Minggu, 25 Agustus 2013

Ayo Nikmati Kemacetan

Saat  tulisan ini dibuat, liburan hari raya Idul fitri telah berakhir. Para pemudik telah kembali dari kampung halaman mereka.  Aktivitas kerja dan sekolah dimulai kembali.  Hal ini berarti situasi lalu lintas di Jakarta kembali normal.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), normal berarti menurut pola yang umum, sesuai dengan keadaan yang biasa. Kita pasti sama-sama maklum, situasi lalu lintas di Jakarta identik dengan kemacetan, terutama saat orang beramai-ramai berangkat dan pulang ke dan dari tempat beraktivitas. Jadi kemacetan lalu lintas di Jakarta adalah sesuatu yang normal, terlepas suka atau tidak suka. Kalau lalu lintas di Jakarta tidak macet, berarti ibu kota negara tercinta ini tidak normal.
Masalah kemacetan di Jakarta memang kronis. Penyebabnya bermacam-macam, mulai dari tidak seimbangnya pertumbuhan panjang jalan dengan pertumbuhan jumlah kendaraan, buruknya kondisi transportasi umum sehingga orang lebih senang menggunakan kendaraan pribadi, rendahnya disiplin berlalu lintas pengguna jalan, hingga kurangnya penegakan hukum terhadap para pelanggar peraturan lalu lintas.
Berdasarkan hasil penelitian Study on Integrated Transportarion Master Plan II 2004, kerugian yang ditimbulkan oleh kemacetan di Jakarta berjumlah lebih kurang 12,8 Triliun Rupiah. Menurut perkiraan Direktur Utama PT MRT Jakarta Dono Boestami,  bila sistem transportasi tidak diperbaiki, pada tahun 2020, kerugian akibat kemacetan dapat melonjak hingga 65 Triliun Rupiah.  Belum lagi kerugian dari sisi non keuangan, semisal dari sisi psikologis. Kemacetan tentu menimbulkan stres. Waktu pun banyak yang terbuang sia-sia.
Tulisan ini tidak akan mengulas tentang bagaimana mengatasi kemacetan. Sudah terlalu banyak pakar yang membahasnya. Tulisan ini akan mengulas masalah kemacetan ditinjau dari sisi masyarakat awam pengguna jalan. Kita memang acap tidak bisa menghindari kemacetan. Namun ketimbang hanya mengomel dan mengeluh, ada baiknya kita ingat sebuah ungkapan: ketimbang hanya mengutuki kegelapan, lebih baik kita mulai menyalakan lilin sehingga ada seberkas cahaya yang dapat dimanfaatkan untuk mencari jalan keluar.  Ketimbang marah-marah karena macet, ada baiknya kita memikirkan apa yang dapat kita lakukan tatkala terjebak kemacetan.
Bagi pengemudi kendaraan, barangkali tidak banyak yang bisa dilakukan lantaran harus berkonsentrasi mengamati lalu lintas. Yang paling mungkin dilakukan adalah mendengarkan radio.  Di tengah-tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), siaran radio tidak pernah mati. Agaknya, hal ini lantaran orang dapat mendengarkan siaran radio sambil lalu. Berbeda halnya dengan membaca surat kabar, menonton televisi, atau mengamati layar komputer yang harus dilakukan dengan lebih fokus.
Bagi para penumpang kendaraan, baik umum maupun pribadi, membaca buku, koran, atau majalah adalah salah satu kegiatan yang dapat dilakukan di tengah-tengah kemacetan. Hal ini agaknya perlu digalakkan mengingat masih rendahnya minat baca masyarakat Indonesia.
Seiring maraknya laman-laman jejaring sosial, banyak penumpang kendaraan yang memperbarui statusnya saat terjebak kemacetan. Hal ini tidak mengherankan mengingat Indonesia tercatat sebagai salah satu negara pengguna Facebook dan Twitter terbesar di dunia.
Mengamati lingkungan sekitar tatkala terjebak kemacetan sungguh bermanfaat. Banyak hal yang bisa dijadikan objek pengamatan, semisal perilaku pengguna kendaraan dan/atau pejalan kaki di tengah-tengah kemacetan, perilaku para pedagang asongan atau yang berjualan di pinggir jalan, atau bangunan-bangunan di sepanjang jalan.  Hasil pengamatan ini dapat kita jadikan pelajaran.
Bagi yang kelelahan selepas menjalankan aktivitas sepanjang hari, tidur barangkali bisa menjadi pilihan di tengah-tengah kemacetan. Namun bagi pengguna kendaraan umum seperti bus atau kereta api (KA), waspadalah. Jangan sampai barang-barang berharga dicuri orang tatkala kita sedang lelap tertidur.
Selalu ada kemudahan di balik setiap kesulitan, termasuk saat kita terjebak dalam kemacetan. Banyak hal-hal positif yang bisa dilakukan. Hal-hal yang disebutkan di atas hanyalah beberapa diantaranya. Yang terpenting, jangan tergoda untuk melanggar norma-norma yang berlaku. 

Rabu, 07 Agustus 2013

Merengek-rengek

Beberapa hari lalu, seorang rekan penulis mengemukakan pendapatnya di jejaring sosial Facebook tentang puasa. Menurutnya, kita hendaknya tidak memaksa orang yang tidak berpuasa untuk menghormati orang yang berpuasa. Justru dengan berpuasa kita berlatih menghadapi orang-orang yang tidak berpuasa itu. Lantas bagaimana jika orang yang berpuasa itu hidup di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas tidak berpuasa lantaran berbeda keyakinan? Apakah kita akan menganggap mereka tidak menghormati kita?
Setelah membaca status teman itu, penulis merasa terinspirasi untuk berbagi pengalaman pribadi penulis yang berkesan tentang puasa. Pengalaman pertama yang ingin penulis bagi terjadi beberapa tahun lalu. Saat itu Jakarta baru saja diguncang gempa dan penulis masih berada di tempat kerja, tepatnya di sebuah gedung di kawasan Sudirman. Khawatir terjadi gempa susulan, penulis pergi keluar gedung bersama rekan-rekan yang lain. Setelah mengobrol sebentar, salah seorang rekan mengajak kami untuk duduk-duduk di tenda penjual aneka makanan di depan gedung. Penulis menerima ajakan itu. Namun karena saat itu bulan Puasa, penulis tidak memesan makanan dan minuman apapun. Sedangkan rekan-rekan penulis yang non muslim tetap memesan makanan atau minuman. Seraya menikmati minuman, salah seorang dari mereka berkata, “Maaf ya, Har!” “Ah tidak apa-apa.”, sahut penulis singkat. Segera penulis mengalihkan topik pembicaraan.
Bagaimana perasaan penulis saat itu? Marahkah? Atau mungkin tergiur untuk ikut memesan makanan atau minuman? Sama sekali tidak. Sebaliknya, penulis justru merasa bangga. Bangga lantaran agama penulis mensyariatkan ajaran puasa yang begitu indah, yang manfaatnya bagi kesehatan fisik dan mental sungguh luar biasa. Meski harus menahan lapar dan haus selama lebih kurang 13 jam, namun dijamin tidak mengganggu mekanisme bekerjanya tubuh. Apatah lagi bila puasa ini didorong oleh niat yang tulus. Inilah bukti keagungan Yang Maha Kuasa.  Seorang ustaz pernah mengatakan di dunia ini banyak orang yang mati kelaparan, namun belum pernah ada orang yang mati karena puasa.
Pengalaman berikutnya terjadi pada bulan Puasa tahun 1434 H ini. Beberapa hari lalu, beberapa rekan penulis mengatakan bahwa mereka sedang tidak berpuasa. Padahal penulis tahu mereka sedang tidak berhalangan. Mirisnya, mereka melakukannya seolah-olah tanpa rasa bersalah sedikitpun dan menggoda-goda orang lain, termasuk penulis. Salah seorang dari mereka berkata. “Sabar ya, Har!”. Syukurlah hati penulis tidak tergoda. Penulis hanya menggumam. Dalam hati penulis merasa kasihan dengan mereka. Apatah lagi ada di antara mereka yang telah memiliki anak. Bagaimana jika anak-anak melihat orang tua mereka tidak berpuasa dengan alasan yang tidak benar? Lucunya lagi, ada yang mengatakan bahwa suaminya tidak tahu bahwa dirinya tidak berpuasa. Penulis hanya berdoa semoga mereka segera sadar.
Di samping kedua pengalaman di atas, penulis mendapat informasi dari berbagai sumber tentang lamanya waktu berpuasa  tahun ini bagi orang-orang Muslim yang tinggal di wilayah Timur Tengah dan Eropa. Sebagai contoh, di Mesir kaum Muslim harus berpuasa sekitar 16 jam. Di Eropa bahkan lebih lama. Di Inggris dan Belanda, misalnya, kaum Muslim harus berpuasa selama 17-18 jam. Perbedaan durasi berpuasa ini lantaran tidak lurusnya perputaran bumi mengelilingi matahari. Meski demikian, panjangnya waktu berpuasa ini sama sekali tidak mematahkan semangat kaum Muslim untuk menjalankan rukun Islam keempat itu. Bahkan ada atlet-atlet Muslim di Eropa yang tetap bertekad menjalankan ibadah puasa meski sudah ada fatwa yang membolehkan mereka untuk tidak melakukannya.
Berdasarkan pengalaman dan informasi itu, penulis semakin yakin bahwa ibadah puasa sangat erat kaitannya dengan iman. Iman artinya keyakinan dan kepercayaan kepada Tuhan. Juga berarti ketetapan hati. Semakin kuat iman seseorang, semakin sulit ia tergoda untuk tidak menjalankan perintah Tuhan. Ia tak peduli ada tidaknya himbauan untuk menghormati orang yang berpuasa. Meski ada gembar-gembor untuk menghormati orang berpuasa, namun orang yang kurang kuat imannya tetap saja mudah tergelincir. Jadi masih perlukah kita yang berpuasa merengek-rengek minta dihormati?    

Sabtu, 13 Juli 2013

Sebelum Mengincar Promosi Jabatan


Seorang sanak saudara, yang bekerja sebagai penyelia penjualan di sebuah perusahaan otomotif terkemuka, pernah mengatakan kepada penulis, “Saat masih menjadi staf penjualan, saya cukup memikirkan kinerja saya sendiri tanpa harus mempedulikan pencapaian orang lain. Namun saat menjadi penyelia  penjualan, di samping memikirkan prestasi pribadi, saya juga harus peduli terhadap kinerja bawahan saya. Saya harus memastikan mereka mencapai target yang ditetapkan. Jika bawahan gagal, sayalah yang harus bertanggung jawab”.
Apakah saudara penulis itu memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk menjadi seorang penyelia? Terus terang penulis tidak bisa menjawabnya karena belum pernah mengamati dari dekat. Namun satu hal yang pasti, sukses sebagai penjual tidak menjamin seseorang dapat menjadi penyelia yang baik meski saat menjadi penjual ia mampu menggapai prestasi yang fenomenal.  Demikian juga dengan seorang akuntan yang sukses. Banyak yang jeblok prestasi kerjanya saat diangkat menjadi penyelia keuangan. Daftar ini masih bisa diperpanjang. Seorang guru belum tentu mampu menjadi kepala sekolah yang baik. Demikian pula halnya seorang wartawan saat menjadi pemimpin redaksi sebuah surat kabar atau majalah. Dalam dunia olahraga, seorang pesepakbola yang sukses belum tentu mampu menjadi pelatih yang hebat. Diego Maradona dan Michel Platini adalah contoh pemain hebat yang gagal saat menjadi pelatih. Hanya segelintir yang mampu melakukannya. Contohnya adalah Franz Beckenbauer. Ia sukses membawa Jerman menjadi juara dunia, baik sebagai pemain maupun sebagai pelatih. Iapun sukses saat menjadi Presiden klub Bayern Muenchen dan saat menjadi ketua panitia Piala Dunia 2006 di Jerman. Namun sekali lagi, Beckenbauer adalah contoh langka.
Mengapa ini bisa terjadi? Semakin tinggi posisi seseorang dalam organisasi, semakin tinggi keterampilan manajemen yang disyaratkan. Keterampilan manajemen adalah kemampuan memahami, mengembangkan, dan menggerakkan orang lain beserta keterampilan yang mereka miliki. Robert Katz mengemukakan tiga keterampilan manajemen yang harus dimiliki seorang manajer agar sukses menjalankan tugasnya, yaitu keterampilan teknis, keterampilan manusia, dan keterampilan konseptual. Keterampilan teknis berkaitan dengan pengetahuan dan penguasaan teknis pekerjaan  yang ditekuni. Contohnya, seorang manajer produksi harus memahami dengan detail proses produksi barang. Keterampilan manusia berkaitan dengan kemampuan berinteraksi secara efektif dengan orang lain. Sedangkan keterampilan konseptual berkaitan dengan perumusan gagasan. Meski manajer harus memiliki ketiga keterampilan tersebut, namun derajat kepentingan kepemilikannya berbeda-beda, sesuai dengan tinggi rendahnya posisi. Sebagai contoh, manajer puncak harus memiliki keterampilan konseptual yang tinggi. Tidak masalah bila keterampilan teknisnya biasa-biasa saja. Sebaliknya, bagi seorang manajer lini pertama, keterampilan teknis harus menjadi prioritas. Ia tidak  dituntut untuk memiliki keterampilan konseptual di atas rata-rata. Satu hal yang jelas, keterampilan manusia wajib dimiliki oleh setiap manajer, apapun tingkatannya.
Di samping keterampilan manajemen, yang juga perlu diingat adalah keterbatasan. Dalam kariernya, seseorang boleh saja berambisi menduduki jabatan tertinggi. Namun ada tingkat jabatan yang bila seseorang memasukinya, ia tidak cakap lagi menjalankan tugasnya. Inilah yang dikenal dengan Prinsip Peter (The Peter Principle). Prinsip ini berlaku dengan catatan seseorang dipromosikan lantaran faktor prestasi dan keahliannya, bukan karena faktor lain. Seorang rekan penulis bercerita tentang temannya yang sukses sebagai Direktur Penjualan sebuah perusahaan barang konsumsi (consumer goods). Sebut saja namanya Adi. Dalam struktur organisasi perusahaan itu, Direktur Penjualan berada di bawah Direktur Pemasaran. Saat Direktur Pemasaran yang lama mengundurkan diri, Adi langsung ditunjuk sebagai penggantinya lantaran manajemen puncak terkesan dengan prestasinya selama menjabat sebagai Direkttur Penjualan. Namun apa yang terjadi? Prestasi Adi tidak segemilang saat menjabat sebagai Direktur Penjualan. Penyebabnya? Menjadii Direktur Pemasaran mensyaratkan keterampilan konseptual yang tinggi, sesuatu yang ternyata kurang dimiliki oleh Adi.
Jadi pertimbangkanlah keterampilan manajemen dan keterbatasan-keterbatasan anda sebelum promosi.

Kamis, 30 Mei 2013

Giliran



“To everything turn turn turn”
“There is a season turn turn turn”

Penggemar sepak bola minggu lalu melepas dua bintang yang telah memberi warna tersendiri pada olahraga paling populer sejagat itu. Pertama adalah Sir Alex Ferguson, yang memutuskan pensiun sebagai pelatih dan manajer Manchester United (MU) setelah 26 tahun. Selama masa kepemimpinannya, MU berhasil meraih 2 kali juara Liga Champions, 13 kali juara liga Inggris, dan 5 kali juara piala FA. Yang paling terkenal adalah tahun 1999 saat MU meraih “treble”, juara liga Inggris, juara piala FA, dan Piala Champions dalam satu musim kompetisi. Atas prestasinya ini, Ferguson dianugerahi gelar bangsawan “Sir”. Catatan lain yang perlu ditambahkan adalah konsistensi prestasi MU selama kepemimpinan Ferguson. Meski tidak selalu menjadi juara, prestasi MU tidak pernah anjlok drastis. Setiap akhir kompetisi, MU selalu berhasil masuk jajaran klub yang berhak meraih tiket liga Champions. Prestasi yang demikian fenomenal ini rasanya akan sulit disamai oleh pelatih manapun, bahkan mungkin hingga berpuluh-puluh tahun ke depan.
Mengapa Ferguson memutuskan mundur dari posisi manajer MU yang telah membesarkan namanya itu? Menurut koleganya, yang juga mantan pelatih tim nasional Inggris, Fabio Capello, Ferguson ingin melepas stres dan pergi keliling dunia bersama istrinya. Sebuah alasan yang logis mengingat makin beratnya tekanan untuk mencapai prestasi puncak. Bukan saja di satu turnamen melainkan juga di beberapa turnamen. Apalagi saat ini Ferguson telah berusia 71 tahun. Saatnya memberi kesempatan kepada yang lebih muda.
Kedua adalah David Beckham, yang memutuskan mengakhiri kariernya sebagai pesepakbola profesional. Ia telah menjalani laga terakhirnya bersama klub asal Perancis,  Paris Saint-Germain (PSG). Beckham, yang terkenal dengan tendangan paraboilknya, adalah pemain Inggris pertama yang berhasil membawa klub dari empat negara yang berbeda menjadi juara di liga masing-masing yaitu MU (Inggris), Real Madrid (Spanyol), LA Galaxy (Amerika Serikat), dan PSG (Perancis). Di tim nasional, Beckham adalah pemain Inggris pertama yang mencetak gol di tiga Piala Dunia, masing-masing di tahun 1998, 2002, dan 2006. Yang belum kesampaian adalah membawa Inggris meraih prestasi tertinggi, baik di kancah Piala Eropa maupun Piala Dunia. Meski demikian, hal ini tidak mengurangi penghargaan pencinta sepak bola terhadap dirinya. Mengenai alasannya untuk mundur, Beckham mengatakan bahwa sekarang adalah saat yang tepat untuk pensiun. Ia merasa telah meraih segalanya yang mungkin dalam kariernya sebagai pemain sepak bola. Ia ingin pergi sebagai juara.
Lantas apa hubungan antara pensiunnya Sir Alex Ferguson dan David Beckham dengan dua kalimat di awal tulisan ini? Dua kalimat itu adalah penggalan syair lagu yang berjudul “Turn! Turn! Turn!”.  Lagu ini digubah oleh Peter Seeger pada tahun 1959 dan menjadi amat populer secara internasional pada tahun 1965 saat dinyanyikan oleh kelompok musik The Byrds.
Tema lagu “Turn! Turn! Turn!” ini menggugah hati penulis: segala sesuatu ada gilirannya. Ada saat Sir Alex Ferguson memulai kariernya sebagai pelatih MU pada bulan November 1986. Pada bulan Mei 2013, Ferguson merasa saatnya mundur sebagai manajer MU telah tiba. Hal yang sama juga berlaku bagi Beckham.
Giliran tentu bukan hanya milik Ferguson dan Beckham, melainkan juga milik setiap orang. Mari kita simak sebagian lagi penggalan lagu “Turn! Turn! Turn!” ini
A time to be born, a time to die
A time to plant, a time to reap
A time to laugh, a time to weep
A time to build up, a time to break down
A time gain, a time to lose
Bukan hanya hal-hal yang besar. Untuk hal-hal yang kecilpun ada gilirannya. Ada saat pergi ke tempat kerja, ada saat pulang ke rumah. Ada saat bangun tidur, ada saat pergi tidur. Ada saat bertemu, ada saat berpisah. Dan sebagainya.
Tidak bisa tidak, giliran-giliran ini harus kita jalani. Yang paling penting adalah bagaimana mengisi gilran-giliran itu dengan sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Inilah yang telah dilakukan oleh seorang Ferguson dan Beckham.


Jumat, 17 Mei 2013

Pas-Pasan



Indonesia terancam masuk ke dalam perangkap negara berpendapatan menengah (Middle Income Trap). Demikian dikemukakan oleh banyak pakar ekonomi. Istilah ini mengacu kepada negara-negara yang berhasil masuk ke jajaran negara berpendapatan menengah namun kemudian gagal naik kelas menjadi negara maju. Jumlah negara yang masuk kategori ini tidak sedikit. Sebutlah negara-negara semisal Brasil, Argentina, Filipina, dan Afrika Selatan. Sebaliknya, hanya sedikit yang berhasil naik kelas menjadi negara maju. Salah satunya adalah Korea Selatan, yang perekonomiannya kini sejajar dengan negara-negara maju semisal Jepang, Jerman, Inggris, dan Perancis.
Pada awalnya, banyak negara mengandalkan upah buruh murah agar produk-produknya dapat bersaing. Namun seiring dengan meningkatnya pendapatan dan upah buruh, negara-negara ini menghadapi dilema. Di satu sisi, mereka kalah bersaing dengan negara-negara yang menawarkan biaya produksi lebih rendah. Namun di sisi lain, mereka belum mampu menghasilkan produk-produk bernilai tambah tinggi. Negara yang terperosok ke dalam Middle Income Trap, menurut Rhee (2012), ditandai oleh rendahnya rasio investasi, lambatnya pertumbuhan sektor manufaktur, terbatasnya diversifikasi industri, dan buruknya kondisi pasar tenaga kerja.
Tumbuh pesat di awal, kemudian mulai kedodoran di tengah perjalanan, dan akhirnya gagal masuk ke jajaran kelompok unggulan. Demikianlah pola negara-negara yang terkena Middle Income Trap. Namun sejatinya pola ini tidak hanya terjadi pada organisasi berbentuk negara. Banyak organisasi semisal perusahaan dan klub olahraga yang mengalaminya. Penulis senang menyebutnya dengan istilah organisassi pas-pasan (mediocre organization).
Betapa banyak perusahaan yang tumbuh pesat pada awal-awal masa berdirinya, namun kemudian kinerjanya menjadi pas-pasan. Meski tidak sampai bangkrut, namun mereka tidak mampu bersaing dengan perusahaan-perusahaan papan atas. Hal serupa terjadi dalam dunia olahraga. Di kompetisi liga sepak bola, banyak tim yang prestasinya dari tahun ke tahun tak pernah beranjak dari papan tengah. Meski tidak sampai terdegradasi, mereka sulit menggeser dominasi tim unggulan. Di dunia Bulu Tangkis, prestasi pemain-pemain  Indonesia tidak lagi sementereng sebelumnya meski kita belum tenggelam.  Namun ini masih lebih baik ketimbang tim sepak bola Indonesia, yang hanya bisa bernostalgia mengenang kejayaan masa lalu.
Lantas apa yang harus dilakukan agar terhindar dari jebakan organisasi pas-pasan ini? Kunci utamanya adalah  kualitas sumber daya manusia (SDM). Untuk mewujudkan hal ini, dalam konteks negara tidak ada yang dapat menggantikan pendidikan yang berkualitas. Inilah kunci keberhasilan Korea Selatan menjadi negara maju.   Dalam konteks perusahaan, hal ini berarti pelatihan dan pengembangan yang berkesinambungan bagi karyawan. Sedangkan dalam konteks klub olahraga, pembinaan pemain muda menjadi kunci prestasi. Contohnya adalah Bayern Muenchen dan Borussia Dortmund, dua klub Jerman yang bertemu dalam partai puncak Liga Champions Eropa tahun 2013.
Berikutnya adalah inovasi, baik inovasi produk maupun aktivitas. Inovasilah yang membuat hidup manusia menjadi lebih mudah dan lebih berkualitas. Sayang, kemampuan berinovasi bangsa Indonesia masih rendah. Hal ini tercermin dari rendahnya peringkat Indonesia dalam Indeks Inovasi Global, yang hanya menduduki peringkat ke-100 dari 141 negara, jauh di bawah Negara-negara Asia lain semisal Singapura (ke-3), Korea Selatan (kw-21), Jepang (ke-25), Malaysia (ke-32), dan Thailand (ke-57).
Dalam sebuah organisasi, SDM berkualitas tinggi tidak mungkin berkinerja maksimal tanpa didukung suasana kerja yang kondusif. Termasuk di dalamnya lingkungan fisik yang aman, suasana kerja yang menyenangkan secara psikologis, penghargaan yang pantas, dan penilaian kinerja yang objektif dan transparan.  Tanpa itu semua, jangan harap orang betah bekerja. Yang terjadi adalah fenomena Brain Drain dan tingkat keluar masuk karyawan (turnover) yang tinggi.
Untuk mewujudkan SDM yang berkualitas, inovasi, dan suasana kerja yang kondusif, diperlukan kepemimpinan yang visioner, berkomitmen, konsisten, tegas, dan pandai memberi arahan. Pertanyaannya, untuk konteks negara Indonesia, adakah sosok pemimpin yang demikian itu?

Minggu, 28 April 2013

Paradorn



Bagi anda penggemar Tenis, barangkali masih ingat nama Paradorn Srichaphan. Ya, dia adalah mantan petenis asal Thailand yang pernah menduduki peringkat ke-9 dunia. Beberapa waktu lalu, tersiar kabar bahwa Paradorn berhasrat terjun ke dunia golf profesional. Mengapa ia ingin menekuni olahraga yang relatif baru baginya itu? Paradorn berujar bahwa dirinya bercita-cita menjadi pegolf Asia pertama yang sebelumnya menekuni cabang olahraga yang lain. Ia ingin meniru Scott Draper, petenis asal Australia yang pernah masuk jajaran 50 besar dunia namun kemudian beralih menjadi pegolf profesional.
Paradorn harus mengakhiri kariernya sebagai petenis profesional  menyusul kecelakaan motor  dan cedera yang dialaminya tahun 2010. Di samping menggeluti tenis yang telah melambungkan namanya, Paradorn, yang pernah menjadi biksu di sebuah kuil di luar kota Bangkok tahun 2005, juga mencoba peruntungan di dunia bisnis dengan membuka restoran Italia yang diberi nama So-Le CafĂ© pada tahun 2009. Pada saat yang sama, ia juga meluncurkan perusahaan produk herbal bernama Magic Thaiherbs. Paradorn juga pernah membintangi film “Bang Rajan 2”.
Menjadi petenis, biksu, pebisnis, dan kini mencoba menjadi pegolf. Mengapa Paradorn berganti-ganti profesi? Apa yang ia cari? Apa yang dilakukan Paradorn sebenarnya jamak terjadi di berbagai belahan bumi. Ada bintang film yang beralih profesi menjadi politikus, semisal Ronald Reagan yang bahkan berhasil menduduki jabatan sebagai orang nomor satu di Amerika Serikat (AS) selama dua periode, dari tahun 1981 hingga 1989.  Dalam skala yang lebih kecil, ada seorang akuntan yang beralih profesi sebagai fotografer. Penulis bahkan kenal dengan orang yang rela meninggalkan pekerjaan yang sudah mapan untuk menjadi seorang Agen Asuransi, sebuah profesi yang masih sering dipandang sinis oleh masyarakat meski telah banyak yang sukses meraih penghasilan puluhan juta Rupiah per bulan. Dan betapa banyak orang yang beralih profesi dari karyawan menjadi pengusaha dan kemudian meraup kesuksesan.
Alasan seseorang berganti(-ganti) profesi adalah kebutuhan. Kebutuhan di sini acap tidak identik dengan kebutuhan finansial. Buktinya banyak orang yang meski telah mendapatkan gaji tinggi namun kurang puas dengan profesinya lantaran merasa kurang tertantang.
Orang-orang semacam ini, menurut McCelland, memiliki kebutuhan berprestasi yang tinggi. Mereka mandiri, cenderung tidak percaya dengan keberuntungan melainkan hanya kepada kerja keras dan cerdas, senang dengan tantangan-tantangan baru, menetapkan standar yang tinggi bagi  karya-karyanya,  dan merasa puas tatkala berhasil mengerjakan sesuatu yang sulit.  Maka tak heran bila orang-orang dengan kebutuhan berprestasi yang tinggi mampu melahirkan karya-karya yang fenomenal, baik dalam bidang seni, ilmu pengetahuan, teknologi, dan sebagainya.  Mereka juga yakin bahwa hanya dengan prestasi tinggilah kehormatan, rasa percaya diri, reputasi, dan pengakuan dari orang lain dapat diraih.  Maslow menyebutnya dengan kebutuhan untuk mendapatkan harga diri (self esteem).
Di samping kebutuhan untuk berprestasi, alasan seseorang berpindah profesi adalah keinginannya yang kuat untuk memimpin, mengatur, dan mempengaruhi orang lain.  Inilah alasan mengapa banyak orang tertarik untuk terjun ke dunia politik meski telah mapan dengan profesi yang digelutinya. Arnold Schwarzenegger, aktor terkenal Hollywood yang banyak membintangi film-film sukses, agaknya dapat menjadi contoh orang yang masuk kelompok ini. Ia terjun ke dunia politik setelah sukses di dunia peran. Ia menjabat sebagai Gubernur negara bagian California untuk dua periode, mulai tahun 2003 hingga 2011. Selain sebagai aktor, Schwarzenegger juga (pernah) berprofesi sebagai binaragawan dan pebisnis.
Alasan yang kurang lebih sama agaknya juga dimiliki oleh karyawan yang banting setir menjadi pengusaha. Pengusaha yang sukses cenderung senang menonjolkan kekuasaannya. Mereka merasa tertekan bila bekerja di bawah pimpinan orang lain.
Tentu sah-sah saja bila seseorang ingin beralih profesi lantaran ingin berprestasi tinggi atau meraih kekuasaan. Yang paling penting jangan sampai melanggar etika.