Minggu
siang, dalam sebuah acara pertemuan
keluarga. Penulis bertemu dengan salah seorang sepupu. Ia telah bekerja di
sebuah perusahaan jasa keuangan selama
lebih kurang 10 tahun. Saat penulis
tanya mengapa tidak mencoba melamar ke perusahaan lain, ia menjawab, “Umur saya
semakin tua, jadi makin sulit diterima di perusahaan lain”.
Beberapa bulan sebelumnya, penulis bertemu dengan seorang teman lama. Ia pernah mengenyam pendidikan dan bekerja di Amerika Serikat (AS). Penulis bertanya padanya apakah dalam merekrut karywan perusahaan-perusahaan di AS mempertimbangkan faktor usia. Sang teman berkata, “Tidak. Bahkan sering dijumpai karyawan bagian pelayanan pelanggan yang telah berumur dan berpenampilan “tidak menarik” menurut ukuran orang Indonesia. Toh mereka mampu menjalankan tugasnya dengan baik”.
Beberapa bulan sebelumnya, penulis bertemu dengan seorang teman lama. Ia pernah mengenyam pendidikan dan bekerja di Amerika Serikat (AS). Penulis bertanya padanya apakah dalam merekrut karywan perusahaan-perusahaan di AS mempertimbangkan faktor usia. Sang teman berkata, “Tidak. Bahkan sering dijumpai karyawan bagian pelayanan pelanggan yang telah berumur dan berpenampilan “tidak menarik” menurut ukuran orang Indonesia. Toh mereka mampu menjalankan tugasnya dengan baik”.
Diskriminasi usia masih jamak
dijumpai dalam iklan-iklan lowongan kerja di Indonesia. Persyaratan semisal
“Pria/Wanta, umur max. 30 tahun” sering kali dicantumkan. Padahal di negara-negara maju semisal Australia, AS, Inggris, dan Perancis,
praktek semacam ini telah dilarang.
Meski dalam prakteknya diskriminasi usia barangkali masih terjadi secara
terselubung, paling tidak negara-negara itu berusaha menghilangkannya. Hal ini
tidak terjadi di Indonesia.
Mengapa banyak perusahaan di Indonesia enggan menerima
karyawan yang sudah berumur? Hal ini karena adanya anggapan bahwa semakin tua
seseorang, semakin menurun kesehatannya; semakin sulit berubah dan sulit
menerima konsep-konsep baru; dan semakin sulit dikembangkan.
Namun
benarkah anggapan-anggapan itu?Bila jawabannya semata-mata “ya”, berarti kita
telah melakukan generalisasi secara gegabah. Banyak orang yang meski sudah
berumur, namun kondisi kesehatannya lebih baik dari orang-orang yang lebih muda. Mereka tak jarang mempunyai ide-ide segar. Merekapun belum tentu lebih sulit dikembangkan.
Dengan pengalaman yang dimiliki, karyawan yang telah berumur dapat menjadi
sumber inspirasi bagi generasi muda. Yang terakhir ini dialami oleh seorang
rekan penulis yang bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang
jasa. Memang ada posisi-posisi tertentu yang mensyaratkan kesehatan fisik yang
prima. Dalam hal ini, hukum alam memang tak bisa dilawan. Orang-orang muda
lebih kuat ketimbang orang-orang yang telah berumur. Namun sekali lagi bukan
berarti semakin bertambahnya usia, peluang untuk seluruh posisi pekerjaan
menjadi tertutup.
Bagi
para pekerja yang sudah berumur, bagaimana seharusnya menyikapi fenomena
ini? Hanya mengeluh tentu bukan solusi. Demikian pula halnya bila hanya
menunggu pemerintah mengeluarkan peraturan yang melarang diskriminasi usia.
Apatah lagi kita tentu maklum dengan kondisi penegakan hukum di Indonesia.
Ada
beberapa hal yang bisa dilakukan. Pertama,
ketahuilah bahwa ada beberapa jenis pekerjaan yang tidak mengenal batasan umur,
semisal pengajar, pemulis, agen asuransi, wirausaha, dan penterjemah. Kita
dapat mempertimbangkan profesi-profesi ini. Kedua, rajin-rajinlah memperluas
jejaring (network). Seringkali
informasi-informasi kerja diperoleh dari jejaring. Ingatlah bahwa jumlah
lowongan yang tidak diiklankan di media lebih banyak ketimbang jumlah lowongan yang
diiklankan di media. Keuntungan dari
jejaring adalah mereka kadang-kadang dapat menjadi referensi yang andal dan
lebih dipercaya oleh perusahaan tempat kita melamar. Ketiga, berfokuslah pada
pengalaman. Ceritakanlah pengalaman-pengalaman yang kira-kira relevan dengan
pekerjaan yang akan ditekuni. Keempat,
janganlah menetapkan ekspektasi yang terlalu tinggi soal gaji. Fokuslah pada
kinerja terlebih dahulu. Ingatlah bahwa kepercayaan tidak bisa diminta,
melainkan harus diusahakan. Kelima, kuasailah
teknologi yang dapat membuat pekerjaan lebih efisien dan efektif. Hal ini untuk
menepis anggapan bahwa orang-orang yang
sudah berumur cenderung malas mempelajari teknologi baru. Dan keenam,
berusahalah semaksimal mungkin menyesuaikan diri dengan budaya perusahaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar