Sabtu, 17 Mei 2014

Enyahkan

Pemain tim nasional Brasil, Dani Alves, mengambil sepak pojok saat klub yang diperkuatnya, Barcelona, berhadapan dengan Villarreal dalam kompetisi sepakbola Liga Spanyol musim 2013/2014.  Tiba-tiba, sebuah pisang dilemparkan dari tribune penonton dan mendarat tepat di dekat Alves. Alves, kelahiran Juazeiro, Brasil, 6 Mei 1983 itu  kemudian mengambil pisang itu, mengupas, dan memakannya satu gigitan. Kemudian ia melanjutkan mengambil sepak pojok. Dalam pertandingan itu, Barcelona mengalahkan Villarreal dengan skor 3-2.
Peristiwa itu terekam dan dapat disaksikan di seluruh dunia melalui internet. Umumnya, orang bersimpati atas tindakan Alves. Stasiun televisi CNN menyebutnya sebagai humor melawan rasisme dalam sepakbola. Rekan seklub dan senegara Alves, Neymar, berkomentar dalam akun Twitternya, “Kita memang sekumpulan monyet. Lalu kenapa?”. Mantan pemain Barcelona dan tim nasional Inggris, Gary Lineker, turut memuji tindakan Alves. “Reaksi yang sungguh Brilian dari Alves”, kata Lineker.
Pihak Villarreal sendiri menyatakan sangat menyesalkan insiden itu. Klub yang dilatih Marcelino Garcia Toral itu juga mengatakan telah mengenal identitas orang yang melakukan perbuatan tercela itu, menarik kartu keanggotaan klub, dan melarang orang tersebut menginjakkan kaki di stadion El Madrigol, markas Villarreal,  seumur hidup.
Alves bukanlah orang pertama yang dengan jenaka menanggapi perlakuan rasis sekumpulan penonton saat pertandingan berlangsung. Pada tahun 2005, Samuel Eto’o, pemain asal Kamerun yang saat itu memperkuat Barcelona, menari layaknya seekor monyet setelah berhasil menciptakaan gol ke gawang Real Zaragoza. Hal ini sebagai tanggapan atas suara-suara monyet yang diarahkan padanya setiap kali ia menggiring bola. Bukan hanya itu, ia juga dilempari kacang saat berhasil mencetak gol. Menanggapi aksinya itu, Eto’o mengatakan bahwa ia menari seperti monyet karena ada penonton yang memperlakukannya seperti monyet. Barcelona mengalahkan Real Zaragoza 4-0 dalam pertandingan itu. Dan pada tahun itu pula, Eto’o terpilih sebagai pemain terbaik Afrika.
Tak Hanya di Eropa, Bukan Hanya oleh Penonton
Rasisme dalam sepakbola terjadi tatkala pemain dilecehkan karena warna kulit, etnis, dan kebangsaan. Yang melecehkan merasa bahwa golongan, suku, dan bangsa mereka lebih tinggi derajatnya ketimbang yang dilecehkan. Rasisme bukan hanya terjadi di negara-negara Eropa, melainkan juga di negara-negara di kawasan lain semisal Asia (Hong Kong, Jepang, dan Filipina). Amerika Utara (Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada), dan Amerika Selatan (Brasil dan Argentina). Bukan hanya dilakukan oleh penonton dalam bentuk ejekan dan lemparan seperti yang dialami Alves dan Eto’o, melainkan juga dilakukan oleh pihak-pihalk lainnya semisal pelatih,  pemain,  dan komentator.
Bukan Pilihan
Seprti halnya dalam bidang-bidang lainnya, rasisme dalam sepakbola harus dilenyapkan. Mengapa seseorang harus dihina lantaran warna kulit, etnis, dan kebangsaan yang berbeda? Kesemuanya itu adalah pemberian, bukan pilihan.  Tidak ada orang yang sebelum lahir dapat memilih untuk berkulit hitam, putih, atau kuning. Tidak ada orang yang sebelum lahir dapat memilih untuk beretnis Arab, Tiongkok, Urdu, dan sebagainya. Tidak ada orang yang sebelum lahir dapat memilih tempat kelahirannya, apakah di Indonesia, India, Brazil, Inggris, Meksiko, dan sebagainya. Namun Tuhan maha adil. Meski berbeda warna kulit, etnis, dan kebangsaan, setiap individu dianugerahi potensi yang sama untuk berkembang. Kemuliaan seseorang tidak tergantung warna kulit, etnis, dan tempat lahir, melainkan oleh seberapa banyak kebaikan yang ia lakukan.

Federati-federasi sepakbola, baik pada tingkat nasional, regional, maupun internasional telah berupaya mengatasi masalah rasisme, baik melalui peraturan maupun sanksi. Hal ini tentu patut kita dukung. Namun para pemain yang rentan mendapat perlakuan rasis juga diharapkan dapat bersatu serta menemukan cara-cara kreatif, seperti yang dilakukan Alves dan Eto’o.  Mari enyahkan rasisme dari muka bumi.

Selasa, 15 April 2014

Berkaryalah Lebih Dulu

Eko Yuli Irawan, atlet angkat besi nasional peraih medali perunggu pada Olimpiade Musim Panas 2012 di London, dan pelatihnya, Lukman, baru saja dihadiahi bonus Rp 200 Juta oleh PT. So Good Food. Bukan hanya itu. So Good juga telah memilih Eko dan Lukman menjadi bintang iklan produsen makanan olahan daging itu. So Good terkesan dengan prestasi yang ditorehkan Eko.
Keberhasilan Eko mengharumkan nama bangsa di ajang bergengsi sekelas Olimpiade telah membuat namanya tenar. Bagi pelaku bisnis, hal ini menjadi peluang untuk mendongkrak penjualan. So Good telah membuktikannya. Dengan menjadikan Eko sebagai bintang iklan So Good, penjualan perusahaan naik. Demikian kata Denny Gumulya, Wakil Presiden Pemasaran PT. So Good Food.
Bagi sang atlet, mendapatkan bonus tentu menyenangkan. Siapa yang tidak mau? Namun ini tentu tidak gratis. Si atlet harus terus berprestasi. Artinya ia tidak boleh berhenti belajar dan berlatih. Jika prestasi mandek, bonus juga ikut berakhir. Di samping prestasi, sikap dan tingkah laku juga harus dijaga. Buat apa berprestasi baik jika melakukan perbuatan tercela? Prestasi dan tingkah laku yang baik layaknya dua sisi mata uang. Keduanya harus saling melekat.
Setelah membaca berita tentang Eko Yuli Irawan itu, ingatan penulis segera melayang ke salah seorang teman. Kami bertemu pertama kali kurang lebih sepuluh tahun yang lalu. Teman penulis itu adalah orang yang gila kerja. Dalam usia yang masih relatif muda, ia berhasil menduduki berbagai posisi manajerial. Meski demikian, minatnya yang terbesar adalah dalam bidang penjualan dan pemasaran.
Suatu hari, ia bertanya kepada penulis, “Dalam hidup, manakah yang lebih anda utamakan, kerja atau uang? Jika lebih mengutamakan uang, barangkali setelah pensiun anda akan hidup miskin lantaran anda tidak lagi menerima kucuran uang. Namun jika anda mengutamakan kerja, maka percayalah, uang akan datang dengan sendirinya”.
Hingga kini, ucapan itu masih terngiang-ngiang di telinga penulis. Seiring berjalannya waktu, penulis semakin paham bahwa ungkapan itu bukan hanya berlaku untuk hal-hal yang bersifat materi atau keuangan, melainkan juga hal-hal lainnya yang mendatangkan kepuasan, semisal kesempatan untuk mengembangkan diri dan kemajuan karier.
Sejak beberapa tahun terakhir ini, penulis bergabung dengan sebuah organisasi nirlaba.  Semua orang yang bergabung dengan organisasi ini bekerja tanpa dibayar. Penulis jatuh cinta dengan organisasi ini sejak kunjungan pertama. Alasannya?Lingkungan yang positif. Di dalam organisasi ini, anda bebas untuk mengekspresikan diri anda tanpa dibayangi ketakutan akan kritik-kritik pedas dan sanksi yang meruntuhkan motivasi. Di sini, anda akan menemukan hal-hal yang positif yang ada dalam diri anda. Kelemahan tidak disebut sebagai kekurangan, melainkan hal-hal yang masih bisa ditingkatkan.  Faktor-faktor inilah yang membuat penulis bersemangat untuk mengikuti aktivitas-aktivitas yang diselenggarakan organisasi ini.  Berkat hal ini, penulis kerap diminta untuk menduduki posisi dan memainkan peran strategis. Saat ini, penulis menjadi salah satu anggota pengurus organisasi.  Bagi penulis, hal ini adalah sebuah kebanggaan.
Agar pekerjaan yang kita tekuni dapat menghasilkan uang, adalah sangat penting untuk pertama-tama menentukan apa yang menjadi minat dan kemampuan kita. Masing-masing orang memiliki kecenderungan yang berbeda terhadap sesuatu. Ada yang senang melukis, memasak, membuat kerajinan tangan, menulis, dan sebagainya. Jika seseorang sudah berminat terhadap sesuatu, biasanya ia akan merasa lebih bersemangat untuk menekuninya. Jika minat sudah ketemu, bersungguh-sungguhlah untuk menekuninya. Dalam usaha mewujudkan minat ini akan selalu dijumpai halangan. Oleh karenanya, kesabaran sangat penting. Sabar bukan berarti pasif, melainkan tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati, dan tidak tergesa-kesa. Dalam bekerja integritas tidak boleh dikorbankan atas nama apapun. Integritaslah yang pada akhirnya akan menyelamatkan nasib seseorang.
Jadi, berkaryalah. Maka kesenangan akan mengiringi anda.


Jumat, 28 Februari 2014

Si Penjual Tisu

Kurang lebih 1 minggu yang lalu, dalam perjalanan menuju tempat kerja penulis  bertemu dengan seorang teman di dalam Bus Transjakarta. Kebetulan, ia bekerja di gedung yang sama dengan penulis. Maka kami turun dari bus dan berjalan bersama-sama menuju gedung tempat kami bekerja. Dalam perjalanan, ia membeli  2 bungkus tisu dari seorang pedagang tisu yang berjualan di pinggir jalan.  Tak dinyana, ia memberikan 1 bungkus tisu yang yang baru ia beli kepada penulis. Ia lalu berkata bahwa ia sebenarnya tidak membutuhkan tisu. Ia hanya ingin menghargai jerih payah sang penjual tisu.
Penulis tentu menghargai kebaikan hati teman penulis itu. Namun bagi pedagang asongan seperti sang penjual tisu, akan lebih baik jika dalam menjalankan aktivitasnya mendapat jaminan perlindungan secara resmi dari pemerintah. Sebab tanpa jaminan perlindungan, posisi sang penjual tisu sangatlah rentan. Rentan terhadap penggusuran, rentan jatuh miskin secara mendadak akibat kecelakaan lantaran tidak memiliki jaminan asuransi kesehatan. Mereka juga tidak memiliki sistem dan struktur bisnis. Peluang mereka untuk berkembang juga amat terbatas. Dari sisi pertumbuhan ekonomi, kesuksesan penjual tisu praktis tidak akan berdampak apapun bagi pendapatan nasional karena tidak ada pajak yang dibayarkan.
Dalam istilah ekonomi, sang penjual tisu berada dalam sektor ekonomi informal. Di negeri ini, begitu banyak orang-orang yang bernasib seperti dirinya. Termasuk diantaranya penjual makanan di pinggir dan di tengah jalan (saat lalu lintas berhenti), penjual pulsa telepon genggam, penawar jasa pembersih kaca jendela mobil di tengah-tengah kemacetan, dan sebagainya. Juga para penjahit pakaian berskala kecil (yang biasanya melakukan pekerjaannya di rumah), Rata-rata dari mereka umumnya berpendidikan rendah, tidak sampai mencicipi Sekolah Menengah Pertama (SMP). Bahkan banyak diantaranya tang tidak tamat Sekolah Dasar (SD). Perlu dicatat, mereka bukanlah pelaku tindakan kriminal meski tidak tercatat secara resmi. Biasanya orang-orang bekerja di sektor informal karena terpaksa demi mempertahankan hidup. Bagi pelaku sektor informal, lolos dari kewajiban membayar pajak menjadi daya tarik tersendiri. Apalagi bila mereka pintar berlindung di balik rasa belas kasihan masyarakat.
Apa yang melatarbelakangi tumbuhnya sektor informal?Yang utama adalah pertumbuhan jumlah tenaga kerja yang pesat tanpa diimbangi oleh ketersediaan lapangan kerja yang memadai. Pesatnya pertumbuhan jumlah tenaga kerja merupakan hasil dari lajunya pertumbuhan penduduk. Selama satu dekade  terakhir, menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), tingkat fertilitas penduduk Indonesia mencapai 2,4. Pada tahun 2035, jumlah penduduk Indonesia, menurut Badan Pusat Statistik (BPS),  diperkirakan mencapai 305 juta jiwa. Tanpa pertumbuhan sektor formal yang signifikan, jumlah tenaga kerja yang akan memasuki sektor informal bakal semakin bertambah.
Penyebab berikutnya tumbuh pesatnya sektor informal adalah sulitnya memasuki sektor formal. Salah satunya lantaran rendahnya kualitas rata-rata tenaga kerja sehingga sektor formal enggan merekrut mereka. Hal ini mengindikasikan adanya masalah dalam bidang pendidikan sehingga tidak mampu memasok tenaga-tenaga kerja yang terampil.
Penyebab lainnya adalah apa yang dalam ilmu ekonomi disebut fleksibilitas dan efisiensi pasar tenaga kerja (labor market flexibility and efficiency). Pasar tenaga kerja haruslah efisien sehingga tenaga kerja dapat dengan mudah berpindah dari satu sektor ekonomi ke sektor ekonomi lainnya dengan biaya rendah. Sedangkan pasar tenaga kerja yang efisien harus menjamin insentif bagi pekerja serta terciptanya meritokrasi. Merujuk kepada Global Competitiveness Report 2013-2014 yang diterbitkan World Economic Forum (WEF), kakunya pasar tenaga kerja menjadi salah satu masalah terbesar yang dihadapi Indonesia dalam usaha meningkatkan daya saing.
Keberadaan sektor informal wajib dikikis agar pendapatan pemerintah bertambah dan rakyat mendapat perlindungan dalam mencari nafkah.

Rabu, 15 Januari 2014

Pak Rahmat dan Kamhar

Warung makan itu terletak tidak jauh dari kantor penulis, di kawasan bisnis terkemuka di Jakarta.  Meski tidak luas, namun tempatnya cukup nyaman sehingga orang betah untuk duduk lebih lama seraya menunggu usainya waktu istirahat setelah makan siang . Makanan yang disajikan harganya cukup terjangkau, sesuai bagi kebanyakan karyawan.  Menu yang ditawarkan kurang lebih sama dengan yang biasa dijumpai di warung-warung Tegal. Meski tidak setiap hari,  penulis cukup sering makan siang di warung itu.
Pemilik warung itu sebut saja namanya Pak Rahmat. Entah sejak kapan ia mulai berdagang di tempat itu. Yang jelas,  ia hampir selalu menyapa pelanggannya dengan sebutan khas, “Orang Muda”. Semua orang dipanggilnya demikian meski tentu ada yang usianya tidak muda lagi. Yang membuat penulis senang makan di warung itu adalah gaya Pak Rahmat yang ramah. Bila lama tidak berkunjung, ia selalu menjabat tangan penulis erat-erat, seraya berkata,  “Terima kasih, masih ingat dengan orang tua.” .
Bagaimanapun, tidak semua orang mempunyai kesan positif terhadap Pak Rahmat. Seorang pesuruh yang bekerja di sebelah kantor penulis bercerita tentang keluhan anak buah Pak Rahmat.  Menurutnya, Pak Rahmat suka marah dan kurang memperhatikan kesejahteraan karyawan.  Ia hanya ramah kepada pelanggan. Pesuruh itu tidak menjelaskan lebih lanjut perihal suka marah dan kesejahteraan yang “dianggap” kurang ini (kata “dianggap” sengaja penulis beri tanda kutip karena boleh jadi masalah kesejahteraan ini bersifat relatif).
Setelah mendengar cerita pesuruh itu, ingatan penulis lantas melayang ke sebuah novel yang pernah penulis baca. Novel itu berjudul Cinta di dalam Gelas, dikarang oleh Andrea Hirata yang terkenal dengan Laskar Pelangi-nya.  Dalam novel Cinta di dalam Gelas, dikisahkan Ikal, sang tokoh utama, yang bekerja di warung kopi milik pamannya. Sang paman bernama Kamhar. Di samping ikal, ada tiga orang karyawan yang juga bekerja di warung kopi milik  Kamhar, masing-masing bernama Midah, Hasanah, dan Rustam.
Paman Ikal adalah orang yang sangat cerewet dan suka marah. Marah sudah menjadi kesehariannya. Jangankan berbuat salah, berbuat benarpun anak buahnya tetap bisa kena semprot.  Meski demikian, Midah, Hasanah, dan Rustam tetap setia bekerja di warung kopi Kamhar. Mereka sudah bertahun-tahun kerja di sana. Padahal, mudah saja bagi mereka untuk pindah kerja, termasuk bekerja di warung kopi lain. Bahkan dengan pengalaman yang dimiliki, mereka mungkin bisa meminta gaji lebih tinggi di tempat lain. Inilah teka-teki yang ingin dipecahkan Ikal, yang belum lama bergabung dengan warung kopi milik sang paman.
Teka-teki terkuak saat sang paman harus meninggalkan warung kopi selama tiga hari untuk menghadiri pernikahan salah seorang anak sahabatnya.  Pada awalnya, Midah, Hasanah, dan Rustam merasa “merdeka”. Tak ada yang memarah-marahi mereka, paling tidak selama beberapa hari. `Namun hal ini tidak berlangsung lama. Perasaan kesepian mulai menghnggapi mereka. Kemarahan sang paman yang biasanya membuat hati jengkel,  saat itu justru mereka rindukan. Namun ternyata bukan hanya itu. Merekapun rindu terhadap kelemahlembutan dan kasih sayang paman saat ia sedang tidak marah.
Saat itu Ikal dan kawan-kawannya menyadari bahwa meski galak, sang paman adalah orang yang sangat mencintai profesinya sebagai pemilik warung kopi.  Ia mendidik anak buahnya untuk bangga terhadap pekerjaan mereka. Di samping itu, sang paman adalah orang yang jujur dan siap menjadi sahabat saat diperlukan. Ternyata, hal-hal inilah yang membuat Midah, Hasanah, dan Rustam betah bekerja dan tetap setia pada paman.

Apakah Pak Rahmat memiliki sifat-sifat yang sama dengan paman Ikal?Entahlah. Namun yang jelas, meski penting uang bukanlah segalanya yang membuat orang betah bekerja di sebuah tempat. Suasana kerja ternyata lebih penting. Termasuk didalamnya perlakuan yang adil dari pemimpin. Menghargai anak buah bila berprestasi dan memberi sanksi bila berbuat salah.  Keduanya harus diberikan secara seimbang. Tak kalah penting, pemimpin harus rajin turun ke bawah guna memahami sifat-sifat dan situasi yang dihadapi anak buahnya. Iapun harus pandai-pandai memotivasi anak buahnya. Bila kesemuanya ini dipenuhi, pengikut akan termotivasi untuk memberikan yang terbaik. Merekapun akan bangga menjadi bagian dari organisasi. 

Kamis, 31 Oktober 2013

Sang Legenda Setan Merah

Mereka yang menjadi sasaran kritik Sir Alex memberi reaksi beragam.  Beckham ingat saat Ferguson membantunya memulihkan kepercayaan diri yang runtuh pasca Piala Dunia 1998 di Perancis. “Di tengah kecaman publik Inggris, dia tak henti memotivasi dan mati-matian menyelamatkan karier saya. Sir Alex fantastis”, kata Beckham, yang membela MU  pada kurun waktu 1993-2003 sebelum hijrah ke Real Madrid. Rakyat Inggris marah lantaran Beckham menendang Diego Simeone, pemain Argentina, pada partai 16 Besar Piala Dunia 1998. Akibat ulahnya itu, Bechkam diganjar kartu merah. Partai itu dimenangkan Argentina, sehingga Inggris tersingkir dari arena Piala Dunia 1998.
Roy Keane menganggap mantan pelatihnya itu tak tahu berterima kasih. ”Gelimang gelar yang ia dapatkan adalah hasil keringat para pemain. Dia tak pantas berbicara seenaknya sendiri. Seolah-olah hanya dia yang paling benar”, kata Keane.
Kenny Dalglish, mantan pelatih Liverpool, mengatakan Sir Alex asal bicara lantaran menganggap Gerard bukan pemain hebat. Sedangkan Jamie Carragher, mantan pemain Liverpool, mengatakan Gerard beberapa kali menjadi penentu kemenagan tim, termasuk saat Liverpool menghadapi MU.
Namun agaknya kontroversi seputar otobiografi Ferguson tidak mengurangi statusnya sebagai salah satu manajer terbaik dalam sejarah. Selama 26 tahun berkarier sebagai manajer, ia berhasil membawa MU meraih 2 kali juara Liga Champions, 13 kali juara liga Inggris, dan 5 kali juara piala FA. Yang paling terkenal adalah tahun 1999 saat MU meraih “treble”, juara Liga Inggris, juara Piala FA, dan juara Piala Champions dalam satu musim kompetisi. Atas prestasinya ini, Ferguson dianugerahi gelar bangsawan “Sir”.
Apa rahasia kesuksesan Ferguson? Pertama, manajemen modern melalui penciptaan struktur organisasi berorientasi jangka panjang. Ia membangun “pusat keunggulan” bagi talenta-talenta muda. Hasilnya, lahirlah pemain-pemain sekelas David Beckham, Ryan Giggs, dan Paul Scholes  yang membawa MU meraih treble pada tahun 1999. Kedua, tidak terlena dengan kesuksesan. Ia berani memberikan kepercayaan kepada pemain-pemain muda. Di saat yang sama, ia bersedia melepas pemain-pemain yang masih bagus seraya tetap menjaga beberapa pemain veteran demi kontinuitas dan kelestarian budaya klub. Ketiga, kemampuan menyuntikkan motivasi ke dalam diri para pemain sehingga mereka pantang menyerah hingga akhir pertandingan. Keempat, memegang kendali penuh dan tak segan bertindak tegas terhadap pemain yang melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan, siapapun dia. Bahkasn seorang Roy Keane dan David Beckham, yang telah berjasa bagi tim,  harus rela ditendang lantaran dianggap bertindak melampaui batas. Kelima, paham bagaimana harus bersikap kepada setiap pemain seraya tetap mengutamakan kepentingan tim. Saat memutuskan untuk membangkucadangkan seorang pemain, Ferguson akan mendekati si pemain secara pribadi dan meyakinkan bahwa keputusannya hanyalah berkaitan dengan masalah taktik dan si pemain pasti akan diberikan kesempatan untuk tampil di partai-partai berikutnya. Ferguson yakin tidak boleh melakukan pendekatan yang sama untuk setiap pemain dalam setiap situasi. Ia tidak pernah memuji berlebihan. Jika pemain gagal memenuhi ekspektasi, ia akan mengungkapkannya tanpa menunda-nunda. Keenam, mendelegasikan tugas seraya tetap mengawasi dengan cermat dan berkala. Dan ketujuh, pandai menyesuaikan diri dengan perubahan.

Otobiografi Ferguson boleh saja kontroversial. Namun tak ada yang meragukan bahwa ia adalah legenda.

Senin, 14 Oktober 2013

Ilusi Pariwisata Nona Dunia

Pergelaran Miss World  2013 telah berakhir. Seperti diberitakan, acara ini menuai pro dan kontra. Pihak penyelenggara dan para pendukungnya yakin acara ini akan berdampak positif bagi Indonesia. Negeri ini akan lebih dikenal dunia. Wisatawan, terutama wisatawan asing,  akan berbondong-bondong datang berkunjjung. Hal-hal yang dianggap tidak sesuai dengan kondisi di Indonesia juga telah dihilangkan pada acara Miss World 2013. Sedangkan pihak yang kontra menganggap kontes ini tidak sesuai dengan budaya Indonesia dan bertentangan dengan norma-norma agama.
Tulisan ini tidak akan mengulas perdebatan seputar kontes Miss World 2013. Acara ini toh telah ditutup dan pemenangnya sudah diketahui. Tulisan ini akan mengulas anggapan bahwa penyelenggaraan kontes Miss World akan mendongkrak pariwisata Indonesia.
Benarkah anggapan ini? Pernyelenggaraan peristiwa-peristiwa bertaraf internasional semacam Miss World memang akan membuat nama sebuah negara lebih sering disebut. Selanjutnya, wisatawan akan mulai berdatangan guna mengetahui lebih lanjut objek-objek wisata yang menarik di negeri itu. Namun masih harus dilihat apakah para wisatawan ini akan kerasan tinggal lebih lama untuk kemudian kembali lagi suatu saat.
Membuat wisatawan merasa betah inilah yang diusahakan oleh banyak negara di dunia. Mereka berlomba-lomba menjadi yang terbaik. Faktor-faktor apa sajakah yang membuat wisatawan senang untuk tinggal lebih lama di sebuah negara?
Indeks daya saing pariwisata atau Travel and Tourism Competitiveness Index (TTCI) dapat menjawab pertanyaan ini.  TTCI mengukur faktor-faktor dan kebijakan-kebijakan yang membuat industri pariwisata di sebuah negara menarik, berkembang, dan berdaya saing tinggi. Pengukuran dilakukan terhadap 140 negara. TTCI diterbitkan oleh Forum Ekonomi Dunia atau World Economic Forum (WEF) setiap tahun sejak 2007. Berdasarkan TTCI, ada 14 faktor yang menentukan daya saing pariwisata sebuah negara, yaitu peraturan dan regulasi; kelestarian lingkungan; keselamatan dan keamanan; kesehatan; perhatian terhadap industri pariwisata; infrastruktur angkutan udara; infrastruktur angkutan darat; infrastruktur pariwisata; infrastruktur teknologi informasi dan telekomunikasi (TIK); daya saing harga dalam industri pariwisata; sumber daya manusia (SDM); keramahtamahan dan penerimaan penduduk lokal terhadap pariwisata; sumber daya alam; dan sumber daya budaya.  Masing-masing faktor ini kemudian dirinci lagi.
Berdasarkan data TTCI, Indonesia berada pada peringkat ke-70. Meski naik empat tingkat dibanding tahun sebelumnya, peringkat ini masih jauh di bawah negara-negara Asia lainnya. Di Asia, Singapura berada pada peringkat paling atas, yaitu ke-10, disusul Jepang (ke-14), Korea Selatan (ke-25), Malaysia (ke-34), Thailand (ke-43), China (ke-45), dan India (ke-66).
Menilik hasil TTCI, Indonesia hanya unggul dalam faktor harga, sumber daya alam, dan sumber daya budaya. Harga tiket, bahan bakar, dan hotel di Indonesia lebih murah dibanding banyak negara lain. Kekayaan alam Indonesia tidak perlu diragukan. Demikian halnya dengan kekayaan budaya. Aneka pameran dan pertunjukan kerap diadakan di tanah air. Industri kreatif juga semakin berkembang.
Sayangnya, keunggulan harga, sumber daya alam, dan sumber daya budaya Indonesia belum dimanfaatkan dengan optimal. Untuk faktor-faktor lainnya, Indonesia masih kedodoran.  Kelestarian lingkungan belum terjamin lantaran pembangunan objek-objek pariwisata masih kurang memperhatikan aspek lingkungan. Penegakkan hukum dalam lingkungan hidup masih lemah. Keamanan bagi para wisatawan masih memprihatinkan, lantaran kinerja aparat kemamanan masih belum optimal. Kesehatan juga menjadi isu. Akses terhadap layanan kesehatan, sanitasi, dan air bersih masih belum memadai. Akibatnya, wisatawan rentan terhadap penyakit.
Nasalah lainnya berkaitan dengan infrastruktur. Jumlah dan kualitas infrastruktur udara, jalan raya, jalan kereta api, dan pelabuhan masih kurang. Demikian pula halnya dengan infrastruktur teknologi informasi dan telekomunikasi (TIK)

Jadi, naif bila beranggapan Miss World akan mendongkrak pariwisata tanah air. 

Senin, 23 September 2013

Sama sekali tidak lucu

”Di usiaku saat ini... ee... ya twenty nine my age ya... tapi aku masih merindukan apresiasi karena basically aku seneng... seneng musik walaupun kontroversi hati. Aku lebih menyudutkan kepada konspirasi kemakmuran yang kita pilih.”
”Nggak... kita... kita belajar apa ya... harmonisasi dari hal terkecil sampai terbesar. Kupikir kita nggak boleh ego terhadap satu kepentingan dan kudeta apa yang kita menjadi keinginan ya. Dengan adanya hubungan ini bukan mempertakut, bukan mempersuram statusisasi kemakmuran keluarga gitu, tapi menjadi confident, tapi kita harus bisa mensiasati kecerdasan itu untuk labil ekonomi kita tetap lebih baik.”
Dua paragraf di atas adalah kata-kata yang diucapkan Vicky Prasetyo dalam wawancara yang disiarkan sebuah acara berita hiburan di televisi. Entah siapa orang ini. Yang jelas, ucapannya itu telah membuat banyak orang tertawa terpingkal-pingkal. Ia pun sontak menjadi bahan omongan selama berhari-hari.
Penulis telah melihat wawancara itu melalui Youtube dan termasuk orang yang sama sekali tidak tertawa saat mendengarnya. Mengapa? Karena memang sama sekali tidak lucu.  Silahkan bilang selera humor penulis rendah, penulis terlalu serius, dan sebagainya. Tanggapan penulis: si Vicky Prasetyo ini telah memberikan contoh yang sangat buruk. Penulis bahkan benci bila ada orang yang meniru-niru gaya bicara dan bahasanya.
Contoh buruk apa yang disajikan Vicky?Yang paling utama adalah dalam hal  berbahasa. Apa ide dan pesan yang  ingin disampaikan Vicky kepada pendengar? Agar penerima dapat memahami dengan tepat pesan yang ingin disampaikan, maka menurut Solihati dan Hikmat (2013: 44), pesan itu harus disampaikan dalam bentuk kalimat yang baik, ditandai dengan struktur yang benar, pilihan kata yang tepat, hubungan antarbagian yang logis, dan ejaan yang benar. Kesemua syarat itu tidak ditemukan dalam kalimat-kalimat yang diucapkan Vicky. Misalnya dalam struktur kalimat. Tidak jelas kata atau gabungan kata yang menjadi subjek, predikat, objek, keterangan, dan pelengkap kalimat. Jangan tanya soal pilihan kata. Apakah arti dari kontroversi hati, konspirasi kemakmuran, statusisasi kemakmuran, dan juga labil ekonomi? Penggunaan kata ego dalam percakapan di atas juga salah. Seharusnya egois, bukan ego.
Ucapan Vicky Prasetyo, yang mencampuradukan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris, mencerminkan inferioritas berbahasa. Inilah contoh buruk berikutnya. Banyak orang lebih bangga menggunakan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, ketimbang bahasa Indonesia lantaran menganggap bahasa Inggris lebih keren dan lebih bergengsi. Bila ada orang yang bagus bahasa Inggrisnya, ia mendapat pujian. Namun jarang ada yang mengapresiasi bila seseorang dapat  berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.  Penyakit menganggap bahasa Inggris lebih keren dan lebih bergengsi ini telah menjangkiti banyak orang, termasuk mereka yang kemampuan bahasa Inggrisnya pas-pasan. Agar dianggap intelek, berlomba-lombalah mereka berbicara dalam bahasa Inggris meski tata bahasanya amburadul dan perbendaharaan katanya terbatas. Akibatnya, tidak jelaslah pesan yang ingin disampaikan. Jangan tanya apakah mereka pernah membuka kamus bahasa atau tidak. Bukankah minat baca rata-rata masyarakat kita masih rendah?
Apa yang diucapkan Vicky menjadi contoh kemalasan berbahasa. Artinya? Orang lebih senang menggunakan kata-kata dalam bahasa asing (baca: Inggris), padahal kata-kata itu ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Sebagai contoh, orang lebih senang menggunakan istilah website ketimbang laman, handphone ketimbang telepon genggam, update ketimbang memperbarui, workshop ketimbang sanggar kerja (barangkali bahkan tidak banyak yang pernah mendengar istilah ini),  dan code of conduct ketimbang kode tata berperilaku. Masih banyak lagi kata-kata lainnya. Dalam kasus Vicky, mengapa menggunakan kata basically  jika dapat diganti dengan pada dasarnya? Mengapa menggunakan kata confident jika dapat diganti dengan percaya?

Kata-kata Vicky bukanlah lelucon. Lelucon yang baik seharusnya membuat orang menjadi semakin cerdas. Sebuah lelucon tidak boleh membuat orang merasa terhibur dengan hal-hal yang jelas-jelas salah.