Minggu, 02 Desember 2012

HBM dan Karakter



Hujan, banjir dan macet (HBM). Itulah yang penulis alami selama 5 hari berturut-turut beberapa minggu lalu, Senin hingga Jum’at, dalam perjalanan pulang dari tempat kerja. Penulis tentu tidak sendiri.  Ada banyak orang yang juga mengalaminya. Akibatnya tentu kita semua tahu.  Bukan hanya rugi waktu (waktu tempuh yang lebih lama), melainkan juga finansial (contoh: lebih banyak uang keluar untuk membeli BBM, mengganti biaya kerusakan kendaraan jika ada) dan psikologis (perasaan lelah dan tertekan).  Ini baru ditinjau dari sisi karyawan. Belum lagi dari sisi pelaku bisnis dan ibu rumah tangga. Bayangkan bagainama perasaan mereka mellihat tempat mencari nafkah dan tempat bernaung yang dibangun dengan susah payah rusak terendam air.
Entah sudah berapa lama kondisi ini berlangsung.  Yang jelas, saat banjir besar melanda Jakarta tahun 1996, penulis ingat saat itu masih duduk di bangku sekolah.  Di samping itu, entah sudah berapa ratus kali, bahkan mungkin ribuan kali,  para pakar melontarkan kritik dan sarannya. Baik pakar lingkungan maupun perencanaan kota.  Tujuannya tentu agar bencana serupa jangan berulang lagi di waktu-waktu mendatang.
Apakah negeri ini kekurangan pakar lingkungan dan perencanaan kota? Rasanya tidak.  Namun ternyata masalah banjir tak kunjung usai. Demikian pula masalah degradasi lingkungan.  Lalu, apa yang salah? Agaknya ini sama persis dengan kondisi yang terjadi dalam penegakan hukum.  Jumlah fakultas hukum semakin banyak, tentu demikian pula dengan jumlah sarjana dan pakar hukum.  Namun mengapa penegakan hukum di negeri ini masih jauh dari harapan? Contoh lainnya adalah bidang pertanian. Katanya negeri ini kaya akan bahan pangan.  Namun mengapa hingga saat ini Indonesia masih banyak bergantung pada pangan impor?
Penulis teringat apa yang pernah dikatakan oleh dosen penulis saat masih duduk di bangku kuliah.  Katanya, untuk sukses seseorang wajib memiliki tiga hal, yaitu keterampilan (skill), pengetahuan (knowledge), dan perilaku (attitude). Tanpa ketiganya, mustahil seseorang bisa sukses. Kalaupun sukses, sifatnya hanya sementara. Namun sebenarnya ketiga hal ini bukan hanya individu yang wajib memilikinya, melainkan juga sebuah kelompok dan organisasi, dari mulai yang kecil (semisal keluarga) hingga yang besar (semisal perusahaan atau negara). Bukankah sebuah kelompok atau organisasi terdiri dari kumpulan individu-individu?
Bagaimana dengan Indonesia? Rasanya kita semua tahu dalam hal pengetahuan dan keterampilan, negeri ini relatif tidak kekurangan. Jumlah orang yang bergelar sarjana, master, daan doktor semakin banyak. Demikian pula dengan penyelenggaran pendidikan keterampilan dan para lulusannnya. Meski belum sebanyak negara-negara maju, rasanya cukup untuk menjadikan negara ini lebih baik. Bukankah pada masa perjuangan meraih kemerdekaan dulu jumlah sarjana masih minim?Namun dari yang sedikit itu mampu menorehkan prestasi yang gemilang: mengantarkan Indonesia meraih kemerdekaan.
 Bagaimana dengan perilaku? Erie Sudewo (2011) dalam bukunya yang berjudul “Character Building” membagi perilaku menjadi dua, karakter dan tabiat. Karakter merupakan kumpulan tingkah laku baik dari seorang anak manusia, yang merupakan perwujudan dari kesadaran menjalankaan peran, fungsi, dan tugasnya mengemban amanah dan tanggung jawab. Sementara tabiat menjelaskan sejumlah perangai buruk seseorang.
 Selanjutnya Sudewo membagi karakter ke dalam dua kelompok besar, karakter pokok dan karakter pilihan. Karakter pokok harus dimiliki oleh setiap orang, apapun profesinya, bahkan peenganggur sekalipun. Karakter pokok ini dibagi lagi ke dalam tiga kelompok, yaitu karakter dasar, karakter unggul, dan karakter pemimpin. Karakter dasar terdiri dari tiga sifat dasar, yaitu tidak egois, jujur, dan disiplin. Cukup dengan memiliki ketiga sifat ini, seseorang sudah bisa jadi orang baik. Karakter dasar merupakan fondasi yang menentukan baik buruknya seseorang. Karakter unggul dibentuk oleh tujuh sifat baik, yaitu ikhlas, sabar, bersyukur, bertanggung jawab, berkorban, perbaiki diri, dan sungguh-sungguh. Sementara karakter pemimpin memiliki sepuluh sifat baik, yaitu adil, arif, bijaksana, ksatria, tawadhu, sederhana visioner, solutif, komunikatif, dan inspiratif. Sementara karakter pilihan adalah perilaku baik yang berkembang sesuai denggan pekerjaan. Tuntutan karakter guru tentu berebeda dengan tuntutan karakter tentara, pengacara, atau dokter.
Pertanyaannya addalah, apakah bangsa ini sudah memiliki karakter, terutama karakter dasar, yaitu tidak egois, jujur daan disiplin? Kalau tidak egois, mengapa masih sangat banyak kita jumpai orang-orang menyerobot antrian seenaknya tanpa peduli keselamatan dan kenyamanan orang lain? Mengapa banyak fasilitas umum seperti toilet tidak terawat sehingga akhirnya tidak layak pakai? Mengapa para petinggi masih lebih suka mementingkan diri dan golongannya? Kalau bangsa kita sudah jujur, mengapa Transparency International (TI) memasukkan Indonesia ke dalam negara yang tingkat korupsinya tinggi?Mengapa Indonesia menjadi salah satu neegara terkorup di Asia? Kalau bangsa kita sudah disiplin, mengapa sering kita jumpai pegawai pemerintah yang masih belum datang atau berleha-leha padahal jam kerjaa sudah mulai? Adakah sanksi untuk mereka? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang dapat diajukan.
Jika karakter dasar saja sudah tidak punya, jangan ditanya bagaimana karakter unggul dan karakter pimpinannya. Maka jelaslah masalah-masalah yang dihadapi bangsa ini berakar dari ketiadaan karakter. Karakter pula yang membedakan Indonesia dengan negara-negara lain yang lebih maju. Karakter pulalah yang menjadikan para pendiri bangsa ini berhasil mengantarkan Indonesia meraih kemerdekaan. Maka jika ingin Indonesia lebih maju, tidak dapat ditawar lagi.  Karakter bangsa harus diperkuat. Kapan hal ini terwujud?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar