Jumat, 25 Maret 2016

Mengundurkan Diri



Jumat petang. Penulis akan meninggalkan gedung tempat penulis berkantor. Saat itu lepas magrib. Salat Magrib telah penulis tunaikan. Kantong dirogoh, aplikasi Gojek dibuka, Gojek dipesan.
Awalnya semuanya berjalan lancar. Penulis duduk di belakang supir seraya menikmati pemandangan di sebelah kanan dan kiri. Cuaca pun cerah.
Tiba-tiba, mendadak motor berhenti. Si supir memeriksa sebentar. Ternyata, radiator sepeda motor mengalami masalah sehingga motor tidak lagi dapat berfungsi. Untungnya, si supir baik hati. Ia menggratiskan tarif seraya mempersilakan saya untuk memesan Gojek lain.
Peristiwa itu terjadi di sebuah kawasan di Jakarta Selatan. Meski pernah beberapa kali melewati kawasan ini, tetap saja daerah itu relatif asing bagi penulis. Maka tak heran timbul perasaan waswas. Namun perjalanan tetap harus dilanjutkan, bagaimana pun caranya.
Maka penulis pun menyusuri Trotoar. Tak lama kemudian, penulis menemukan bagunan yang di atasnya tertempel  logo sebuah toko farmasi yang cukup terkenal. Maka, tanpa ragu-ragu penulis melangkah masuk ke dalam bangunan itu. Sebuah bangunan yang tidak terlalu mewah namun cukup besar untuk rata-rata ukuran toko yang pernah penulis temui. Di dalam took, penulis membeli sejumlah obat. Setelah itu, penulis duduk di sebuah bangku dan memesan Gojek. Tak lama kemudian, Gojek yang siap mengantar penulis pulang telah tiba.
Penulis sangat mengapresiasi sikap supir Gojek yang radiator motornya rusak itu. Bagi penulis, ia sadar dengan tanggung jawab yang diembannya. Ia bertanggung jawab memastikan penumpang yang dibawanya sampai di tujuan dengan selamat. Bila ia berhasil melaksanakannya, ia berhak mendapatkan imbalan, dalam hal ini berupa ongkos dari penumpang. Namun bila sebaliknya, ia tidak layak memperolehnya, bahkan dapat dikenai sanksi. Dalam hal ini, ia menggratiskan biaya menumpang Gojek bagi penulis.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tanggung jawab memiliki arti keadaan wajib menanggung segala sesuatunya. Kalau terjadi apa-apa boleh dituntut, dipersalahkan, diperkarakan, dan sebagainya. Termasuk tidak memperoleh imbalan apapun akibat  kegagalan menanggung sesuatu yang dibebankan. Juga rela segala fasilitas dan kenikmatan yang diperoleh yberkaitan dengan tanggung jawabnya dicabut. Contoh sederhananya, seorang supir digaji untuk  bertanggung jawab mengantar dan menjemput anak majikannya ke dan dari sekolah. Ia harus memastikan bahwa si anak bisa tiba di sekolah dan pulang ke rumah dengan selamat. Jika terjadi apa-apa dengan si anak, si supir harus siap untuk tidak digaji, bahkan diberhentikan dari pekerjaannya.
Sayang sekali, di negeri tercinta ini masih banyak orang yang tidak menyadari atau tidak peduli dengan soal tanggung jawab ini. Artinya, mereka tidak mau menerima konsekuensi dari sikap, perbuatan, dan kebijakan yang mereka telurkan sendiri. Sebagai contoh, banyak pejabat yang tidak mau mundur meski terus menjadi sorotan publik karena dianggap gagal menjalankan tugasnya. Kalaupun mundur, ia melakukannya dengan terpaksa karena desakan yang begitu kuat.  Mereka enggan melepaskan jabatan karena masih ingin menikmati berbagai fasilitas dan prestise. Sedangkan bila ia berhenti, segala fasilitas tersebut harus ditarik dari dirinya.
Di Jepang atau Korea Selatan (Korsel), jamak kita temui pejabat yang mengundurkan diri dengan sukarela karena merasa dirinya gagal mengemban amanah. Penulis pernah mendengar cerita seorang Menteri Perhubungan Jepang mengundurkan diri hanya kara terjadi kecelakaan kereta. Padahal bila diselidiki lebih lanjut, belum tentu kecelakaan itu diakibatkan oleh kesalahannya. Namun ia sadar bahwa tanggung jawab tertinggi masalah transportasi ada padanya.
Terakhir, seseorang boleh saja lolos dari kewajiban bertanggung jawab atas kesalahan-kesalahannya di dunia ini. Mungkin dia punya uang, koneksi, kemampuan bersilat lidah, dan sebagainya. Namun tiada satu manusia pun yang dapat lepas dari tanggung jawab di hari kemudian, di pengadilan yang dipimpin oleh Yang Maha Adil. Pengadilan yang tak mengenal lagi mafia, uang suap, nepotisme, dan kolusi.
                   


Kamis, 28 Januari 2016

Guru dan Iimu



“Jadikanlah setiap pengalaman sebagai pelajaran”
Itulah nasihat ayah tadi siang, menanggapi aktivitas dan perjalanan saya pagi ini. Sebuah nasihat yang terdengar klise, namun tak dapat dipungkiri tetap relevan.
Saya sedang mengikuti proses seleksi di sebuah lembagai pendidikan. Dalam hati, saya bertekad untuk meneruskannya, apa pun hasilnya. Saya ingin menggali lebih banyak informasi mengenai lembaga ini. Kalau pun proses seleksi harus terhenti, paling tidak pengetahuan dan pengalaman saya semakin bertambah. Kalau berhasil?Lihat sajalah nanti. Ada banyak pertimbfangan yang harus dipikirkan.
Pengalaman adalah guru yang terbaik, begitu kata pepatah. Bicara tentang ilmu, tak terbantahkan guru merupakan sosok sentral, bahkan sejajar dengan pengalaman. Meski di zaman sekarang ilmu pengetahuan amat mudah dan murah diakses seiring kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), guru tetap dibutuhkan. Yang utama adalah sebagai fasilitator, motivator, dan inspirator.                   
Bicara tentang guru, saya teringat kisah yang dipaparkan dalam novel Ranah Tiga Warna karya Ahmad Fuadi.   Dalam novel tersebut, Alif Fikri, sang tokoh utama, ingin belajar menulis kepada Togar, seniornya. Saat Alif menyerahkan hasil tulisannya kepada Togar, bukannya pujian-pujian yang didapatkan melainkan celaan. Diperlakukan demikian, mental Alif sempat jatuh. Sempat terbersit dalam pikirannya untuk berhenti berguru kepada Togar. Namun kemudian ia teringat dengan petuah Imam Syafii tentang menuntut ilmu. Menurut Imam Syafii, menuntut ilmu itu perlu banyak hal, misalnya rakus dengan ilmu, waktu yang panjang, dan hormat pada guru. “Ah, saya kan bisa cari guru lain”, demikian pikir Alif. “Lalu kalau demikian, apa niatmu?Kalau mau berguru, ya iklaskanlah dirimu diajar oleh dia”.   Akhirnya Alif memutuskan untuk tetap berguru kepada Togar, dengan segala konsekuensinya. Belakangan, ia tahu sebenarnya Togar baik hati meski kerap tanpa basi-basi. Ia hanya ingin anak didiknya serius dengan niatnya. Jika anak didiknya serius, ia benar-benar siap membantu. Dengan kata lain, anak didiknya itu harus tamak dengan ilmu, bunya semangat membara untuk mencari ilmu.
Namun kita tentu tidak boleh sembarang memilih guru. Guru yang baik bukanlah sekedar memiliki pengetahuan dan keterampilan, namun juga sikap dan tingkah laku. Yang utama tentu bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Inilah fondasi yang utama. Dengan takwa yang sebenar-benarnya akan tertanamlah sifat jujur, disiplin, tidak egois, sabar, bertanggung jawab, bersyukur, dan sederet sifat-sifat terpuji lainnya. Jangan mencari guru yang menyelewengkan ayat-ayat Allah untuk menyesatkan orang dan demi kepentingan pribadi. Termasuk mengajarkan paham-paham yang menyimpang.
Syarat berikutnya adalah biaya. Ini sudah jelas dengan sendirinya. Masuk sekolah dan kuliah perlu biaya. Membeli buku, majalah, cakram padat, materi daring (online), dan koran perlu biaya.  Terhubung dengan internet perlu biaya. Berpetualang untuk meraih pengalaman perlu biaya. Seminimal-minimalnya, kita butuh biaya transportasi.      
Orang yang menuntut ilmu harus memiliki kecerdasan. Menuntut ilmu bertujuan untuk menambah kecerdasan, bukan menciptakan kecerdasan. Di samping anugerah Allah sebagai dasar, kecerdasan dapat diperoleh misalnya dengan membaca, menulis, melakukan diskusi ilmiah, dan mengajarkan hal-hal yang sudah kita ketahui meskipun hanya sedikit. Sayangnya minat membaca dan menulis rata-rata masyarakat Indonesia masih rendah. Hal ini tentu menghalangi diraihnya ilmu dan pengetahuan,  yang menjadi bekal menambah kecerdasan.
Orang yang mencari ilmu tidak jarang menjumpai berbagai hambatan, misalnya hambatan finansial, minimnya dukungan dari orang-orang sekitar, dan godaan-godaan yang bersifat duniawi. Untuk menghadapinya diperlukan kesabaran. Sabar bukan berarti pasif, menyerah, dan bermalas-malasan, melainkan tidak berputus asa mencaru jalan keluar dari kesulitan dan tidak tergoda degan hal-hal yang merusak perjalanan mencari ilmu.
Dengan selalu haus akan ilmu, menjalani waktu, guru yang tepat, biaya yang cukup, ada kecerdasan, dan kesabaran, Insya Allah ilmu akan bertambah.

Minggu, 27 Desember 2015

Tak Mau Menodai Nilai



“Mau pesan isi berapa?”
“Sory baru balas”
“Isi 15 aja”
“Tulisannya “Merry Xmas mama Tisya”
“Mohon maaf. Kami tidak bisa melayani ucapan natal”
Itu adalah dialog pesan singkat antara Tyok Aditya Setyo dengan Toko Donat Mungil Malang. Tyok kemudian menempelkan dialog tersebut di dinding akun Facebook miliknya. Inti percakapan tersebut adalah: Donat mungil menolak permintaan Tyok untuk menuliskan ucapan selamat natal pada donat yang dipesannya.
Segera saja sikap Donat Mungil ini ramai menjadi bahan perbincangan pengguna internet. Banyak yang menghujat kebijakan ini. Donat Mungil pun ramai-ramai dirundung di media sosial. Munculah tulisan-tulisan seperti, “Fanatik amat sih...", "Ganti jeneng ae Donat Islam Ekstrimis", dan "utek e cekak wong si dodol". Donat Mungil dianggap tidak toleran karena tidak mau menuliskan ucapan Selamat Natal sesuai keinginan pemesan.
Namun tak sedikit pula yang membela. Di antaranya adalah pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur, KH. Luthfi Bashori. Menurut Luthfi, seperti dikutip www.hidayatullah.com, apa yang dilakukan oleh pemilik toko sudah sesuai dengan tuntunan Islam. Lagi pula, menurut Kiai Luthfi, keputusan pemilik Donat Mungil merupakan hak individu dalam bermuamalah berdasarkan tuntunan agama yang dianut.
Menanggapi kebijakan yang kontroversial ini, Putri Priyanti, pemilik Donat Mungil, mengatakan bahwa hal itu ia lakukan murni karena keyakinan dirinya sebagai seorang Muslim. Menghadapi kritikan dan cacian yang diterimanya, ia mengatakan mengambil hal positifnya saja. Ia pun tak takut omzet penjualan usaha miliknya akan turun.
Tidak. Penulis tidak akan mengulas masalah hukum mengucapkan selamat natal dalam tulisan ini.   Tentu ada yang lebih berkompeten dan terpercaya melakukannya, yaitu orang-orang yang memiliki pengetahuan mendalam dan hati yang bersih. Silakan baca diskusi tentang masalah ini di tempat lain. Tak sulit menemukannya.
Bagi penulis, apa yang dilakukan oleh pemilik Donat Mungil adalah cerminan dari nilai yang dianutnya. Dalam kaitannya dengan budaya sebuah organisasi, nilai-nilai pribadi yang digenggam pemilik atau pemimpin kerap terejawantahkan dalam sikap, tingkah laku, dan kebijakannya terhadap organisasi. Nilai-nilai ini akan menjadi panduan dalam menentukan hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan, pantas dan tidak pantas dikerjakan. Nilai-nilai ini berbeda bagi masing-masing individu dan organisasi. Pepatah “lain padang, lain belalang” berlaku di sini. Jadi, penolakan pemilik Donat Mungil untuk menuliskan ucapan Selamat Natal pada kue yang dipesan pelanggannya berakar dari nilai pribadi yang menekankan betapa pentingnya menjaga akidah atau keyakinan pokok Islam. Jangan sampai ada hal-hal sekecil apapun, yang menodai keyakinan pokok ini. Namun nilai ini kerap tidak berlaku bagi orang lain. Tentu kita banyak menjumpai produsen yang tidak berkeberatan menerima pesanan bertulisan ucapan selamat natal, meski pemiliknya seorang Muslim. Bagi para pedagang ini, sah-sah saja menerima pesanan yang demikian.
Pertanyaan selanjutnya, apakah kebijakan yang dinilai kontroversial oleh sebagian orang ini akan mampu menarik minat pembeli, khususnya kalangan muslim? Ini yang masih harus dibuktikan. Pemilik Donat Mungil boleh saja berkeyakinan donat yang dijualnya akan tetap laku. Namun semata-mata mengandalkan sentimen keagamaan rasanya absurd. Pasalnya, begitu banyak produsen donat di negeri ini, mulai dari skala raksasai hingga liliput. Banyak dari mereka yang meski tidak menonjolkan simbol-simbol agama, namun menjajakan produk halal, baik zatnya, perolehannya, pengolahannya, hingga penyajiannya. Jika tidak puas dengan Donat Mungil, tentu mereka akan berpaling ke toko lain.
Oleh karenanya, di samping mengandalkan simbol suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), nilai-nilai bisnis yang universal semisal pelayanan prima pada pelanggan, kualitas produk, kebersihan, kesejahteraan karyawan, dan kejujuran wajib diterapkan. Tanpa itu semua, cepat atau lambat perusahaan akan ditinggalkan oleh pelanggan.

Selasa, 27 Oktober 2015

Ingin Bahagia: Jangan Kaya dan Bekerja Keras?



Almarhum DR. APJ Abdul Kalam, mantan Presiden India yang dijuluki “presiden rakyat”, pernah mengatakan bahwa seseorang boleh saja mencintai pekerjaannya. Meski demikian, jangan berlebihan mencintai perusahaan tempat Anda bekerja. Alasannya?Anda tidak pernah akan tahu kapan perusahaan akan berhenti mencintai Anda.
Lebih lanjut, Abdul Kalam menenkankan pentingnya seseorang untuk pulang tepat waktu sehabis bekerja. Barangkali ini nasihat yang tidak lazim. Biasanya, orang dinasihati untuk datang kerja tepat waktu. Kembali lagi, apa alasannya?Pertama, pekerjaan sejatinya tidak akan pernah selesai. Jika kita bertahan di tempat kerja dengan alasan pekerjaan belum selesai, lantas apakah kita tidak pernah pulang?Kecuali tentu saja jika ada pekerjaan yang mendesak untuk diselesaikan secepatnya. Namun ini tentu tidak mungkin berlangsung setiap hari. Kedua, pelanggan memang harus dipentingkan. Namun demikian pula halnya dengan keluarga. Ketiga, hidup bukanlah sekedar berkutat pada pelanggan, kantor, dan pekerjaan. Namun ada yang lebih penting. Kita juga membutuhkan waktu untuk menghibur diri, bersosialisasi, bersantai, dan berolahraga. Jangan pernah hidup tanpa makna. Keempat, jika Anda gagal dalam hidup, bukan bos atau klien anda yang akan membantu anda, melainkan teman-teman atau keluarga anda. Kelima, seseorang yang bekerja di kantor hingga larut malam sejatinya bukanlah pekerja keras, melainkan seseorang yang tidak tahun caranya mengelola waktu. Keenam, tujuan kita belajar dan bekerja keras bukanlah untuk menjadi layaknya sebuah mesin, melainkan menjadi manusia yang bermartabat. Dan ketujuh, jika bos Anda terlalu sering meminta anda bekerja hingga larut malam, jangan-jangan ia bukanlah orang yang efektif dan tak munya makna dalam hidupnya.
Apa yang ditekankan oleh Abdul Kalam di atas sejatinya mirip dengan konsep keseimbangan antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi atau work life balance. Intinya, seseorang hendaknya tidak hanya memikirkan pekerjaan dan kariernya, melainkan juga kehidupan di luar pekerjaan seprti hiburan, teman, dan keluarga.
Banyak orang yakin work life balance akan membawa kebahagiaan.  Namun cukupkah?Penulis teringat dengan sebuah cerita yang pernah penulis baca. Cerita seorang ibu yang remuk hatinya setelah membaca buku harian yang ditulis oleh anak bungsunya.  Dalam buku hariannya, si bungsu mengungkapkan kerinduannya kepada bibi pembantu rumah tangga. Sang bibi telah tiada karena sakit. Selama bekerja di rumah majikan sang anak, si bibi menjalankan perannya bukan saja sebagai pembantu rumah tangga melainkan juga sebagai sahabat sekaligus “ibu kedua” bagi anak majikannya, melebihi ibu kandungnya sendiri.
Si ibu adalah seorang wanita karier yang sukses menduduki posisi eksekutif puncak sebuah perusahaan multinasional. Berkat kesuksesannya, ia memiliki uang berlimpah, rumah mewah, mobil bagus, dan mampu menyekolahkan anaknya di sekolah favorit. Kebutuhan material sang anak nyaris tidak ada yang tidak bisa ia penuhi.  Namun sebagai seorang eksekutif puncak, kesibukannya tentu luar biasa. Akibatnya, ia sering pergi berhari-hari sehingga kebutuhan emosional anaknya terlupakan.
Sebelum kehilangan sang bibi, si bungsu lebih dulu kehilangan kakaknya, yang meninggal akibat kecelakaan (versi lain si kakak mengalami cacat permanen, ada juga yang mengatakan si kakak terjerumus ke dalam pemakaian narkoba). Si bungsu sendiri akhirnya meninggal karena tak kuat menanggung beban kesedihan.
Sang ibu dalam kisah di atas agaknya menganggap uang dan jabatan sebagai sumber kebahagiaan. Seolah-olah kalau sudah kaya dan berpangkat tinggi, bahagia akan datang. Namun setelah kehilangan anaknya untuk selama-lamanya, apakah ia akan bahagia meski dikelilingi harta berlimpah serta menduduki posisi mentereng?
Banyak yang menganggap orang yang kekayaannya melimpah dan kariernya melesat adalah lebih sukses ketimbang orang sebaliknya. Namun bagaimana dengan orang yang  memiliki integritas tinggi, bertakwa kepada Tuhan, mengabdi pada orang tua, berhasil membina keluarga yang harmonis, dan memiliki anak saleh?Bukankah itu prestasi? Agama tidak pernah melarang seseorang untuk menjadi kaya pintar, dan berpangkat. Bahkan sebalinya. Agama memerintahkan kita untuk bekerja keras agar kita menjadi manusia berkecukupan. Namun kekayaan dan pangkat hanyalah sarana yang wajib digunakan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Kekayaan dan pangkat tidak boleh dijadikan berhala.
Sebagai penutup marilah kita ingat tujuh kunci kebahagiaan menurut Ibnu Abbas ra, sahabat Nabi Muhammad SAW. Menurut Ibnu Abbas, kunci-kunci kebahagiaan adalah hati yang selalu bersyukur, pasangan hidup yang saleh, anak yang saleh, lingkungan yang kondusif untuk tumbuh kembangnya iman, semangat untuk mendalami agama, harta yang halal, dan umur yang berkah.

Sabtu, 19 September 2015

Boleh Berbeda, Asal...



Seorang teman penulis di sebuah grup di Whatsapp mengajukan semacam teka-teki kepada rekan-rekan satu grup. Beberapa jawaban dikemukakan. Ada yang menjawab dengan singkat, namun ada juga yang menjawab dengan panjang lebar.
Salah seorang teman menjelaskan jawabannya secara detail. Pada awalnya, ia membahas isi teka-teki. Namun di pengujung jawaban, ia mengemukakan pernyataan politik yang berisi pujian kepada salah seorang pejabat di negeri ini. Secara implisit, ia berkampanye kepada semua penghuni grup agar memilih pejabat itu dalam pemilihan umum yang akan datang.
Menanggapi hal ini, ada seorang rekan satu grup yang mempertanyakan sikap teman penulis itu.  Bukankah kita tidak bicara soal politik di grup?Ironisnya, teman pendukung pejabat itulah yang menyarankan kepada rekan-rekan satu grupnya untuk menjauhi diskusi soal politik di grup 
Beberapa teman lantas memberikan komentarnya. Ada yang sama sekali tidak mempermsalahkan bila isu politik diangkat di grup. Menurutnya, bila kita tidak suka terhadap suatu topik, ya diabaikan saja. Ada juga yang menyatakan bila ingin bicara politik dipersilahkan. Bila tidak mau juga tidak apa-apa. Yang terpenting jangan bersikap fanatik, jangan jadi bermusuhan lantaran masing-masing orang mendukung calon yang berbeda. Ini sudah pernah terjadi, terutama jika kita rajin mengamati jejaring sosial semisal Facebook. Teman lain mengatakan selama masih bisa bersikap netral, maka tidak ada masalah. Yang jadi masalah adalah jika seseorang sudah telanjur memihak. Jika sudah demikian, urun pendapat menjadi tidak sehat. Ia bahkan punya pengalaman rusaknya persahabatan akibat perbedaan politik. Padahal mereka sudah berteman dekat sejak kecil. Ini terjadi saat pemilhan presiden tahun 2014 lalu.
Ada juga yang mencoba mengemukakan perspektif lain. Menurutnya, ada sekelompok orang yang meski rajin berdebat keras tentang politik namun tetap mampu menjaga hubungan pertemanan. Bahkan tak jarang mereka saling tolong menolong. Bagi teman saya itu, yang terpenting adalah kedewasaan berpikir dan bersikap. Selama hal ini dapat dipertahankan, kita tidak perlu terlalu khawatir hubungan pribadi akan terganggu.
Jadi, salahkah berdiskusi tentang masalah politik di sebuah kelompok?Jawabannya tentu terpulang kepada masing-masing anggota kelompok. Juga bergantung kepada tujuan kelompok itu terbentuk. Sebagai contoh adalah seorang teman yang bergabung dengan grup fotografi di Whatsapp. Di grup ini, anggotanya dilarang untuk berbicara masalah politik. Jika ada yang melanggar, langsung dicekal. Ini tentu sah-sah saja sebab grup dibentuk sebagai wadah bagi para penggemar fotografi. Jadi diskusi selalu dibatasi seputar fotografi.  Bila ada anggota klub yang gemar berdiskusi masalah politik, ia bisa bergabung dengan grup lain.
Lantas bagaimana jika diskusi soal politik memang tak terhindarkan?Dalam hal ini, kita bisa belajar dari tokoh-tokoh politik zaman dahulu, khususnya yang besar pada era kemerdekaan. Contohnya adalah Hamka dan Soekarno. Saat rezim Soekarno berkuasa, Buya Hamka pernah dijebloskan ke penjara karena dianggap menentang pemerintah. Namun Bung Karno kemudian berpesan agar kelak jika ia meninggal, mintalah agar Hamka menjadi imam salat jenazahnya. Dan Buya Hamka memenuhi permintaan presiden pertama RI itu. Karena kesediaannya itu, Hamka menuai kritik. Namun Hamka mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak dendam kepada Soekarno. Ia bahkan menyebut dua jasa Soekarno bagi umat Islam, yaitu Masjid di Istana Negara dan Masjid Istiqlal. Keinginan Soekarno agar Hamka menjadi imam salat Jenazah ini mengisyaratkan pengakuan Soekarno atas keulamaan Hamka. Dari kedua tokoh ini, kita bisa belajar bahwa meski berbeda secara politik, mereka masih mengakui jasa masing-masing.
Banyak lagi cerita-cerita senada. Seperti Mohamad Natsir yang tetap serius mempromosikan Indonesia meski dicekal Soeharto lantaran keterlibatannya dalam Petisi 50.  Dari cerita-cerita tersebut, kita mendapat teladan bahwa meski berbeda secara politik, namun para tokoh tersebut tetap menghargai sisi baik orang lain. Mereka juga siap mengesampingkan perbedaan demi kepentingan yang lebih besar.