Senin, 08 April 2013

Monorel Mumbai



Beberapa waktu lalu, situs www.channelnewsasia.com memberitakan akan dioperasikannya monorel pertama di India, tepatnya di kota Mumbai. Pembangunan monorel ini menelan biaya kurang lebih 500 juta Dollar AS, bertujuan memperbaiki sistem transportasi cepat di kota berpenduduk terbanyak di India itu. Monorel ini akan menjadi yang kedua terbesar di dunia, melengkapi layanan jalur kereta api,  serta mempercepat konektivitas antar destinasi.
Surendra Vishwakarma, seorang warga Mumbai, mengungkapkan rasa optimisnya. Menurutnya, monorel ini akan sangat bermanfaat untuk orang awan seperti dirinya. Otoritas Pembangunan Wilayah Metropolitan Mumbai (MMRDA) mengatakan bahwa di dalam kereta monorel ini disediakan tempat khusus wanita sehingga mereka dapat melakukan perjalanan dengan aman dan nyaman.
Apakah monorel ini dapat menjadi bagian dari solusi permasalahan lalu lintas dan transportasi di Mumbai?Masih harus dibuktikan. Yang jelas,  India saat ini sedang giat-giatnya membangun infrastruktur. Pemerintah negeri itu belum lama ini menyetujui anggaran sebesar satu triliun Dollar AS untuk pembangunan infrastruktur selama lima tahun ke depan. Buruknya infrastruktur dituding sebagai biang keladi melambatnya pertumbuhan ekonomi India akhir-akhir ini. Padahal, selama satu dekade terakhir, pertumbuhan ekonomi India termasuk yang tertinggi di dunia.
Forum Ekonomi dunia atau World Economic Forum (WEF) telah menetapkan infrsstruktur sebagai salah satu kriteria daya saing sebuah negara. WEF mendefinisikan daya saing sebagai sekumpulan institusi, kebijakan, dan faktor yang menentukan tingkat produktivitas sebuah negara. Semakin tinggi produktivitas, semakin makmur sebuah negara.
Ketersediaan Infrastruktur seperti jalan raya, rel kereta api, air, listrik, telekomunikasi, pelabuhan laut, dan bandar udara tentu akan memudahkan orang berbisnis. Sebagai contoh, berkat jalan raya yang mulus, produk akan lebih cepat sampai di tujuan. Kualitas produk akan terjaga, tidak membusuk. Produk tidak akan tertahan lebih lama sebelum tiba di tempat pelanggan.  Karena tidak harus melewati jalan yang rusak, biaya bahan bakar kendaraan menjadi lebih murah. Kualitas kendaraan pengangkut barang akan lebih awet.
Contoh berikutnya adalah jaringan telekomunikasi. Dengan adanya jaringan telepon dan internet yang andal, perusahaan dapat mempromosikan barangnya dengan lebih cepat, mudah, murah dan menjangkau khalayak yang lebih luas. Demikian pula halnya dengan proses surat-menyurat. Arus keluar-masuk informasi lebih cepat sehingga perusahaan dapat segera mengetahui situasi terkini.
Saat ini, rasanya kita nyaris tidak bisa hidup tanpa listrik, termasuk pebisnis. Banyangkanlah sebuah bisnis percetakan. Bagaimana mungkin dokumen bisa dicetak tanpa mesin, yang notabene juga membutuhkan listrik?Bagaimana perasaan pelanggan bila harus makan di sebuah restoran tanpa listrik?Tak heran bila pelaku usaha berteriak-teriak bila listrik padam, meski hanya beberapa jam. Ingat kerugian yang ditanggung tidak sedikit.
Dengan infrastruktur yang andal, biaya produksi dan layanan bisa ditekan, dan pada saat yang sama kualitas bisa didongkrak. Inilah problem yang dihadapi oleh India dan negara-negara berkembang lainnya, termasuk Indonesia. Di India, buruknya infrastruktur menjadi kendala utama dalam berbisnis. Kondisi yang tak jauh berbeda juga terjadi di Indonesia.
Jangan duga infrastruktur yang andal hanya semata-mata demi kepentingan ekonomi dan bisnis. Sebagai contoh, ketersediaan air bersih jelas akan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Jalan raya yang mulus dan kereta api yang aman dan nyaman dalam jumlah memadai membuat mudik lebaran lebih menyenangkan. Kecelakaan lalu lintas yang banyak merenggut nyawa pemudik dapat diminimalkan. Listrik yang sering padam menyebabkan pelajar dan mahasiswa tidak dapat belajar dengan optimal sehingga kecerdasan menurun.
Menyediakan infrastruktur yang andal sudah menjadi kewajiban asasi pemerintah, yang memang bertugas melindungi dan menyejahterakan warganya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar