Indonesia
terancam masuk ke dalam perangkap negara berpendapatan menengah (Middle Income Trap). Demikian
dikemukakan oleh banyak pakar ekonomi. Istilah ini mengacu kepada negara-negara
yang berhasil masuk ke jajaran negara berpendapatan menengah namun kemudian
gagal naik kelas menjadi negara maju. Jumlah negara yang masuk kategori ini
tidak sedikit. Sebutlah negara-negara semisal Brasil, Argentina, Filipina, dan
Afrika Selatan. Sebaliknya, hanya sedikit yang berhasil naik kelas menjadi
negara maju. Salah satunya adalah Korea Selatan, yang perekonomiannya kini
sejajar dengan negara-negara maju semisal Jepang, Jerman, Inggris, dan Perancis.
Pada awalnya,
banyak negara mengandalkan upah buruh murah agar produk-produknya dapat
bersaing. Namun seiring dengan meningkatnya pendapatan dan upah buruh,
negara-negara ini menghadapi dilema. Di satu sisi, mereka kalah bersaing dengan
negara-negara yang menawarkan biaya produksi lebih rendah. Namun di sisi lain,
mereka belum mampu menghasilkan produk-produk bernilai tambah tinggi. Negara
yang terperosok ke dalam Middle Income
Trap, menurut Rhee (2012), ditandai oleh rendahnya rasio investasi,
lambatnya pertumbuhan sektor manufaktur, terbatasnya diversifikasi industri,
dan buruknya kondisi pasar tenaga kerja.
Tumbuh pesat di
awal, kemudian mulai kedodoran di tengah perjalanan, dan akhirnya gagal masuk
ke jajaran kelompok unggulan. Demikianlah pola negara-negara yang terkena Middle Income Trap. Namun sejatinya pola
ini tidak hanya terjadi pada organisasi berbentuk negara. Banyak organisasi
semisal perusahaan dan klub olahraga yang mengalaminya. Penulis senang
menyebutnya dengan istilah organisassi pas-pasan (mediocre organization).
Betapa banyak
perusahaan yang tumbuh pesat pada awal-awal masa berdirinya, namun kemudian kinerjanya
menjadi pas-pasan. Meski tidak sampai bangkrut, namun mereka tidak mampu
bersaing dengan perusahaan-perusahaan papan atas. Hal serupa terjadi dalam
dunia olahraga. Di kompetisi liga sepak bola, banyak tim yang prestasinya dari
tahun ke tahun tak pernah beranjak dari papan tengah. Meski tidak sampai
terdegradasi, mereka sulit menggeser dominasi tim unggulan. Di dunia Bulu
Tangkis, prestasi pemain-pemain
Indonesia tidak lagi sementereng sebelumnya meski kita belum
tenggelam. Namun ini masih lebih baik
ketimbang tim sepak bola Indonesia, yang hanya bisa bernostalgia mengenang
kejayaan masa lalu.
Lantas apa yang
harus dilakukan agar terhindar dari jebakan organisasi pas-pasan ini? Kunci
utamanya adalah kualitas sumber daya
manusia (SDM). Untuk mewujudkan hal ini, dalam konteks negara tidak ada yang
dapat menggantikan pendidikan yang berkualitas. Inilah kunci keberhasilan Korea
Selatan menjadi negara maju. Dalam
konteks perusahaan, hal ini berarti pelatihan dan pengembangan yang
berkesinambungan bagi karyawan. Sedangkan dalam konteks klub olahraga,
pembinaan pemain muda menjadi kunci prestasi. Contohnya adalah Bayern Muenchen
dan Borussia Dortmund, dua klub Jerman yang bertemu dalam partai puncak Liga
Champions Eropa tahun 2013.
Berikutnya
adalah inovasi, baik inovasi produk maupun aktivitas. Inovasilah yang membuat
hidup manusia menjadi lebih mudah dan lebih berkualitas. Sayang, kemampuan
berinovasi bangsa Indonesia masih rendah. Hal ini tercermin dari rendahnya
peringkat Indonesia dalam Indeks Inovasi Global, yang hanya menduduki peringkat
ke-100 dari 141 negara, jauh di bawah Negara-negara Asia lain semisal Singapura
(ke-3), Korea Selatan (kw-21), Jepang (ke-25), Malaysia (ke-32), dan Thailand
(ke-57).
Dalam sebuah
organisasi, SDM berkualitas tinggi tidak mungkin berkinerja maksimal tanpa
didukung suasana kerja yang kondusif. Termasuk di dalamnya lingkungan fisik
yang aman, suasana kerja yang menyenangkan secara psikologis, penghargaan yang
pantas, dan penilaian kinerja yang objektif dan transparan. Tanpa itu semua, jangan harap orang betah
bekerja. Yang terjadi adalah fenomena Brain
Drain dan tingkat keluar masuk karyawan (turnover) yang tinggi.
Untuk mewujudkan
SDM yang berkualitas, inovasi, dan suasana kerja yang kondusif, diperlukan kepemimpinan
yang visioner, berkomitmen, konsisten, tegas, dan pandai memberi arahan. Pertanyaannya,
untuk konteks negara Indonesia, adakah sosok pemimpin yang demikian itu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar