Beberapa
hari lalu, seorang rekan penulis mengemukakan pendapatnya di jejaring sosial Facebook tentang puasa. Menurutnya, kita
hendaknya tidak memaksa orang yang tidak berpuasa untuk menghormati orang yang
berpuasa. Justru dengan berpuasa kita berlatih menghadapi orang-orang yang
tidak berpuasa itu. Lantas bagaimana jika orang yang berpuasa itu hidup di
tengah-tengah masyarakat yang mayoritas tidak berpuasa lantaran berbeda
keyakinan? Apakah kita akan menganggap mereka tidak menghormati kita?
Setelah membaca status teman itu, penulis merasa terinspirasi untuk berbagi pengalaman pribadi penulis yang berkesan tentang puasa. Pengalaman pertama yang ingin penulis bagi terjadi beberapa tahun lalu. Saat itu Jakarta baru saja diguncang gempa dan penulis masih berada di tempat kerja, tepatnya di sebuah gedung di kawasan Sudirman. Khawatir terjadi gempa susulan, penulis pergi keluar gedung bersama rekan-rekan yang lain. Setelah mengobrol sebentar, salah seorang rekan mengajak kami untuk duduk-duduk di tenda penjual aneka makanan di depan gedung. Penulis menerima ajakan itu. Namun karena saat itu bulan Puasa, penulis tidak memesan makanan dan minuman apapun. Sedangkan rekan-rekan penulis yang non muslim tetap memesan makanan atau minuman. Seraya menikmati minuman, salah seorang dari mereka berkata, “Maaf ya, Har!” “Ah tidak apa-apa.”, sahut penulis singkat. Segera penulis mengalihkan topik pembicaraan.
Bagaimana perasaan penulis saat itu? Marahkah? Atau mungkin tergiur untuk ikut memesan makanan atau minuman? Sama sekali tidak. Sebaliknya, penulis justru merasa bangga. Bangga lantaran agama penulis mensyariatkan ajaran puasa yang begitu indah, yang manfaatnya bagi kesehatan fisik dan mental sungguh luar biasa. Meski harus menahan lapar dan haus selama lebih kurang 13 jam, namun dijamin tidak mengganggu mekanisme bekerjanya tubuh. Apatah lagi bila puasa ini didorong oleh niat yang tulus. Inilah bukti keagungan Yang Maha Kuasa. Seorang ustaz pernah mengatakan di dunia ini banyak orang yang mati kelaparan, namun belum pernah ada orang yang mati karena puasa.
Setelah membaca status teman itu, penulis merasa terinspirasi untuk berbagi pengalaman pribadi penulis yang berkesan tentang puasa. Pengalaman pertama yang ingin penulis bagi terjadi beberapa tahun lalu. Saat itu Jakarta baru saja diguncang gempa dan penulis masih berada di tempat kerja, tepatnya di sebuah gedung di kawasan Sudirman. Khawatir terjadi gempa susulan, penulis pergi keluar gedung bersama rekan-rekan yang lain. Setelah mengobrol sebentar, salah seorang rekan mengajak kami untuk duduk-duduk di tenda penjual aneka makanan di depan gedung. Penulis menerima ajakan itu. Namun karena saat itu bulan Puasa, penulis tidak memesan makanan dan minuman apapun. Sedangkan rekan-rekan penulis yang non muslim tetap memesan makanan atau minuman. Seraya menikmati minuman, salah seorang dari mereka berkata, “Maaf ya, Har!” “Ah tidak apa-apa.”, sahut penulis singkat. Segera penulis mengalihkan topik pembicaraan.
Bagaimana perasaan penulis saat itu? Marahkah? Atau mungkin tergiur untuk ikut memesan makanan atau minuman? Sama sekali tidak. Sebaliknya, penulis justru merasa bangga. Bangga lantaran agama penulis mensyariatkan ajaran puasa yang begitu indah, yang manfaatnya bagi kesehatan fisik dan mental sungguh luar biasa. Meski harus menahan lapar dan haus selama lebih kurang 13 jam, namun dijamin tidak mengganggu mekanisme bekerjanya tubuh. Apatah lagi bila puasa ini didorong oleh niat yang tulus. Inilah bukti keagungan Yang Maha Kuasa. Seorang ustaz pernah mengatakan di dunia ini banyak orang yang mati kelaparan, namun belum pernah ada orang yang mati karena puasa.
Pengalaman
berikutnya terjadi pada bulan Puasa tahun 1434 H ini. Beberapa hari lalu,
beberapa rekan penulis mengatakan bahwa mereka sedang tidak berpuasa. Padahal
penulis tahu mereka sedang tidak berhalangan. Mirisnya, mereka melakukannya
seolah-olah tanpa rasa bersalah sedikitpun dan menggoda-goda orang lain,
termasuk penulis. Salah seorang dari mereka berkata. “Sabar ya, Har!”.
Syukurlah hati penulis tidak tergoda. Penulis hanya menggumam. Dalam hati
penulis merasa kasihan dengan mereka. Apatah lagi ada di antara mereka yang
telah memiliki anak. Bagaimana jika anak-anak melihat orang tua mereka tidak
berpuasa dengan alasan yang tidak benar? Lucunya lagi, ada yang mengatakan bahwa
suaminya tidak tahu bahwa dirinya tidak berpuasa. Penulis hanya berdoa semoga
mereka segera sadar.
Di
samping kedua pengalaman di atas, penulis mendapat informasi dari berbagai
sumber tentang lamanya waktu berpuasa
tahun ini bagi orang-orang Muslim yang tinggal di wilayah Timur Tengah
dan Eropa. Sebagai contoh, di Mesir kaum Muslim harus berpuasa sekitar 16 jam.
Di Eropa bahkan lebih lama. Di Inggris dan Belanda, misalnya, kaum Muslim harus
berpuasa selama 17-18 jam. Perbedaan durasi berpuasa ini lantaran tidak
lurusnya perputaran bumi mengelilingi matahari. Meski demikian, panjangnya
waktu berpuasa ini sama sekali tidak mematahkan semangat kaum Muslim untuk
menjalankan rukun Islam keempat itu. Bahkan ada atlet-atlet Muslim di Eropa
yang tetap bertekad menjalankan ibadah puasa meski sudah ada fatwa yang
membolehkan mereka untuk tidak melakukannya.
Berdasarkan
pengalaman dan informasi itu, penulis semakin yakin bahwa ibadah puasa sangat
erat kaitannya dengan iman. Iman artinya keyakinan dan kepercayaan kepada Tuhan.
Juga berarti ketetapan hati. Semakin kuat iman seseorang, semakin sulit ia
tergoda untuk tidak menjalankan perintah Tuhan. Ia tak peduli ada tidaknya
himbauan untuk menghormati orang yang berpuasa. Meski ada gembar-gembor untuk
menghormati orang berpuasa, namun orang yang kurang kuat imannya tetap saja mudah
tergelincir. Jadi masih perlukah kita yang berpuasa merengek-rengek minta
dihormati?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar