; infrastruktur teknologi informasi dan telekomunikasi (TIK); daya saing harga dalam industri pariwisata; sumber daya manusia (SDM); keramahtamahan dan penerimaan penduduk lokal terhadap pariwisata; sumber daya alam; dan sumber daya budaya.  Masing-masing faktor ini kemudian dirinci lagi.
Berdasarkan data TTCI, Indonesia berada pada peringkat ke-70. Meski naik empat tingkat dibanding tahun sebelumnya, peringkat ini masih jauh di bawah negara-negara Asia lainnya. Di Asia, Singapura berada pada peringkat paling atas, yaitu ke-10, disusul Jepang (ke-14), Korea Selatan (ke-25), Malaysia (ke-34), Thailand (ke-43), China (ke-45), dan India (ke-66).
Menilik hasil TTCI, Indonesia hanya unggul dalam faktor harga, sumber daya alam, dan sumber daya budaya. Harga tiket, bahan bakar, dan hotel di Indonesia lebih murah dibanding banyak negara lain. Kekayaan alam Indonesia tidak perlu diragukan. Demikian halnya dengan kekayaan budaya. Aneka pameran dan pertunjukan kerap diadakan di tanah air. Industri kreatif juga semakin berkembang.
Sayangnya, keunggulan harga, sumber daya alam, dan sumber daya budaya Indonesia belum dimanfaatkan dengan optimal. Untuk faktor-faktor lainnya, Indonesia masih kedodoran.  Kelestarian lingkungan belum terjamin lantaran pembangunan objek-objek pariwisata masih kurang memperhatikan aspek lingkungan. Penegakkan hukum dalam lingkungan hidup masih lemah. Keamanan bagi para wisatawan masih memprihatinkan, lantaran kinerja aparat kemamanan masih belum optimal. Kesehatan juga menjadi isu. Akses terhadap layanan kesehatan, sanitasi, dan air bersih masih belum memadai. Akibatnya, wisatawan rentan terhadap penyakit.
Nasalah lainnya berkaitan dengan infrastruktur. Jumlah dan kualitas infrastruktur udara, jalan raya, jalan kereta api, dan pelabuhan masih kurang. Demikian pula halnya dengan infrastruktur teknologi informasi dan telekomunikasi (TIK)

Jadi, naif bila beranggapan Miss World akan mendongkrak pariwisata tanah air. 

Senin, 23 September 2013

Sama sekali tidak lucu

”Di usiaku saat ini... ee... ya twenty nine my age ya... tapi aku masih merindukan apresiasi karena basically aku seneng... seneng musik walaupun kontroversi hati. Aku lebih menyudutkan kepada konspirasi kemakmuran yang kita pilih.”
”Nggak... kita... kita belajar apa ya... harmonisasi dari hal terkecil sampai terbesar. Kupikir kita nggak boleh ego terhadap satu kepentingan dan kudeta apa yang kita menjadi keinginan ya. Dengan adanya hubungan ini bukan mempertakut, bukan mempersuram statusisasi kemakmuran keluarga gitu, tapi menjadi confident, tapi kita harus bisa mensiasati kecerdasan itu untuk labil ekonomi kita tetap lebih baik.”
Dua paragraf di atas adalah kata-kata yang diucapkan Vicky Prasetyo dalam wawancara yang disiarkan sebuah acara berita hiburan di televisi. Entah siapa orang ini. Yang jelas, ucapannya itu telah membuat banyak orang tertawa terpingkal-pingkal. Ia pun sontak menjadi bahan omongan selama berhari-hari.
Penulis telah melihat wawancara itu melalui Youtube dan termasuk orang yang sama sekali tidak tertawa saat mendengarnya. Mengapa? Karena memang sama sekali tidak lucu.  Silahkan bilang selera humor penulis rendah, penulis terlalu serius, dan sebagainya. Tanggapan penulis: si Vicky Prasetyo ini telah memberikan contoh yang sangat buruk. Penulis bahkan benci bila ada orang yang meniru-niru gaya bicara dan bahasanya.
Contoh buruk apa yang disajikan Vicky?Yang paling utama adalah dalam hal  berbahasa. Apa ide dan pesan yang  ingin disampaikan Vicky kepada pendengar? Agar penerima dapat memahami dengan tepat pesan yang ingin disampaikan, maka menurut Solihati dan Hikmat (2013: 44), pesan itu harus disampaikan dalam bentuk kalimat yang baik, ditandai dengan struktur yang benar, pilihan kata yang tepat, hubungan antarbagian yang logis, dan ejaan yang benar. Kesemua syarat itu tidak ditemukan dalam kalimat-kalimat yang diucapkan Vicky. Misalnya dalam struktur kalimat. Tidak jelas kata atau gabungan kata yang menjadi subjek, predikat, objek, keterangan, dan pelengkap kalimat. Jangan tanya soal pilihan kata. Apakah arti dari kontroversi hati, konspirasi kemakmuran, statusisasi kemakmuran, dan juga labil ekonomi? Penggunaan kata ego dalam percakapan di atas juga salah. Seharusnya egois, bukan ego.
Ucapan Vicky Prasetyo, yang mencampuradukan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris, mencerminkan inferioritas berbahasa. Inilah contoh buruk berikutnya. Banyak orang lebih bangga menggunakan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, ketimbang bahasa Indonesia lantaran menganggap bahasa Inggris lebih keren dan lebih bergengsi. Bila ada orang yang bagus bahasa Inggrisnya, ia mendapat pujian. Namun jarang ada yang mengapresiasi bila seseorang dapat  berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.  Penyakit menganggap bahasa Inggris lebih keren dan lebih bergengsi ini telah menjangkiti banyak orang, termasuk mereka yang kemampuan bahasa Inggrisnya pas-pasan. Agar dianggap intelek, berlomba-lombalah mereka berbicara dalam bahasa Inggris meski tata bahasanya amburadul dan perbendaharaan katanya terbatas. Akibatnya, tidak jelaslah pesan yang ingin disampaikan. Jangan tanya apakah mereka pernah membuka kamus bahasa atau tidak. Bukankah minat baca rata-rata masyarakat kita masih rendah?
Apa yang diucapkan Vicky menjadi contoh kemalasan berbahasa. Artinya? Orang lebih senang menggunakan kata-kata dalam bahasa asing (baca: Inggris), padahal kata-kata itu ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Sebagai contoh, orang lebih senang menggunakan istilah website ketimbang laman, handphone ketimbang telepon genggam, update ketimbang memperbarui, workshop ketimbang sanggar kerja (barangkali bahkan tidak banyak yang pernah mendengar istilah ini),  dan code of conduct ketimbang kode tata berperilaku. Masih banyak lagi kata-kata lainnya. Dalam kasus Vicky, mengapa menggunakan kata basically  jika dapat diganti dengan pada dasarnya? Mengapa menggunakan kata confident jika dapat diganti dengan percaya?

Kata-kata Vicky bukanlah lelucon. Lelucon yang baik seharusnya membuat orang menjadi semakin cerdas. Sebuah lelucon tidak boleh membuat orang merasa terhibur dengan hal-hal yang jelas-jelas salah. 

Minggu, 25 Agustus 2013

Ayo Nikmati Kemacetan

Saat  tulisan ini dibuat, liburan hari raya Idul fitri telah berakhir. Para pemudik telah kembali dari kampung halaman mereka.  Aktivitas kerja dan sekolah dimulai kembali.  Hal ini berarti situasi lalu lintas di Jakarta kembali normal.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), normal berarti menurut pola yang umum, sesuai dengan keadaan yang biasa. Kita pasti sama-sama maklum, situasi lalu lintas di Jakarta identik dengan kemacetan, terutama saat orang beramai-ramai berangkat dan pulang ke dan dari tempat beraktivitas. Jadi kemacetan lalu lintas di Jakarta adalah sesuatu yang normal, terlepas suka atau tidak suka. Kalau lalu lintas di Jakarta tidak macet, berarti ibu kota negara tercinta ini tidak normal.
Masalah kemacetan di Jakarta memang kronis. Penyebabnya bermacam-macam, mulai dari tidak seimbangnya pertumbuhan panjang jalan dengan pertumbuhan jumlah kendaraan, buruknya kondisi transportasi umum sehingga orang lebih senang menggunakan kendaraan pribadi, rendahnya disiplin berlalu lintas pengguna jalan, hingga kurangnya penegakan hukum terhadap para pelanggar peraturan lalu lintas.
Berdasarkan hasil penelitian Study on Integrated Transportarion Master Plan II 2004, kerugian yang ditimbulkan oleh kemacetan di Jakarta berjumlah lebih kurang 12,8 Triliun Rupiah. Menurut perkiraan Direktur Utama PT MRT Jakarta Dono Boestami,  bila sistem transportasi tidak diperbaiki, pada tahun 2020, kerugian akibat kemacetan dapat melonjak hingga 65 Triliun Rupiah.  Belum lagi kerugian dari sisi non keuangan, semisal dari sisi psikologis. Kemacetan tentu menimbulkan stres. Waktu pun banyak yang terbuang sia-sia.
Tulisan ini tidak akan mengulas tentang bagaimana mengatasi kemacetan. Sudah terlalu banyak pakar yang membahasnya. Tulisan ini akan mengulas masalah kemacetan ditinjau dari sisi masyarakat awam pengguna jalan. Kita memang acap tidak bisa menghindari kemacetan. Namun ketimbang hanya mengomel dan mengeluh, ada baiknya kita ingat sebuah ungkapan: ketimbang hanya mengutuki kegelapan, lebih baik kita mulai menyalakan lilin sehingga ada seberkas cahaya yang dapat dimanfaatkan untuk mencari jalan keluar.  Ketimbang marah-marah karena macet, ada baiknya kita memikirkan apa yang dapat kita lakukan tatkala terjebak kemacetan.
Bagi pengemudi kendaraan, barangkali tidak banyak yang bisa dilakukan lantaran harus berkonsentrasi mengamati lalu lintas. Yang paling mungkin dilakukan adalah mendengarkan radio.  Di tengah-tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), siaran radio tidak pernah mati. Agaknya, hal ini lantaran orang dapat mendengarkan siaran radio sambil lalu. Berbeda halnya dengan membaca surat kabar, menonton televisi, atau mengamati layar komputer yang harus dilakukan dengan lebih fokus.
Bagi para penumpang kendaraan, baik umum maupun pribadi, membaca buku, koran, atau majalah adalah salah satu kegiatan yang dapat dilakukan di tengah-tengah kemacetan. Hal ini agaknya perlu digalakkan mengingat masih rendahnya minat baca masyarakat Indonesia.
Seiring maraknya laman-laman jejaring sosial, banyak penumpang kendaraan yang memperbarui statusnya saat terjebak kemacetan. Hal ini tidak mengherankan mengingat Indonesia tercatat sebagai salah satu negara pengguna Facebook dan Twitter terbesar di dunia.
Mengamati lingkungan sekitar tatkala terjebak kemacetan sungguh bermanfaat. Banyak hal yang bisa dijadikan objek pengamatan, semisal perilaku pengguna kendaraan dan/atau pejalan kaki di tengah-tengah kemacetan, perilaku para pedagang asongan atau yang berjualan di pinggir jalan, atau bangunan-bangunan di sepanjang jalan.  Hasil pengamatan ini dapat kita jadikan pelajaran.
Bagi yang kelelahan selepas menjalankan aktivitas sepanjang hari, tidur barangkali bisa menjadi pilihan di tengah-tengah kemacetan. Namun bagi pengguna kendaraan umum seperti bus atau kereta api (KA), waspadalah. Jangan sampai barang-barang berharga dicuri orang tatkala kita sedang lelap tertidur.
Selalu ada kemudahan di balik setiap kesulitan, termasuk saat kita terjebak dalam kemacetan. Banyak hal-hal positif yang bisa dilakukan. Hal-hal yang disebutkan di atas hanyalah beberapa diantaranya. Yang terpenting, jangan tergoda untuk melanggar norma-norma yang berlaku. 

Rabu, 07 Agustus 2013

Merengek-rengek

Beberapa hari lalu, seorang rekan penulis mengemukakan pendapatnya di jejaring sosial Facebook tentang puasa. Menurutnya, kita hendaknya tidak memaksa orang yang tidak berpuasa untuk menghormati orang yang berpuasa. Justru dengan berpuasa kita berlatih menghadapi orang-orang yang tidak berpuasa itu. Lantas bagaimana jika orang yang berpuasa itu hidup di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas tidak berpuasa lantaran berbeda keyakinan? Apakah kita akan menganggap mereka tidak menghormati kita?
Setelah membaca status teman itu, penulis merasa terinspirasi untuk berbagi pengalaman pribadi penulis yang berkesan tentang puasa. Pengalaman pertama yang ingin penulis bagi terjadi beberapa tahun lalu. Saat itu Jakarta baru saja diguncang gempa dan penulis masih berada di tempat kerja, tepatnya di sebuah gedung di kawasan Sudirman. Khawatir terjadi gempa susulan, penulis pergi keluar gedung bersama rekan-rekan yang lain. Setelah mengobrol sebentar, salah seorang rekan mengajak kami untuk duduk-duduk di tenda penjual aneka makanan di depan gedung. Penulis menerima ajakan itu. Namun karena saat itu bulan Puasa, penulis tidak memesan makanan dan minuman apapun. Sedangkan rekan-rekan penulis yang non muslim tetap memesan makanan atau minuman. Seraya menikmati minuman, salah seorang dari mereka berkata, “Maaf ya, Har!” “Ah tidak apa-apa.”, sahut penulis singkat. Segera penulis mengalihkan topik pembicaraan.
Bagaimana perasaan penulis saat itu? Marahkah? Atau mungkin tergiur untuk ikut memesan makanan atau minuman? Sama sekali tidak. Sebaliknya, penulis justru merasa bangga. Bangga lantaran agama penulis mensyariatkan ajaran puasa yang begitu indah, yang manfaatnya bagi kesehatan fisik dan mental sungguh luar biasa. Meski harus menahan lapar dan haus selama lebih kurang 13 jam, namun dijamin tidak mengganggu mekanisme bekerjanya tubuh. Apatah lagi bila puasa ini didorong oleh niat yang tulus. Inilah bukti keagungan Yang Maha Kuasa.  Seorang ustaz pernah mengatakan di dunia ini banyak orang yang mati kelaparan, namun belum pernah ada orang yang mati karena puasa.
Pengalaman berikutnya terjadi pada bulan Puasa tahun 1434 H ini. Beberapa hari lalu, beberapa rekan penulis mengatakan bahwa mereka sedang tidak berpuasa. Padahal penulis tahu mereka sedang tidak berhalangan. Mirisnya, mereka melakukannya seolah-olah tanpa rasa bersalah sedikitpun dan menggoda-goda orang lain, termasuk penulis. Salah seorang dari mereka berkata. “Sabar ya, Har!”. Syukurlah hati penulis tidak tergoda. Penulis hanya menggumam. Dalam hati penulis merasa kasihan dengan mereka. Apatah lagi ada di antara mereka yang telah memiliki anak. Bagaimana jika anak-anak melihat orang tua mereka tidak berpuasa dengan alasan yang tidak benar? Lucunya lagi, ada yang mengatakan bahwa suaminya tidak tahu bahwa dirinya tidak berpuasa. Penulis hanya berdoa semoga mereka segera sadar.
Di samping kedua pengalaman di atas, penulis mendapat informasi dari berbagai sumber tentang lamanya waktu berpuasa  tahun ini bagi orang-orang Muslim yang tinggal di wilayah Timur Tengah dan Eropa. Sebagai contoh, di Mesir kaum Muslim harus berpuasa sekitar 16 jam. Di Eropa bahkan lebih lama. Di Inggris dan Belanda, misalnya, kaum Muslim harus berpuasa selama 17-18 jam. Perbedaan durasi berpuasa ini lantaran tidak lurusnya perputaran bumi mengelilingi matahari. Meski demikian, panjangnya waktu berpuasa ini sama sekali tidak mematahkan semangat kaum Muslim untuk menjalankan rukun Islam keempat itu. Bahkan ada atlet-atlet Muslim di Eropa yang tetap bertekad menjalankan ibadah puasa meski sudah ada fatwa yang membolehkan mereka untuk tidak melakukannya.
Berdasarkan pengalaman dan informasi itu, penulis semakin yakin bahwa ibadah puasa sangat erat kaitannya dengan iman. Iman artinya keyakinan dan kepercayaan kepada Tuhan. Juga berarti ketetapan hati. Semakin kuat iman seseorang, semakin sulit ia tergoda untuk tidak menjalankan perintah Tuhan. Ia tak peduli ada tidaknya himbauan untuk menghormati orang yang berpuasa. Meski ada gembar-gembor untuk menghormati orang berpuasa, namun orang yang kurang kuat imannya tetap saja mudah tergelincir. Jadi masih perlukah kita yang berpuasa merengek-rengek minta dihormati?