Jumat, 08 Maret 2013

Adu Penalti


Piala Afrika 2013 di Afrika Selatan telah berakhir lebih dari satu bulan yang lalu. Nigeria keluar sebagai juara setelah di pertandingan final mengalahkan Burkina Faso dengan skor 1-0. Melajunya  Burkina Faso hingga pertandingan puncak cukup mengejutkan. Pasalnya, prestasi tim ini kurang menonjol dibanding negara-negara Afrika lainnya.
Dua tim yang lebih difavoritkan, Afrika Selatan dan Ghana, tersingkir setelah kalah dalam adu penalti. Afrika selatan dikalahkan  Mali di babak perempat final, sementara Ghana dikandaskan  Burkina Faso di babak semi final.
Dalam pertandingan dengan sistem gugur, adu penalti menjadi penentu pemenang pertandingan apabila kedua tim hanya mampu bermain imbang kendati setelah perpanjangan waktu berakhir.  Kritik yang sering terlontar: kemenangan melalui adu penalti lebih banyak disebabkan faktor keberuntungan. Badan tertinggi sepakbola internasional, FIFA, pernah mencoba menjawab kritik ini dengan aturan gol emas (golden goal) atau gol perak (silver goal). Tujuannya agar kedua tim berani tampil lebih menyerang. Yang terjadi justru sebaliknya. Alih-alih menyerang, kedua tim justru cenderung bermain lebih defensif agar tidak kebobolan.  Maklum, berdasarkan aturan golden goal, siapa yang mencetak gol lebih dulu langsung ditetapkan sebagai pemenang.  Kebobolan berarti kiamat. Akibatnya, permainan menjadi tidak menarik dinikmati. Agaknya, karena alasan inilah akhirnya aturan golden goal dan silver goal tidak lagi diberlakukan
Kembali kepada soal adu penalti, benarkah kemenangan sebuah tim semata-mata karena faktor keberuntungan? Ternyata tidak demikian. Agar tendangan penalti dapat menghasilkan gol, ada dua hal yang harus diperhatikan: arah tendangan dan kecepatan bola melesat ke dalam gawang. Keduanya harus ada karena bila tidak bola dapat dengan mudah  dimentahkan  penjaga gawang. Kemungkinan lainnya, arah bola melambong, melebar, atau membentur tiang gawang.
Berdasarkan perhitungan  matematis, ada daerah-daerah di gawang yang jika bola diarahkan ke daerah-daerah itu tidak ada satu penjaga gawangpun yang dapat menjangkaunya. Namun arah yang tepat ini harus diimbangi dengan tendangan yang bertenaga. Jika tidak, gol tidak akan tercipta.
Ingatan penulis lantas melayang ke pertandingan final Piala Dunia tahun 1990 antara Argentina melawan Jerman Barat (Jerbar). Kala itu, Jerbar keluar sebagai juara setelah menang dengan skor 1-0.  Satu-satunya gol dicetak oleh Andreas Brehme melalui titik penalti. Penulis terkesan dengan cara Brehme mengeksekusi penalti. Bola diarahkan ke titik yang tidak mungkin dijangkau oleh penjaga gawang Argentina saat itu, Sergio Goycochea. Tendangan  dilakukan cukup keras. Untuk diketahui, Goycochea, yang menggantikan Nery Pumpido yang cedera, dikenal sebagai penyelamat tendangan penalti.  Ia dua kali menjadi pahlawan Argentina dalam adu penalti saat mengalahkan Yugoslavia dan Italia, masing-masing di babak perempat final dan semi final Piala Dunia 1990.
Jika mengacu kepada perhitungan matematis seperti di atas, mestinya tidak sulit mencetak gol melalui tendangan penalti. Tak berlebihan jika dikatakan bahwa dalam waktu normal, hadiah penalti menjadi peluang terbaik untuk mencetak gol. Kenyataannya, masih banyak yang gagal mencetak gol melalui tendangan penalti. Kegagalan ini bahkan dialami bintang-bintang sepakbola kelas dunia, semisal Franco Baresi dan Roberto Baggio. Mengapa demikian?
Jawabannya terletak pada faktor psikologis. Dalam adu penalti, penendang memiliki beban lebih berat dibanding penjaga gawang. Ibaratnya, ia seperti bekerja di bawah todongan senjata.  Kegagalan mengeksekusi tendangan penalti seringkali menjadi penentu kekalahan tim. Selanjutnya bia ditebak: ia menjadi kambing hitam. Inilah yang dialami  Roberto Baggio saat Italia menghadapi Brasil di final Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat (AS). Kegagalan Baggio memasukkan bola ke gawang Brasil dalam drama adu penalti mengakibatkan Italia harus puas sebagai Runner-up. Kondisi sebaliknya dialami oleh penjaga gawang, bila berhasil menggagalkan tendangan penalti, ia akan dielu-elukan sebagai pahlawan.
Jadi faktor psikologislah, dan bukannya keberuntungan, yang menjadi penentu utama kemenangan sebuah tim dalam adu penalti.

Minggu, 13 Januari 2013

Masih Ada yang Kurang



Badan tertinggi sepakbola dunia, FIFA, telah menetapkan Lionel Messi sebagai pemain terbaik dunia tahun 2012.  Ini adalah keempat kalinya Messi meraih penghargaan yang sama, melebihi prestasi Michel Platini, Johan Cruyff, dan Marco van Basten.
Messi tentu senang dengan penghargaan ini. Namun kepada The Sun, ia mengatakan rela menukar penghargaan yang diterimanya dengan sebuah trofi Piala Dunia bersama Argentina. Menurutnya, tidak ada yang bisa menandingi Piala Dunia.
Agaknya, belum berhasilnya Messi mengangkat trofi Piala Dunia bersama tim nasional Agrentina  inilah yang membuat sebagian kalangan ragu mensejajarkannya dengan legenda sepakbola macam Pele, Diego Maradona, dan Franz Beckenbauer. Messi boleh saja sukses meraih semua gelar dan piala bersama klub Barcelona. Namun tanpa gelar dan juara bersama tim nasional, baik Piala Dunia maupun (dalam kasus Messi) Copa America, rasanya masih ada yang kurang. Memang Messi masih lebih baik ketimbang Ryan Giggs, yang bersinar di Manchester United (MU) namun belum pernah tampil di Piala Dunia karena Wales, negara asal Giggs, hanyalah tim kelas dua di Eropa. Namun pencapaian Messi tetap saja dianggap belum lengkap. Apatah lagi Argentina bukanlah Negara kelas dua dalam sepakbola.  Negara ini secara konsisten melahirkan bintang-bintang dengan talenta dan teknik individual yang tinggi. Sebutlah nama-nama semisal Juan Roman Riquelme dan Javier Saviola. Namun mereka bersinar hanya pada level yunior. Begitu masuk ke level senior, prestasi mereka meredup.
Nasionalisme
Mengapa kejuaraan sepakbola antara negara dinilai lebih bergengsi ketimbang kejuaraan sepakbola antar klub? Perrtama, kejuaraan antar negara  identik dengan nasionalisme dan kebanggaan sebuah bangsa. Bila mampu berprestasi gemilang dalam sepakbola, sebuah negara dapat terangkat harkat dan martabatnya meski kondisi ekonomi, sosial, dan politik negara itu dilanda kekacauan. Contohnya adalah Irak yang berhasil menjadi juara Piala Asia tahun 2007. Padahal negara itu masih dilanda perang Contoh yang lebih terkenal adalah Brasil. Meski masih tergolong negara berkembang dari sisi ekonomi, namun tidak ada yang meragukan prestasi sepakbola negara dengan luas wilayah terbesar di Amerika Latin itu. Brasil adalah pemegang juara dunia lima kali, lebih banyak dari negara manapun. 
Tidak jarang apa yang sedang terjadi di sebuah negara berpengaruh hingga ke lapangan hijau. Lihatlah suasana sebelum pertandingan bila tim nasional Indonesia dan tim nasional Malaysia saling berhadapan. Kondisi ini mencerminkan rivalitas antara kedua negara dalam ekoomi dan politik. Kondisi serupa terjadi juga di kawasan lain, misalnya antara Brasil dan Argentina di Amerika Latin, atau antara  Jerman dan Belanda di Eropa. 
Kedua, faktor asal-usul pemain. Dalam sebuah klub, faktor uang kerap menjadi pertimbangan dalam pengelolaannya. Seiring  maraknya globalisasi yang mengaburkan batas-batas negara, sebuah klub relatif lebih bebas memiliki pemain tanpa mempertimbangkan asal-usul negara. Tak heran bila banyak klub kaya membeli pemain bintang tanpa mempedulikan asal-usul negara sang bintang. Sedangkan di tim nasional, pelatih hanya boleh memanggil pemain yang memiliki status kewarganegaraan tim nasional yang diwakilinya. Dan kita semua tahu, tidak mudah menjadi warga negara sebuah bangsa. Maka, mencari pemain untuk memperkuat tim nasional lebih sulit ketimbang mencari pemain untuk klub. Bila seorang pemain dibeli oleh sebuah klub dan berhasil, ia hanya akan menjadi kebanggaan klub itu. Namun bila seorang pemain dipanggil memperkuat tim nasional dan sukses, ia menjadi kebanggaan negara, melewati sekat-sekat klub yang berkompetisi di negerinya.
Faktor Usia
Faktor ketiga adalah  waktu. Tidak seperti kejuaraan antar klub, kejuaraan antar negara tidak berlangsung setiap tahun. Artinya kesempatan  meraih prestasi tertinggi lebih sedikit. Bila gagal meraih prestasi saat ini, belum tentu kesempatan yang sama akan datang dua atau empat tahun kemudian. Faktor usia,  kondisi fisik, dan munculnya pesaing kerap menjadi penghalang.
Tumpulnya Messi di tim nasional Argentina juga mengajarkan satu hal: bahwa sepakbola adalah olahraga tim. Sehebat apapun seorang pemain, ia tidak berdaya tanpa dukungan rekan-rekan satu tim. Di Barcelona, Messi mendapat dukungan dari pemain-pemain semisal Xavi Hernandez dan Andres Iniesta, sesuatu yang tidak ia dapatkan di tim nasional Argentina.

Minggu, 30 Desember 2012

Makin Kaya Makin Bahagia?



Apa yang membuat hidup seseorang bahagia? Jawabanya tentu bisa bermacam-macam. Namun penulis tidak akan membahas hal ini. Maklum, penulis bukanlah seorang psikolog atau motivator. Meski demikian, penulis  tertarik dengan sebuah artikel yang penulis baca belum lama ini.
Artikel tersebut mengungkapkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Gallop, yang mengukur emosi positif 1000 orang di 148 negara. Dalam penelitian itu, Gallop mengajukan lima pertanyaan: Apakah anda merasakan kesenangan?Apakah anda merasa dihormati? Apakah anda dapat beristirahat dengan baik? Apakah anda banyak tertawa dan tersenyum? Dan Apakah anda belajar sesuatu yang baru dan menarik?
Dari penelitian tersebut terungkap bahwa ternyata yang paling berbahagia bukanlah orang  Qatar, negara dengan pendapatan perkapita tertinggi di dunia. Bukan pula Jepang, negara dengan tingkat harapan hidup tertinggi di dunia. Bukan pula Kanada, negara dengan persentase orang yang lulus kuliah tertinggi di dunia. Negara yang penduduknya paling berbahagia, menurut penelitian Gallup itu, adalah Panama, sebuah negara di kawasan Amerika Tengah. Yang lebih menarik lagi, tujuh dari sepuluh negara yang penduduknya paling berbahagia di dunia berasal dari Amerika Latin. Negara-negara itu adalah Panama (peringkat 1), Paraguay (2), El Salvador (3), Venezuela  (4), Guatemala (7), Ekuador (9), dan Kosta Rika (10). Indonesia sendiri perada di peringkat 19, relatif cukup baik.
Yang mengejutkan, Singapura justru berada di peringkat paling bawah. Padahal dari sisi PDB perkapita, negara ini termasuk yang tertinggi di dunia. Dalam hal Indeks Pembangunan Manusia atau Human Development Index (HDI), posisi Singapura jelas jauh di atas negara-negara Amerika Latin. Kemudian, siapa yang tidak kenal Singapura sebagai pusat keuangan di Asia Pasifik, yang negaranya serba tertib dan teratur, yang bersih dari korupsi, yang murid-murid sekolahnya menjadi salah satu yang paling unggul dalam pelajaran matematika dan sains, yang kualitas pendidikan tingginya sudah berkelas  dunia?
Lantas mengapa Singapura menjadi negara dengan tingkat emosi positif terendah di dunia? Bagi yang mengenal negeri Singa itu lebih dalam, sebenarnya hasil penelitian Gallup ini tidak terlalu mengejutkan. Di sana, keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi (work life balanced) sangat minim. Segala sesuatu, termasuk prestasi, diukur berdasarkan apa yang dapat dihasilkan secara kuantitatif, termasuk dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Bila tidak sanggup memenuhi,  seseorang dianggap sebagai manusia gagal, meski sebenarnya ia mampu menghasilkan karya-karya seni yang monumental. Bila gagal, terpuruklah hidupnya. Jangan mengharap bantuan orang lain karena mereka sibuk dengan urusannya sendiri, termasuk sibuk bersaing. Angka bunuh diri di Singapura tergolong tinggi.
Di Singapura, segala sesuatu ada prosedur yang harus diikuti, termasuk hal-hal yang remeh. Di satu sisi, hal ini memang baik karena menjadikan hidup lebih teratur.  Namun di sisi lain, kelemahannya adalah mengabaikan kemungkinan terjadinya hal-hal di luar dugaan.
Dalam hal kebebasan berekspresi, Singapura jelas kalah jauh dibanding Indonesia. Maka, jangan berharap Singapura akan melahirkan seniman-seniman dan penulis besar yang berasal dari luar pemerintahan.
Sekarang, mari kita lihat Panama, negara yang mendapat peingkat tertinggi. Carlos Martinez, seorang warga Panama, mengatakan bahwa ia tidak senang dengan meningkatnya tingkat kriminalitas di negaranya. Meski demikian, ia senang dengan keluarganya. Menurutnya, Panama adalah negara yang kaya dengan sumber daya alam.  Rakyatnya senang merayakan segala sesuatu, dan berusaha menjalani hidup sebaik mungkin. Di Paraguay, yang mendapat peringkat tertinggi kedua, Maria Solis, seorang pedagang, mengatakan bahwa kesulitan ekonomi bukan alasan untuk bersedih. Orang kayapun akan dililit oleh masalah. Kita harus mentertawakan diri sendiri.
Apakah ini berarti ukuran-ukuran tradisional seperti pertumbuhan ekonomi, pendapatan perkapita, dan HDI tidak relevan lagi dipertahankan?Tentu tidak demikian. Penelitian Gallop di atas sama sekali tidak boleh dijadikan pembenaran untuk hanya pasrah menerima nasib.  Wajib hukumnya kita bekerja keras mencari kekayaan (tentu dengan cara yang halal); mengembangkan kreativitas dan inovasi; membangun tempat tinggal yang layak huni dan nyaman; meningkatkan produksi dan  ketahanan pangan; membangun infrastruktur, meningkatkan kesehatan,  dan berperilaku etis. Dengan melakukan itu semua, manusia telah berusaha mengoptimalkan potensinya. Kehidupanpun menjadi lebih baik. Namun hendaknya kita TIDAK HANYA terpaku pada ukuran-ukuran tradisional, karena akan membuat kehidupan menjadi hambar, bahkan kehilangan makna.

Selasa, 18 Desember 2012

Makin tua makin tak laku?



Minggu siang, dalam sebuah acara  pertemuan keluarga. Penulis bertemu dengan salah seorang sepupu. Ia telah bekerja di sebuah perusahaan  jasa keuangan selama lebih kurang 10 tahun.  Saat penulis tanya mengapa tidak mencoba melamar ke perusahaan lain, ia menjawab, “Umur saya semakin tua, jadi makin sulit diterima di perusahaan lain”.
Beberapa bulan sebelumnya, penulis bertemu dengan seorang teman lama. Ia pernah mengenyam pendidikan dan bekerja di Amerika Serikat (AS).  Penulis bertanya padanya apakah dalam merekrut karywan perusahaan-perusahaan di AS mempertimbangkan faktor usia.  Sang teman berkata, “Tidak. Bahkan sering dijumpai karyawan bagian pelayanan pelanggan yang telah berumur dan berpenampilan “tidak menarik” menurut ukuran orang Indonesia.  Toh mereka mampu menjalankan tugasnya dengan baik”.
Diskriminasi usia masih jamak dijumpai dalam iklan-iklan lowongan kerja di Indonesia. Persyaratan  semisal  “Pria/Wanta, umur max. 30 tahun” sering kali dicantumkan.  Padahal di negara-negara maju  semisal Australia, AS, Inggris, dan Perancis, praktek semacam ini telah dilarang.  Meski dalam prakteknya diskriminasi usia barangkali masih terjadi secara terselubung, paling tidak negara-negara itu berusaha menghilangkannya. Hal ini tidak terjadi di Indonesia.
Mengapa banyak perusahaan di Indonesia enggan menerima karyawan yang sudah berumur? Hal ini karena adanya anggapan bahwa semakin tua seseorang, semakin menurun kesehatannya; semakin sulit berubah dan sulit menerima konsep-konsep baru; dan semakin sulit dikembangkan.
Namun benarkah anggapan-anggapan itu?Bila jawabannya semata-mata “ya”, berarti kita telah melakukan generalisasi secara gegabah. Banyak orang yang meski sudah berumur, namun kondisi kesehatannya lebih baik dari orang-orang yang lebih muda. Mereka tak jarang  mempunyai ide-ide segar. Merekapun belum tentu lebih sulit dikembangkan. Dengan pengalaman yang dimiliki, karyawan yang telah berumur dapat menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda. Yang terakhir ini dialami oleh seorang rekan penulis yang bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa. Memang ada posisi-posisi tertentu yang mensyaratkan kesehatan fisik yang prima. Dalam hal ini, hukum alam memang tak bisa dilawan. Orang-orang muda lebih kuat ketimbang orang-orang yang telah berumur. Namun sekali lagi bukan berarti semakin bertambahnya usia, peluang untuk seluruh posisi pekerjaan menjadi tertutup.
Bagi para pekerja yang sudah berumur, bagaimana seharusnya menyikapi fenomena ini? Hanya mengeluh tentu bukan solusi. Demikian pula halnya bila hanya menunggu pemerintah mengeluarkan peraturan yang melarang diskriminasi usia. Apatah lagi kita tentu maklum dengan kondisi penegakan hukum di Indonesia.
Ada beberapa  hal yang bisa dilakukan. Pertama, ketahuilah bahwa ada beberapa jenis pekerjaan yang tidak mengenal batasan umur, semisal pengajar, pemulis, agen asuransi, wirausaha, dan penterjemah. Kita dapat mempertimbangkan profesi-profesi ini. Kedua, rajin-rajinlah memperluas jejaring (network). Seringkali informasi-informasi kerja diperoleh dari jejaring. Ingatlah bahwa jumlah lowongan yang tidak diiklankan di media lebih banyak ketimbang jumlah lowongan yang diiklankan di media.  Keuntungan dari jejaring adalah mereka kadang-kadang dapat menjadi referensi yang andal dan lebih dipercaya oleh perusahaan tempat kita melamar. Ketiga, berfokuslah pada pengalaman. Ceritakanlah pengalaman-pengalaman yang kira-kira relevan dengan pekerjaan yang akan ditekuni.  Keempat, janganlah menetapkan ekspektasi yang terlalu tinggi soal gaji. Fokuslah pada kinerja terlebih dahulu. Ingatlah bahwa kepercayaan tidak bisa diminta, melainkan harus diusahakan.  Kelima, kuasailah teknologi yang dapat membuat pekerjaan lebih efisien dan efektif. Hal ini untuk menepis anggapan bahwa  orang-orang yang sudah berumur cenderung malas mempelajari teknologi baru. Dan keenam, berusahalah semaksimal mungkin menyesuaikan diri dengan budaya perusahaan.

Minggu, 02 Desember 2012

HBM dan Karakter



Hujan, banjir dan macet (HBM). Itulah yang penulis alami selama 5 hari berturut-turut beberapa minggu lalu, Senin hingga Jum’at, dalam perjalanan pulang dari tempat kerja. Penulis tentu tidak sendiri.  Ada banyak orang yang juga mengalaminya. Akibatnya tentu kita semua tahu.  Bukan hanya rugi waktu (waktu tempuh yang lebih lama), melainkan juga finansial (contoh: lebih banyak uang keluar untuk membeli BBM, mengganti biaya kerusakan kendaraan jika ada) dan psikologis (perasaan lelah dan tertekan).  Ini baru ditinjau dari sisi karyawan. Belum lagi dari sisi pelaku bisnis dan ibu rumah tangga. Bayangkan bagainama perasaan mereka mellihat tempat mencari nafkah dan tempat bernaung yang dibangun dengan susah payah rusak terendam air.
Entah sudah berapa lama kondisi ini berlangsung.  Yang jelas, saat banjir besar melanda Jakarta tahun 1996, penulis ingat saat itu masih duduk di bangku sekolah.  Di samping itu, entah sudah berapa ratus kali, bahkan mungkin ribuan kali,  para pakar melontarkan kritik dan sarannya. Baik pakar lingkungan maupun perencanaan kota.  Tujuannya tentu agar bencana serupa jangan berulang lagi di waktu-waktu mendatang.
Apakah negeri ini kekurangan pakar lingkungan dan perencanaan kota? Rasanya tidak.  Namun ternyata masalah banjir tak kunjung usai. Demikian pula masalah degradasi lingkungan.  Lalu, apa yang salah? Agaknya ini sama persis dengan kondisi yang terjadi dalam penegakan hukum.  Jumlah fakultas hukum semakin banyak, tentu demikian pula dengan jumlah sarjana dan pakar hukum.  Namun mengapa penegakan hukum di negeri ini masih jauh dari harapan? Contoh lainnya adalah bidang pertanian. Katanya negeri ini kaya akan bahan pangan.  Namun mengapa hingga saat ini Indonesia masih banyak bergantung pada pangan impor?
Penulis teringat apa yang pernah dikatakan oleh dosen penulis saat masih duduk di bangku kuliah.  Katanya, untuk sukses seseorang wajib memiliki tiga hal, yaitu keterampilan (skill), pengetahuan (knowledge), dan perilaku (attitude). Tanpa ketiganya, mustahil seseorang bisa sukses. Kalaupun sukses, sifatnya hanya sementara. Namun sebenarnya ketiga hal ini bukan hanya individu yang wajib memilikinya, melainkan juga sebuah kelompok dan organisasi, dari mulai yang kecil (semisal keluarga) hingga yang besar (semisal perusahaan atau negara). Bukankah sebuah kelompok atau organisasi terdiri dari kumpulan individu-individu?
Bagaimana dengan Indonesia? Rasanya kita semua tahu dalam hal pengetahuan dan keterampilan, negeri ini relatif tidak kekurangan. Jumlah orang yang bergelar sarjana, master, daan doktor semakin banyak. Demikian pula dengan penyelenggaran pendidikan keterampilan dan para lulusannnya. Meski belum sebanyak negara-negara maju, rasanya cukup untuk menjadikan negara ini lebih baik. Bukankah pada masa perjuangan meraih kemerdekaan dulu jumlah sarjana masih minim?Namun dari yang sedikit itu mampu menorehkan prestasi yang gemilang: mengantarkan Indonesia meraih kemerdekaan.
 Bagaimana dengan perilaku? Erie Sudewo (2011) dalam bukunya yang berjudul “Character Building” membagi perilaku menjadi dua, karakter dan tabiat. Karakter merupakan kumpulan tingkah laku baik dari seorang anak manusia, yang merupakan perwujudan dari kesadaran menjalankaan peran, fungsi, dan tugasnya mengemban amanah dan tanggung jawab. Sementara tabiat menjelaskan sejumlah perangai buruk seseorang.
 Selanjutnya Sudewo membagi karakter ke dalam dua kelompok besar, karakter pokok dan karakter pilihan. Karakter pokok harus dimiliki oleh setiap orang, apapun profesinya, bahkan peenganggur sekalipun. Karakter pokok ini dibagi lagi ke dalam tiga kelompok, yaitu karakter dasar, karakter unggul, dan karakter pemimpin. Karakter dasar terdiri dari tiga sifat dasar, yaitu tidak egois, jujur, dan disiplin. Cukup dengan memiliki ketiga sifat ini, seseorang sudah bisa jadi orang baik. Karakter dasar merupakan fondasi yang menentukan baik buruknya seseorang. Karakter unggul dibentuk oleh tujuh sifat baik, yaitu ikhlas, sabar, bersyukur, bertanggung jawab, berkorban, perbaiki diri, dan sungguh-sungguh. Sementara karakter pemimpin memiliki sepuluh sifat baik, yaitu adil, arif, bijaksana, ksatria, tawadhu, sederhana visioner, solutif, komunikatif, dan inspiratif. Sementara karakter pilihan adalah perilaku baik yang berkembang sesuai denggan pekerjaan. Tuntutan karakter guru tentu berebeda dengan tuntutan karakter tentara, pengacara, atau dokter.
Pertanyaannya addalah, apakah bangsa ini sudah memiliki karakter, terutama karakter dasar, yaitu tidak egois, jujur daan disiplin? Kalau tidak egois, mengapa masih sangat banyak kita jumpai orang-orang menyerobot antrian seenaknya tanpa peduli keselamatan dan kenyamanan orang lain? Mengapa banyak fasilitas umum seperti toilet tidak terawat sehingga akhirnya tidak layak pakai? Mengapa para petinggi masih lebih suka mementingkan diri dan golongannya? Kalau bangsa kita sudah jujur, mengapa Transparency International (TI) memasukkan Indonesia ke dalam negara yang tingkat korupsinya tinggi?Mengapa Indonesia menjadi salah satu neegara terkorup di Asia? Kalau bangsa kita sudah disiplin, mengapa sering kita jumpai pegawai pemerintah yang masih belum datang atau berleha-leha padahal jam kerjaa sudah mulai? Adakah sanksi untuk mereka? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang dapat diajukan.
Jika karakter dasar saja sudah tidak punya, jangan ditanya bagaimana karakter unggul dan karakter pimpinannya. Maka jelaslah masalah-masalah yang dihadapi bangsa ini berakar dari ketiadaan karakter. Karakter pula yang membedakan Indonesia dengan negara-negara lain yang lebih maju. Karakter pulalah yang menjadikan para pendiri bangsa ini berhasil mengantarkan Indonesia meraih kemerdekaan. Maka jika ingin Indonesia lebih maju, tidak dapat ditawar lagi.  Karakter bangsa harus diperkuat. Kapan hal ini terwujud?