Jumat, 17 Mei 2013

Pas-Pasan



Indonesia terancam masuk ke dalam perangkap negara berpendapatan menengah (Middle Income Trap). Demikian dikemukakan oleh banyak pakar ekonomi. Istilah ini mengacu kepada negara-negara yang berhasil masuk ke jajaran negara berpendapatan menengah namun kemudian gagal naik kelas menjadi negara maju. Jumlah negara yang masuk kategori ini tidak sedikit. Sebutlah negara-negara semisal Brasil, Argentina, Filipina, dan Afrika Selatan. Sebaliknya, hanya sedikit yang berhasil naik kelas menjadi negara maju. Salah satunya adalah Korea Selatan, yang perekonomiannya kini sejajar dengan negara-negara maju semisal Jepang, Jerman, Inggris, dan Perancis.
Pada awalnya, banyak negara mengandalkan upah buruh murah agar produk-produknya dapat bersaing. Namun seiring dengan meningkatnya pendapatan dan upah buruh, negara-negara ini menghadapi dilema. Di satu sisi, mereka kalah bersaing dengan negara-negara yang menawarkan biaya produksi lebih rendah. Namun di sisi lain, mereka belum mampu menghasilkan produk-produk bernilai tambah tinggi. Negara yang terperosok ke dalam Middle Income Trap, menurut Rhee (2012), ditandai oleh rendahnya rasio investasi, lambatnya pertumbuhan sektor manufaktur, terbatasnya diversifikasi industri, dan buruknya kondisi pasar tenaga kerja.
Tumbuh pesat di awal, kemudian mulai kedodoran di tengah perjalanan, dan akhirnya gagal masuk ke jajaran kelompok unggulan. Demikianlah pola negara-negara yang terkena Middle Income Trap. Namun sejatinya pola ini tidak hanya terjadi pada organisasi berbentuk negara. Banyak organisasi semisal perusahaan dan klub olahraga yang mengalaminya. Penulis senang menyebutnya dengan istilah organisassi pas-pasan (mediocre organization).
Betapa banyak perusahaan yang tumbuh pesat pada awal-awal masa berdirinya, namun kemudian kinerjanya menjadi pas-pasan. Meski tidak sampai bangkrut, namun mereka tidak mampu bersaing dengan perusahaan-perusahaan papan atas. Hal serupa terjadi dalam dunia olahraga. Di kompetisi liga sepak bola, banyak tim yang prestasinya dari tahun ke tahun tak pernah beranjak dari papan tengah. Meski tidak sampai terdegradasi, mereka sulit menggeser dominasi tim unggulan. Di dunia Bulu Tangkis, prestasi pemain-pemain  Indonesia tidak lagi sementereng sebelumnya meski kita belum tenggelam.  Namun ini masih lebih baik ketimbang tim sepak bola Indonesia, yang hanya bisa bernostalgia mengenang kejayaan masa lalu.
Lantas apa yang harus dilakukan agar terhindar dari jebakan organisasi pas-pasan ini? Kunci utamanya adalah  kualitas sumber daya manusia (SDM). Untuk mewujudkan hal ini, dalam konteks negara tidak ada yang dapat menggantikan pendidikan yang berkualitas. Inilah kunci keberhasilan Korea Selatan menjadi negara maju.   Dalam konteks perusahaan, hal ini berarti pelatihan dan pengembangan yang berkesinambungan bagi karyawan. Sedangkan dalam konteks klub olahraga, pembinaan pemain muda menjadi kunci prestasi. Contohnya adalah Bayern Muenchen dan Borussia Dortmund, dua klub Jerman yang bertemu dalam partai puncak Liga Champions Eropa tahun 2013.
Berikutnya adalah inovasi, baik inovasi produk maupun aktivitas. Inovasilah yang membuat hidup manusia menjadi lebih mudah dan lebih berkualitas. Sayang, kemampuan berinovasi bangsa Indonesia masih rendah. Hal ini tercermin dari rendahnya peringkat Indonesia dalam Indeks Inovasi Global, yang hanya menduduki peringkat ke-100 dari 141 negara, jauh di bawah Negara-negara Asia lain semisal Singapura (ke-3), Korea Selatan (kw-21), Jepang (ke-25), Malaysia (ke-32), dan Thailand (ke-57).
Dalam sebuah organisasi, SDM berkualitas tinggi tidak mungkin berkinerja maksimal tanpa didukung suasana kerja yang kondusif. Termasuk di dalamnya lingkungan fisik yang aman, suasana kerja yang menyenangkan secara psikologis, penghargaan yang pantas, dan penilaian kinerja yang objektif dan transparan.  Tanpa itu semua, jangan harap orang betah bekerja. Yang terjadi adalah fenomena Brain Drain dan tingkat keluar masuk karyawan (turnover) yang tinggi.
Untuk mewujudkan SDM yang berkualitas, inovasi, dan suasana kerja yang kondusif, diperlukan kepemimpinan yang visioner, berkomitmen, konsisten, tegas, dan pandai memberi arahan. Pertanyaannya, untuk konteks negara Indonesia, adakah sosok pemimpin yang demikian itu?

Minggu, 28 April 2013

Paradorn



Bagi anda penggemar Tenis, barangkali masih ingat nama Paradorn Srichaphan. Ya, dia adalah mantan petenis asal Thailand yang pernah menduduki peringkat ke-9 dunia. Beberapa waktu lalu, tersiar kabar bahwa Paradorn berhasrat terjun ke dunia golf profesional. Mengapa ia ingin menekuni olahraga yang relatif baru baginya itu? Paradorn berujar bahwa dirinya bercita-cita menjadi pegolf Asia pertama yang sebelumnya menekuni cabang olahraga yang lain. Ia ingin meniru Scott Draper, petenis asal Australia yang pernah masuk jajaran 50 besar dunia namun kemudian beralih menjadi pegolf profesional.
Paradorn harus mengakhiri kariernya sebagai petenis profesional  menyusul kecelakaan motor  dan cedera yang dialaminya tahun 2010. Di samping menggeluti tenis yang telah melambungkan namanya, Paradorn, yang pernah menjadi biksu di sebuah kuil di luar kota Bangkok tahun 2005, juga mencoba peruntungan di dunia bisnis dengan membuka restoran Italia yang diberi nama So-Le Café pada tahun 2009. Pada saat yang sama, ia juga meluncurkan perusahaan produk herbal bernama Magic Thaiherbs. Paradorn juga pernah membintangi film “Bang Rajan 2”.
Menjadi petenis, biksu, pebisnis, dan kini mencoba menjadi pegolf. Mengapa Paradorn berganti-ganti profesi? Apa yang ia cari? Apa yang dilakukan Paradorn sebenarnya jamak terjadi di berbagai belahan bumi. Ada bintang film yang beralih profesi menjadi politikus, semisal Ronald Reagan yang bahkan berhasil menduduki jabatan sebagai orang nomor satu di Amerika Serikat (AS) selama dua periode, dari tahun 1981 hingga 1989.  Dalam skala yang lebih kecil, ada seorang akuntan yang beralih profesi sebagai fotografer. Penulis bahkan kenal dengan orang yang rela meninggalkan pekerjaan yang sudah mapan untuk menjadi seorang Agen Asuransi, sebuah profesi yang masih sering dipandang sinis oleh masyarakat meski telah banyak yang sukses meraih penghasilan puluhan juta Rupiah per bulan. Dan betapa banyak orang yang beralih profesi dari karyawan menjadi pengusaha dan kemudian meraup kesuksesan.
Alasan seseorang berganti(-ganti) profesi adalah kebutuhan. Kebutuhan di sini acap tidak identik dengan kebutuhan finansial. Buktinya banyak orang yang meski telah mendapatkan gaji tinggi namun kurang puas dengan profesinya lantaran merasa kurang tertantang.
Orang-orang semacam ini, menurut McCelland, memiliki kebutuhan berprestasi yang tinggi. Mereka mandiri, cenderung tidak percaya dengan keberuntungan melainkan hanya kepada kerja keras dan cerdas, senang dengan tantangan-tantangan baru, menetapkan standar yang tinggi bagi  karya-karyanya,  dan merasa puas tatkala berhasil mengerjakan sesuatu yang sulit.  Maka tak heran bila orang-orang dengan kebutuhan berprestasi yang tinggi mampu melahirkan karya-karya yang fenomenal, baik dalam bidang seni, ilmu pengetahuan, teknologi, dan sebagainya.  Mereka juga yakin bahwa hanya dengan prestasi tinggilah kehormatan, rasa percaya diri, reputasi, dan pengakuan dari orang lain dapat diraih.  Maslow menyebutnya dengan kebutuhan untuk mendapatkan harga diri (self esteem).
Di samping kebutuhan untuk berprestasi, alasan seseorang berpindah profesi adalah keinginannya yang kuat untuk memimpin, mengatur, dan mempengaruhi orang lain.  Inilah alasan mengapa banyak orang tertarik untuk terjun ke dunia politik meski telah mapan dengan profesi yang digelutinya. Arnold Schwarzenegger, aktor terkenal Hollywood yang banyak membintangi film-film sukses, agaknya dapat menjadi contoh orang yang masuk kelompok ini. Ia terjun ke dunia politik setelah sukses di dunia peran. Ia menjabat sebagai Gubernur negara bagian California untuk dua periode, mulai tahun 2003 hingga 2011. Selain sebagai aktor, Schwarzenegger juga (pernah) berprofesi sebagai binaragawan dan pebisnis.
Alasan yang kurang lebih sama agaknya juga dimiliki oleh karyawan yang banting setir menjadi pengusaha. Pengusaha yang sukses cenderung senang menonjolkan kekuasaannya. Mereka merasa tertekan bila bekerja di bawah pimpinan orang lain.
Tentu sah-sah saja bila seseorang ingin beralih profesi lantaran ingin berprestasi tinggi atau meraih kekuasaan. Yang paling penting jangan sampai melanggar etika.

Senin, 08 April 2013

Monorel Mumbai



Beberapa waktu lalu, situs www.channelnewsasia.com memberitakan akan dioperasikannya monorel pertama di India, tepatnya di kota Mumbai. Pembangunan monorel ini menelan biaya kurang lebih 500 juta Dollar AS, bertujuan memperbaiki sistem transportasi cepat di kota berpenduduk terbanyak di India itu. Monorel ini akan menjadi yang kedua terbesar di dunia, melengkapi layanan jalur kereta api,  serta mempercepat konektivitas antar destinasi.
Surendra Vishwakarma, seorang warga Mumbai, mengungkapkan rasa optimisnya. Menurutnya, monorel ini akan sangat bermanfaat untuk orang awan seperti dirinya. Otoritas Pembangunan Wilayah Metropolitan Mumbai (MMRDA) mengatakan bahwa di dalam kereta monorel ini disediakan tempat khusus wanita sehingga mereka dapat melakukan perjalanan dengan aman dan nyaman.
Apakah monorel ini dapat menjadi bagian dari solusi permasalahan lalu lintas dan transportasi di Mumbai?Masih harus dibuktikan. Yang jelas,  India saat ini sedang giat-giatnya membangun infrastruktur. Pemerintah negeri itu belum lama ini menyetujui anggaran sebesar satu triliun Dollar AS untuk pembangunan infrastruktur selama lima tahun ke depan. Buruknya infrastruktur dituding sebagai biang keladi melambatnya pertumbuhan ekonomi India akhir-akhir ini. Padahal, selama satu dekade terakhir, pertumbuhan ekonomi India termasuk yang tertinggi di dunia.
Forum Ekonomi dunia atau World Economic Forum (WEF) telah menetapkan infrsstruktur sebagai salah satu kriteria daya saing sebuah negara. WEF mendefinisikan daya saing sebagai sekumpulan institusi, kebijakan, dan faktor yang menentukan tingkat produktivitas sebuah negara. Semakin tinggi produktivitas, semakin makmur sebuah negara.
Ketersediaan Infrastruktur seperti jalan raya, rel kereta api, air, listrik, telekomunikasi, pelabuhan laut, dan bandar udara tentu akan memudahkan orang berbisnis. Sebagai contoh, berkat jalan raya yang mulus, produk akan lebih cepat sampai di tujuan. Kualitas produk akan terjaga, tidak membusuk. Produk tidak akan tertahan lebih lama sebelum tiba di tempat pelanggan.  Karena tidak harus melewati jalan yang rusak, biaya bahan bakar kendaraan menjadi lebih murah. Kualitas kendaraan pengangkut barang akan lebih awet.
Contoh berikutnya adalah jaringan telekomunikasi. Dengan adanya jaringan telepon dan internet yang andal, perusahaan dapat mempromosikan barangnya dengan lebih cepat, mudah, murah dan menjangkau khalayak yang lebih luas. Demikian pula halnya dengan proses surat-menyurat. Arus keluar-masuk informasi lebih cepat sehingga perusahaan dapat segera mengetahui situasi terkini.
Saat ini, rasanya kita nyaris tidak bisa hidup tanpa listrik, termasuk pebisnis. Banyangkanlah sebuah bisnis percetakan. Bagaimana mungkin dokumen bisa dicetak tanpa mesin, yang notabene juga membutuhkan listrik?Bagaimana perasaan pelanggan bila harus makan di sebuah restoran tanpa listrik?Tak heran bila pelaku usaha berteriak-teriak bila listrik padam, meski hanya beberapa jam. Ingat kerugian yang ditanggung tidak sedikit.
Dengan infrastruktur yang andal, biaya produksi dan layanan bisa ditekan, dan pada saat yang sama kualitas bisa didongkrak. Inilah problem yang dihadapi oleh India dan negara-negara berkembang lainnya, termasuk Indonesia. Di India, buruknya infrastruktur menjadi kendala utama dalam berbisnis. Kondisi yang tak jauh berbeda juga terjadi di Indonesia.
Jangan duga infrastruktur yang andal hanya semata-mata demi kepentingan ekonomi dan bisnis. Sebagai contoh, ketersediaan air bersih jelas akan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Jalan raya yang mulus dan kereta api yang aman dan nyaman dalam jumlah memadai membuat mudik lebaran lebih menyenangkan. Kecelakaan lalu lintas yang banyak merenggut nyawa pemudik dapat diminimalkan. Listrik yang sering padam menyebabkan pelajar dan mahasiswa tidak dapat belajar dengan optimal sehingga kecerdasan menurun.
Menyediakan infrastruktur yang andal sudah menjadi kewajiban asasi pemerintah, yang memang bertugas melindungi dan menyejahterakan warganya.

Jumat, 08 Maret 2013

Adu Penalti


Piala Afrika 2013 di Afrika Selatan telah berakhir lebih dari satu bulan yang lalu. Nigeria keluar sebagai juara setelah di pertandingan final mengalahkan Burkina Faso dengan skor 1-0. Melajunya  Burkina Faso hingga pertandingan puncak cukup mengejutkan. Pasalnya, prestasi tim ini kurang menonjol dibanding negara-negara Afrika lainnya.
Dua tim yang lebih difavoritkan, Afrika Selatan dan Ghana, tersingkir setelah kalah dalam adu penalti. Afrika selatan dikalahkan  Mali di babak perempat final, sementara Ghana dikandaskan  Burkina Faso di babak semi final.
Dalam pertandingan dengan sistem gugur, adu penalti menjadi penentu pemenang pertandingan apabila kedua tim hanya mampu bermain imbang kendati setelah perpanjangan waktu berakhir.  Kritik yang sering terlontar: kemenangan melalui adu penalti lebih banyak disebabkan faktor keberuntungan. Badan tertinggi sepakbola internasional, FIFA, pernah mencoba menjawab kritik ini dengan aturan gol emas (golden goal) atau gol perak (silver goal). Tujuannya agar kedua tim berani tampil lebih menyerang. Yang terjadi justru sebaliknya. Alih-alih menyerang, kedua tim justru cenderung bermain lebih defensif agar tidak kebobolan.  Maklum, berdasarkan aturan golden goal, siapa yang mencetak gol lebih dulu langsung ditetapkan sebagai pemenang.  Kebobolan berarti kiamat. Akibatnya, permainan menjadi tidak menarik dinikmati. Agaknya, karena alasan inilah akhirnya aturan golden goal dan silver goal tidak lagi diberlakukan
Kembali kepada soal adu penalti, benarkah kemenangan sebuah tim semata-mata karena faktor keberuntungan? Ternyata tidak demikian. Agar tendangan penalti dapat menghasilkan gol, ada dua hal yang harus diperhatikan: arah tendangan dan kecepatan bola melesat ke dalam gawang. Keduanya harus ada karena bila tidak bola dapat dengan mudah  dimentahkan  penjaga gawang. Kemungkinan lainnya, arah bola melambong, melebar, atau membentur tiang gawang.
Berdasarkan perhitungan  matematis, ada daerah-daerah di gawang yang jika bola diarahkan ke daerah-daerah itu tidak ada satu penjaga gawangpun yang dapat menjangkaunya. Namun arah yang tepat ini harus diimbangi dengan tendangan yang bertenaga. Jika tidak, gol tidak akan tercipta.
Ingatan penulis lantas melayang ke pertandingan final Piala Dunia tahun 1990 antara Argentina melawan Jerman Barat (Jerbar). Kala itu, Jerbar keluar sebagai juara setelah menang dengan skor 1-0.  Satu-satunya gol dicetak oleh Andreas Brehme melalui titik penalti. Penulis terkesan dengan cara Brehme mengeksekusi penalti. Bola diarahkan ke titik yang tidak mungkin dijangkau oleh penjaga gawang Argentina saat itu, Sergio Goycochea. Tendangan  dilakukan cukup keras. Untuk diketahui, Goycochea, yang menggantikan Nery Pumpido yang cedera, dikenal sebagai penyelamat tendangan penalti.  Ia dua kali menjadi pahlawan Argentina dalam adu penalti saat mengalahkan Yugoslavia dan Italia, masing-masing di babak perempat final dan semi final Piala Dunia 1990.
Jika mengacu kepada perhitungan matematis seperti di atas, mestinya tidak sulit mencetak gol melalui tendangan penalti. Tak berlebihan jika dikatakan bahwa dalam waktu normal, hadiah penalti menjadi peluang terbaik untuk mencetak gol. Kenyataannya, masih banyak yang gagal mencetak gol melalui tendangan penalti. Kegagalan ini bahkan dialami bintang-bintang sepakbola kelas dunia, semisal Franco Baresi dan Roberto Baggio. Mengapa demikian?
Jawabannya terletak pada faktor psikologis. Dalam adu penalti, penendang memiliki beban lebih berat dibanding penjaga gawang. Ibaratnya, ia seperti bekerja di bawah todongan senjata.  Kegagalan mengeksekusi tendangan penalti seringkali menjadi penentu kekalahan tim. Selanjutnya bia ditebak: ia menjadi kambing hitam. Inilah yang dialami  Roberto Baggio saat Italia menghadapi Brasil di final Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat (AS). Kegagalan Baggio memasukkan bola ke gawang Brasil dalam drama adu penalti mengakibatkan Italia harus puas sebagai Runner-up. Kondisi sebaliknya dialami oleh penjaga gawang, bila berhasil menggagalkan tendangan penalti, ia akan dielu-elukan sebagai pahlawan.
Jadi faktor psikologislah, dan bukannya keberuntungan, yang menjadi penentu utama kemenangan sebuah tim dalam adu penalti.

Minggu, 13 Januari 2013

Masih Ada yang Kurang



Badan tertinggi sepakbola dunia, FIFA, telah menetapkan Lionel Messi sebagai pemain terbaik dunia tahun 2012.  Ini adalah keempat kalinya Messi meraih penghargaan yang sama, melebihi prestasi Michel Platini, Johan Cruyff, dan Marco van Basten.
Messi tentu senang dengan penghargaan ini. Namun kepada The Sun, ia mengatakan rela menukar penghargaan yang diterimanya dengan sebuah trofi Piala Dunia bersama Argentina. Menurutnya, tidak ada yang bisa menandingi Piala Dunia.
Agaknya, belum berhasilnya Messi mengangkat trofi Piala Dunia bersama tim nasional Agrentina  inilah yang membuat sebagian kalangan ragu mensejajarkannya dengan legenda sepakbola macam Pele, Diego Maradona, dan Franz Beckenbauer. Messi boleh saja sukses meraih semua gelar dan piala bersama klub Barcelona. Namun tanpa gelar dan juara bersama tim nasional, baik Piala Dunia maupun (dalam kasus Messi) Copa America, rasanya masih ada yang kurang. Memang Messi masih lebih baik ketimbang Ryan Giggs, yang bersinar di Manchester United (MU) namun belum pernah tampil di Piala Dunia karena Wales, negara asal Giggs, hanyalah tim kelas dua di Eropa. Namun pencapaian Messi tetap saja dianggap belum lengkap. Apatah lagi Argentina bukanlah Negara kelas dua dalam sepakbola.  Negara ini secara konsisten melahirkan bintang-bintang dengan talenta dan teknik individual yang tinggi. Sebutlah nama-nama semisal Juan Roman Riquelme dan Javier Saviola. Namun mereka bersinar hanya pada level yunior. Begitu masuk ke level senior, prestasi mereka meredup.
Nasionalisme
Mengapa kejuaraan sepakbola antara negara dinilai lebih bergengsi ketimbang kejuaraan sepakbola antar klub? Perrtama, kejuaraan antar negara  identik dengan nasionalisme dan kebanggaan sebuah bangsa. Bila mampu berprestasi gemilang dalam sepakbola, sebuah negara dapat terangkat harkat dan martabatnya meski kondisi ekonomi, sosial, dan politik negara itu dilanda kekacauan. Contohnya adalah Irak yang berhasil menjadi juara Piala Asia tahun 2007. Padahal negara itu masih dilanda perang Contoh yang lebih terkenal adalah Brasil. Meski masih tergolong negara berkembang dari sisi ekonomi, namun tidak ada yang meragukan prestasi sepakbola negara dengan luas wilayah terbesar di Amerika Latin itu. Brasil adalah pemegang juara dunia lima kali, lebih banyak dari negara manapun. 
Tidak jarang apa yang sedang terjadi di sebuah negara berpengaruh hingga ke lapangan hijau. Lihatlah suasana sebelum pertandingan bila tim nasional Indonesia dan tim nasional Malaysia saling berhadapan. Kondisi ini mencerminkan rivalitas antara kedua negara dalam ekoomi dan politik. Kondisi serupa terjadi juga di kawasan lain, misalnya antara Brasil dan Argentina di Amerika Latin, atau antara  Jerman dan Belanda di Eropa. 
Kedua, faktor asal-usul pemain. Dalam sebuah klub, faktor uang kerap menjadi pertimbangan dalam pengelolaannya. Seiring  maraknya globalisasi yang mengaburkan batas-batas negara, sebuah klub relatif lebih bebas memiliki pemain tanpa mempertimbangkan asal-usul negara. Tak heran bila banyak klub kaya membeli pemain bintang tanpa mempedulikan asal-usul negara sang bintang. Sedangkan di tim nasional, pelatih hanya boleh memanggil pemain yang memiliki status kewarganegaraan tim nasional yang diwakilinya. Dan kita semua tahu, tidak mudah menjadi warga negara sebuah bangsa. Maka, mencari pemain untuk memperkuat tim nasional lebih sulit ketimbang mencari pemain untuk klub. Bila seorang pemain dibeli oleh sebuah klub dan berhasil, ia hanya akan menjadi kebanggaan klub itu. Namun bila seorang pemain dipanggil memperkuat tim nasional dan sukses, ia menjadi kebanggaan negara, melewati sekat-sekat klub yang berkompetisi di negerinya.
Faktor Usia
Faktor ketiga adalah  waktu. Tidak seperti kejuaraan antar klub, kejuaraan antar negara tidak berlangsung setiap tahun. Artinya kesempatan  meraih prestasi tertinggi lebih sedikit. Bila gagal meraih prestasi saat ini, belum tentu kesempatan yang sama akan datang dua atau empat tahun kemudian. Faktor usia,  kondisi fisik, dan munculnya pesaing kerap menjadi penghalang.
Tumpulnya Messi di tim nasional Argentina juga mengajarkan satu hal: bahwa sepakbola adalah olahraga tim. Sehebat apapun seorang pemain, ia tidak berdaya tanpa dukungan rekan-rekan satu tim. Di Barcelona, Messi mendapat dukungan dari pemain-pemain semisal Xavi Hernandez dan Andres Iniesta, sesuatu yang tidak ia dapatkan di tim nasional Argentina.