Rabu, 13 Mei 2015

Jangan Terlena dan Jangan Lengah

Semenjak berhasil menggondol piala dunia bulan Juli tahun lalu di Brasil, penampilan Jerman di babak penyisihan Piala Eropa 2016 belum meyakinkan. Setelah lebih dari delapan tahun Joachim Loew menangani tim nasional Jerman, baru kali ini tim Panser tidak mendominasi fase penyisihan grup untuk turnamen-turnamen besar. Sejak dimulainya babak penyisian Piala Eropa hingga akhir tahun 2014 lalu, Jerman hanya berada di urutan kedua Grup D, tiga angka di belakang Polandia dan sama dengan Skotlandia dan Irlandia. Jerman bahkan dikalahkan oleh Polandia dengan skor 2-1. Ini adalah kekalahan pertama Jerman dari negara tetangganya itu setelah 19 kali pertemuan. Jerman juga hanya mampu bermain imbang dengan Irlandia, sebelum berhasil menumbangkan Gibraltar, sebuah negara kecil di Eropa,  dengan skor 4-0. Lucunya, pelatih Gibraltar saat itu, Allen Bulla (kini telah dipecat), menyebut kekalahan ini sebagai “hasil yang hebat” lantaran timnya hanya kemasukan empat gol. Gibraltar kalah dengan skor yang lebih besar saat menghadapi Irlandia dan Polandia, masing-masing dengan skor 7-0.
Kabar baiknya, Jerman berhasil meraih kemenangan 2-0 atas Georgia dalam lanjutan penyisihan Piala Eropa 2016 pada bulan Maret lalu. Dengan kemenangan ini, Jerman hanya terpaut 1 poin dengan Polandia yang sedang memimpin klasemen setelah 5 pertandingan. Apakah Jerman akan kembali mendominasi penyisihan grup? Masih harus dibuktikan karena semua tim baru menyelesaikan kurang lebih setengah perjalanan.
Apakah Jerman belum lepas dari euforia setelah berhasil menjadi juara di Brasil, paling tidak hingga akhir tahun lalu? Jika demikian, tim panser dapat menjadi contoh tentang organisasi yang mengalami euforia setelah berhasil mengukir prestasi fenomenal, atau menyelesaikan proyek-proyek bernilai miliaran rupiah. Euforia ini bisa dialami baik oleh organisasi maupun individu.   Misalnya, seseorang begitu bergembira serta berpesta setelah sukses  menjadi juara dalam lomba tertentu atau berhasil  memenangkam kontrak yang menguntungkan baik bagi dirinya ataupun organisasi tempatnya bernaung.  Akibat tenggelam dalam perasaan gembira yang berlebihan ini, ia jadi enggan untuk melihat dan melangkah ke depan.  Seolah-olah ia lupa bahwa tugas-tugas dan tantangan-tantangan berikutnya telah menantinya di depan sana.  Akibatnya, saat memulai hal baru ia jadi kedodoran lantaran ia membuat persiapan secara seadanya.  Prestasinya, paling tidak pada masa awal mengerjakan tugas baru, tidak seperti yang diharapkan. 
Hal ini tentu tidak boleh dibiarkan berlama-lama. Karena jika dibiarkan berlarut-larut, sinar kecemerlangan yang telah susah payah dipancarkan perlahan-lahan akan padam. Kepercayaan orang lain terhadap dirinya akan terkikis. Prestasi-prestasi yang telah dicapainya di masa lalu menjadi semakin tanpa makna.
Lantas bagaimana caranya agar kita tidak kehilangan semangat untuk berbuat yang terbaik pasca kesuksesan sebelumnya?Tentunya,  perlu ditanamkan kesadaran bahwa tantangan yang akan di hadapi di masa depan akan jauh lebih berat seiring dengan perubahan lingkungan. Sebagai contoh adalah bila kita memenangkan kejuaraan olahraga. Semua lawan yang kita kalahkan pasti ingin dapat “membalas dendam” atas kekalahannya.  Untuk itu, mereka berlatih lebih keras, melakukan persiapan yang lebih dini dan lebih baik, dan membenahi manajemen olahraga mereka.  Jika sang juara tidak melakukan terobosan, tidak mau berlatih lebih giat, dan masih bertahan dengan cara-cara lama, ia pasti akan tergilas di kejuaraan atau pertandingan-pertandingan berikutnya.  Dalam hal ini, prinsip “mempertahankan lebih sulit daripada merebut” menemukan relevansinya.
Tantangan yang lebih berat ini tentu tidak hanya berlaku dalam dunia olahraga. Dalam dunia bisnis misalnya, pesaing tidak tidur. Mereka akan berusaha dengan segala daya dan upaya untuk menang. Jika lengah dan terlena, bersiap-siaplah untuk kalah dan merana. Belum lagi faktor-faktor perubahan lingkungan ekonomi, sosial, budaya, dan politik yang memaksa organisasi untuk terus-menerus beradaptasi.


Kamis, 30 April 2015

Siapkan Uangnya Dulu

Suatu malam di sebuah bus mini.  Penulis, yang sedang dalam perjalanan pulang ke rumah dari kantor, duduk di salah satu bangkunya yang mulai retak.  Di deretan  yang sama duduk seorang penumpang lain. Malam itu penulis beruntung masih kebagian tempat duduk.  Banyak penumpang bus yang masuk belakangan harus rela berdiri karena semua bangku telah ditempati. Maklum, dalam hal mendapatkan tempat duduk di bus, berlaku prinsip: siapa cepat, dia dapat.
Tak lama setelah bus mulai bergerak maju, mulailah sang kondektor mendatangi penumpang satu per satu. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk menangih ongkos (jujur, sampai sekarang saya tidak tahu bagaimana seorang kontektur bisa tahu siapa saja penumpang yang belum membayar ongkos). Sebelum menumpang bus, biasanya penulis telah menyiapkan uang di saku yang akan diberikan sebagai ongkos sehingga saat si kondektur menjulurkan tangannya  untuk menagih uang, penulis tidak perlu repot-repot lagi membuka dompet atau merogoh tas untuk mengambil uang. Namun tidak demikian halnya dengan penumpang yang duduk tepat di sebelah kanan penulis. Saat kondektur menjulurkan tangannya, ia nenbuka dan merogoh tasnya untuk mengambil dompet, dan dari dalam dompet itulah ia mengambil uang untuk membayar ongkos bus.
Saya yang menyaksikan kejadian itu lantas berpikir: mengapa sebelumnya ia tidak menyiapkan terlebih uang untuk membayar ongkos bus dan meletakkannya di tempat yang mudah diraih sehingga si kondektur tidak harus menunggu lama untuk mendapatkan ongkos busnya?Sulitkah jika ia terlebih dahulu melakukannya?
Hal yang kurang lebih mirip juga terjadi di omprengan. Banyak penumpang yang baru membuka tas atau dompet serta mengambil uang saat ia telah turun. Tidak jarang mereka harus meraba-raba tas atau dompet mereka, mencari-cari uang untuk membayar ongkos naik omprengan. Agaknya, meeka menyimpan uang mereka di tas atau dompet secara serampangan. Kalau yang melakukannya hanya satu orang, waktu tunggu tidak terlalu lama?Namun bagaimana jika lebih dari dua orang yang menunjukkan perilaku yang sama?Berapa lama waktu yang dibutuhkan?
Bagi banyak orang, apa yang penulis kemukakan ini boleh jadi dianggap tidak bermutu. Mereka akan berkata, “Tulisan macam apa ini?”. Sebagian lain akan menganggap penulis hanya usil, iseng, dan sedang tidak ada kerjaan.  Namun, tahukah bahwa ada kerugian-kerugian bila uang untuk ongkos bus atau angkutan masal lainnya tidak disiapkan sebelum turun atau ditagih kondektur? Pertama, seperti disinggung di atas, si penumpang dan/atau orang lain harus menunggu lebih lama, baik untuk melanjutkan perjalanan maupun untuk membayar ongkos. Belum lagi jika ada mobil antri di belakang bus atau omprengan. Bila sudah begini, biasanya klakson mulai dibunyikan secara bersahut-sahutan. Namun baik penumpang yang membayar maupun supir bus atau angkutan tidak peduli.  Telinga mereka sudah terlalu tebal, sulit untuk menipiskannya kembali. Mereka tidak mau tahu bahwa apa yang sedang mereka lakukan mengganggu orang lain.
Kedua, mengeluarkan dompet dari tas serta mengambil uang dari dalamnya dapat mengundang tindak kejahatan. Dulu, para pencopet biasa mengincar dompet penumpang kendaraan umum seperti bus, kereta api, dan omprengan. Namun sekarang tidak demikian. Kemajuan teknologi telah menyebabkan banyak orang tidak lagi membawa uang tunai dalam jumlah besar. Mereka cukup membawa satu atau beberapa kartu ATM, kartu debet, atau kartu kredit. Kalau mencopet, belum tentu para pencopet ini bisa menggunakannya karena untuk menggunakan kartu-kartu pintar itu memerlukan nomor identitas pribadi atau PIN.
Saat ini, para pencopet lebih suka mengincar gawai semisal telepon pintar atau komputer tablet. Alasannya?Gawai dapat dijual lebih mahal. Jika kita membuka dompet, apakah gawai juga bisa melayang?Bisa saja jika orang bisa mengintip gawai di tas saat dompet dikeluarkan. Mengada-ada? Silahkan bilang begitu. Yang jelas mudah-mudahan kita terhindar dari hal yang demikian itu.

Jadi, siapkanlah ongkos sebelum melangkahkan kaki ke dalam bus. 

Selasa, 31 Maret 2015

Tak Pernah Dibudayakan

Bagi yang sering naik bus Transjakarta, tentu pernah mengalami antre di dalam halte dalam waktu lama menunggu kedatangan bus.  Saat sebuah bus tiba,  penumpang berebutan masuk. Semuanya ingin cepat terangkut karena kalau tidak mereka harus menunggu bus berikutnya,  ysng baru akan tiba entah berapa lama lagi. Akibatnya,  banyak yang tidak mau antre sebab bagi mereka jika ikut antre tidak akan dapat terangkut, sedangkan mereka ingin atau harus cepat sampai karena sudah lelah atau takut terlambat.  Padahal telah dipampang tulisan untuk mendahulukan yang turun. Tapi berapa orang yang peduli?Begitu pintu bus terbuka, banyak orang di halte langsung melangkahkan kakinya ke dalam bus, padahal belum ada penumpang bus yang keluar.  Kondisi ini dapat diamati di hampir semua koridor.  Kondisi yang semrawut ini juga mengakibatkan penumpang rentan menjadi korban kejahatan, semisal pencopetan dan pelecehan.  
Pemandangan orang berebutan untuk menikmati layanan ini tidak hanya dapat dilihat di halte bus Transjakarta, melainkan juga di tempat-tempat lain semisal di stasiun KA. Melihat fenomena itu, penulis teringat dengan  sebuah tulisan yang pernah penulis baca serta sebarluaskan di salah satu jejaring sosial.  Tulisan itu berisi ungkapan seorang guru di negeri Kangguru Australia, yang menyatakan dirinya tidak begitu cemas jika murid-muridnya tidak pandai mengerjakan soal-soal matematika.  Namun dirinya dan juga guru-guru lainnya sangat takut jika para murid tidak bisa dan/atau tidak mau antre menunggu giliran. Mengapa demikian?Bagi guru tersebut, paling tidak ada dua alasan.  Pertama, agar mahir dalam matematika, seorang anak hanya membutuhkan kurang lebih 3 bulan latihan intensif, sedangkan untuk mengantre membutuhkan waktu jauh lebih lama, yaitu 12 tahun. Kedua, tidak  semua ilmu matematika yang diajarkan di sekolah kelak dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Paling banter hanya penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian.  Ini penulis alami sendiri. Saat duduk di bangku SMP dan SMA, penulis belajar teori-teori matematika seperti kalkulus dan trigonometri. Namun tak satu pun teori-teori itu yang penulis manfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.  Berbeda halnya dengan mengantre. Hampir setiap hari orang harus mengantre untuk memperoleh atau melakukan sesuatu, seperti membayar barang, naik  turun tangga, memesan makan di tempat makan, mengemudikan mobil atau sepeda motor di jalan, dan sebagainya.
Selanjutnya, dalam tulisan itu juga dikemukakan pelajaran-pelajaran berharga yang diperoleh dari kebiasaaan mengantre bagi seorang anak, yaitu belajar mengatur waktu, melatih kesabaran, belajar menghormati hak orang lain,  belajar untuk berdisiplin, merangsang kreativitas, belajar bersosialisasi khususnya dengan sesama pengantre,  belajar hukum sebab akibat, dan belajar memiliki rasa malu jika menyerobot antrean.
Pertanyaannya, adakah anak-anak kita berhasil menarik pelajaran-pelajaran seperti yang disebutkan di atas?Melihat fenomena banyak orang yang tidak menghargai waktu, tidak sabaran, suka menginjak hak-hak sesamanya, tidak taat aturan, tidak menghargai hukum, dan tidak punya rasa malu, rasanya kita sudah bisa menjawabnya.
Agaknya, kebiasaan mengantre memang tidak pernah dibudayakan. Kalaupun pernah diajarkan, rasanya hanya sambil lalu. Memang beberapa tahun lalu ada iklan layanan masyarakat yang mengimbau agar orang mau antre. Namun dampaknya tidak menohok ke dalam hati.
Hal ini diperparah dengan minimnya keteladanan dan penegakan hukum. Misalnya, banyak orang tua yang justru mendorong anaknya menyerobot antrean dengan aneka dalih. Ada lagi orang yang tanpa rasa malu menerobos barisan namun dibiarkan (atau terpaksa dibiarkan) karena orang tersebut dianggap terhormat dan menduduki posisi penting. Dan jangan pernah berpikir untik menegur orang ini. Semprotan, bahkan tamparan dalam kasus ekstrem, siap menyambut. Reaksi pihak berwenang?Anda tahu sendiri jawabannya.
Jika kondisinya tetap seperti ini, kapan negeri ini dapat tertib dan maju?
           


Senin, 25 Agustus 2014

Memang Perlu Waktu, Tapi.....


David Moyes buka mulut pasca pemecatannya sebagai manajer Manchester United (MU).  Dalam wawancaranya dengan surat kabar The Daily Mail, Moyes, yang dipecat dari MU bulan April 2014 setelah hanya sepuluh bulan menangani klub yang bermarkas di Old Trafford itu,  mengatakan bahwa dirinya tidak diberi waktu yang cukup untuk menunjukkan keberhasilannya memimpin MU.
Di bawah kepelatihan Moyes, prestasi MU memang merosot drastis. Hingga pemecatannya tanggal 22 April 2014, MU hanya berada di peringkat ketujuh Liga Primer Inggris, dengan selisih 13 angka di belakang Arsenal, yang menduduki peringkat keempat.  Prestasi ini tentu jauh dibanding musim sebelumnya, di mana MU, yang saat itu masih dipimpin oleh Sir Alex Ferguson, menjadi juara liga. Dan untuk pertama kalinya sejak tahun 1995, MU gagal lolos ke liga Champions. Untuk pertama kalinya juga MU terlempar dari posisi tiga besar sepanjang sejarah Liga Primer.  Di Kompetisi Liga Champions Eropa, MU kandas di perempat final setelah dikalahkan Bayern Muenchen dengan skor agregat 4-2. Sedangkan di piala FA, MU tersingkir setelah bulan Januari 2014 dikalahkan Swansea 2-1.
Tugas yang diemban Moyes saat mengambil alih tampuk kepelatihan MU memang sungguh berat. Ia harus menggantikan Ferguson, yang telah menjadi legenda hidup MU.  Ferguson memang salah satu figur yang yang paling sukses, paling dikagumi, dan paling dihormati dalam sejarah sepak bola. Saat menjadi manajer MU, Ferguson berhasil mengantar MU menjadi juara Liga Primer sebanyak 13 kali, Piala FA 5 kali, Community Shields 10 kali, juara liga Champions Eropa 2 kali, Cup Winners Cup 1 kali, Piala Super Eropa 1 kali, Piala Intercontinental 1 kali, dan juara dunia antarklub 1 kali. Belum lagi penghargaan-penghargaan yang diterimanya sebagai manajer. Sebutlah diantaranya LMA Manager of the Decade 1 kali, LMA Manager of the Year 4 kali, Manajer Liga Primer Musim ini 11 kali, Manajer Liga Primer bulan ini 27 kali, Manajer Dunia Tahun Iniversi majalah World Soccer 4 kali, dan Manajer Tahun Ini versi Federasi Sepak Bola Eropa (UEFA). Deretan panjang prestasi ini rasanya sulit disamai oleh orang lain, termasuk penggantinya di MU, siapa pun orangnya. Tak terkecuali Louis van Gaal, Jose Mourinho, Arsene Wenger, Carlo Ancelloti, ataupun Pep Guardiola.
Moyes sepertinya ingin membela diri soal prestasinya bersama MU. Pertanyaannya, tepatkah alasan yang dikemukakannya bahwa ia tidak mempunyai cukup waktu?Saat Ferguson meninggalkan MU pada akhir musim 2012-2013,  MU adalah tim yang telah mapan, baik dari sisi pemain dan pola permainan. Saat Moyes datang, ia tentu ingin menerapkan gayanya sendiri. Hal ini tentu wajar-wajar saja. Yang menjadi masalah, para pemain yang hampir semuanya adalah hasil didikan Ferguson belum terbiasa, atau tidak mau menerima gaya Moyes. Agar gayanya diterima, Moyes memerlukan waktu. Dalam hal ini, alasan Moyes bahwa dirinya tidak diberikan waktu yang cukup dapat dibenarkan. Apatah lagi Moyes mengatakan bahwa dirinya ingin merekrut pemain-pemain seperti Cesc Fabregas, Cristiano Ronaldo, dan Gareth Bale meski nyatanya tidak berhasil.
Persoalannya, dalam kompetisi yang begitu ketat, hasil kerap lebih penting ketimbang proses. Ditambah lagi para pendukung dan penggemar MU sudah biasa melihat tim kesayangan mereka selalu berada di jalur kemenangan. Bagi mereka, tak terbayangkan MU berada di luar tiga besar, tidak lolos ke kejuaraan Eropa (bahkan untuk kejuaraan Liga Europa yang dianggap sebagai kompetisi kelas dua), dan kalah dari tim-tim papan tengah bahkan papan bawah. Namun itu semua terjadi saat Moyes menjadi manajer tim dengan julukan setan merah itu. Kegagalan Moyes mengendalikan para pemain MU juga menjadi bukti lemahnya kualitas kepemimpinan mantan pelatih Everton itu. Ini tentu jauh dibandingkan Ferguson, yang terkenal otoriter namun disegani.  Maka tak ada ampun lagi, Moyes harus lengser dari posisinya sebagai manajer MU.  Padahal ia tadinya dikontrak selama enam tahun.



Sabtu, 19 Juli 2014

Sabella, Lippi, dan Del Bosque



Pelatih tim nasional Argentina, Alejandro Sabella, akan mundur dari jabatannya pasca Piala Dunia 2014 di Brasil, apapun hasil pertandingan final antara tiimnya dengan Jerman. Hal ini dikonfirmasi oleh agen Sabella, Eugenio Lopez. Keputusan Sabella ini berlainan dengan keinginan Persatuan Sepak Bola Argentina, yang menginginkannya tetap bertahan.
Sabella ditunjuk untuk melatih Argentina pada tahun 2011. Selama masa kepelatihannya, tim Tango mencatat prestasi fenomenal: untuk pertama kalinya meloloskan Argentina ke final Piala Dunia setelah 24 tahun. Pada tahun 1990, Argentina berhasil masuk final, namun kalah 1-0 dari Jerman (Barat).
Terlepas Argentina jadi juara atau tidak, mundur setelah tim nasional yang diasuhnya mencetak prestasi tinggi bukanlah fenomena baru. Inilah yang dilakukan oleh Franz Beckenbauer setelah sukses membawa Jerman jadi juara dunia tahun 1990. Contoh lainnya adalah  Carlos Alberto Pareira (Brasil tahun 1994), Luis Felipe Scolari  (Brasil tahun 2002), dan Marcello Lippi (Italia tahun 2006).
Alasan mundurnya mereka bisa bermacam-macam.  Diantaranya adalah ketidaksepakatan dalam hal kompensasi. Maksudnya, tuntutan kompensasi yang diajukan tidak bisa dipenuhi oleh federasi sepak bola negara yang bersangkutan. Namun kompensasi bukanlah satu-satunya alasan.  Sebuah federasi sepak bola tentu sadar menjadi pelatih tim nasional adalah tugas berat. Oleh karenanya, mereka umumnya tidak keberatan memberi gaji tinggi.
Alasan mereka untuk mundur umumnya berkaitan dengan idealisme.  Mundur setelah meraih kesuksesan dilakukan agar nama mereka tetap harum dan dikenang.  Bukan hanya itu, pandangan-pandangan mereka juga akan dihargai. Hal ini ternyata bukan hanya terjadi dalam dunia sepak bola. Dalam dunia bisnis, banyak pemimpim perusahaan yang memilih mundur dari jabatannya justru saat kinerja perusahaan sedang bagus-bagusnya. Hal yang sama berlaku untuk pemimpin-pemimpin pemerintahan, seperti presiden atau perdana menteri.  Lee Kuan Yew mundur dari posisinya sebagai perdana menteri saat ekonomi Singapura sedang berkembang pesat.  Dan terbukti lama setelah ia mundur, ia masih tetap disegani oleh rakyat Singapura.
Alasan lain: mempertahankan lebih sulit ketimbang merebut. Pepatah lama ini agaknya tetap relevan hingga kini. Saat anda juara atau mencatat prestasi yang fenomenal, semua orang rasanya ingin mengalahkan anda. Banyak orang yang merasa dirinya tidak lagi memiliki energi yang besar untuk mempertahankan apa yang sudah diraih.  Bila dipaksakan, hasilnya justru bisa berbalik: tim dan organisasi yang dipimpinnya justru akan terpuruk.  Inilah yang terjadi pada Marcello Lippi saat menukangi tim nasional Italia pada Piala Dunia tahun 2010 di Afrika Selatan. Italia harus tersingkir di babak penyisihan. Italia bahkan tidak mampu menang atas Selandia Baru, tim yang sebagian besar berisi pemain-pemain amatir. Padahal empat tahun sebelumnya Lippi berhasil membawa Italia menjadi juara dunia.  Hal yang sama terjadi pada Vicente Del Bosque, pelatih Spanyol yang sukses membawa negaranya menjuarai Piala Dunia 2010.  Di Piala Dunia 2014, Spanyol harus lebih awal pulang kandang.
Zaman yang berubah kerap menuntut pelatih yang sukses untuk meninggalkan posisinya. Apa yang sebelumnya dianggap sebagai senjata yang mematikan lawan, suatu saat justru menjadi usang. Sebuah pendapat menarik dikemukakan oleh Jose Mourinho, pelatih Chelsea, terkait kegagalan Spanyol di Piala Dunia 2014.  Menurut Mourinho, Spanyol telah mendominasi sepak bola selama empat hingga enam tahun terakhir, sehingga tim-tim lain telah mempelajari bagaimana melawan mereka, tetapi sang juara dunia tidak mampu beradaptasi. Agaknya, Spanyol memang terlena dengan prestasi mereka yang memang fenomenal, yaitu juara dunia 2010 dan juara Eropa dua kali berturut-turut, masing-masing tahun 2008 dan 2012. Dalam sejarah, belum pernah ada negara yang sebelumnya mampu menggapai prestasi ini. Dampaknya, Spanyol masih mengandalkan muka-muka lama yang boleh jadi motivasinya sudah tidak seperti dulu. Kondisi ini sejatinya mirip dengan yang terjadi di dunia politik. Banyak pemimpin yang emggan turun lantaran terbuai dengan pujian-pujian yang diterimanya.
Pemimpin-pemimpin besar memang tahu kapan saatnya harus mundur meski kekuasaan itu begitu menggoda.
           



Senin, 23 Juni 2014

Juan Carlos, Beatrix, dan Albert II



Pada hari Senin, tanggal 2 Juni 2014, Raja Spanyol, Jual Carlos, mengumumkan akan menyerahkan takhtanya kepada putranya, Pangeran Felipe. Juan Carlos, yang kini berusia 76 tahun, naik takhta pada bulan November 1975. Menurut Perdana Menteri (PM) Spanyol, Mariano Rajoy, raja mundur karena alasan pribadi. Sejak beberapa bulan terakhir, raja mengalami masalah kesehatan.
Raja Juan Carlos sebenarnya sosok yang begitu dikasihi rakyatnya. Ia berhasil mengantarkan Spanyol memasuki era demokrasi pasca meninggalnya penguasa militer Francisco Franco. Namun beberapa tahun belakangan ini, popularitasnya merosot lantaran kasus korupsi yang menimpa putrinya, Cristina, dan menantunya, Inaki Urdangarin. Ia juga mendapat kritik tajam lantaran berfoto bersama gajah yang berhasil ia buru. Padahal Spanyol sedang dilanda krisis ekonomi yang parah. Saat ini dampak krisis masih terasa meski tidak separah tahun-tahun sebelumnya. Akibat berburu gajah, organisasi konservasi kehidupan liar atau WWF memberhentikan Juan Carlos dari posisinya sebagai presiden kehormatan WWF.
Juan Carlos mengikuti jejak sejumlah raja di benua biru Eropa. Raja atau ratu yang telah berusia lanjut, umumnya lebih dari 70 tahun, memutuskan untuk turun takhta dan menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada putra mahkota.  Di Belanda, Ratu Beatrix yang telah bertakhta selama 30 tahun digantikan putranya, Wilem-Alexander pada tahun 2013. Ia menjadi raja pertama Belanda sejak kakek buyutnya meninggal dunia tahun 1890.  Selama kurang lebih 123 tahun, negeri Belanda dikepalai oleh 3 orang ratu.
Di Belgia, Philippe menggantikan ayahnya, Raja Albert II, sejak bulan Juli 2013. Albert II, yang berkuasa selama kurang lebih 20 tahun, mengundurkan diri karena alasan kesehatan. Ia mengundurkan diri dalam usia kurang lebih 79 tahun.
Terkait dengan penyerahan takhta ini, ada satu komentar menarik dari Juan Carlos. Menurutnya, ia menyerahkan kekuasaannya kepada Felipe agar putranya itu tidak harus menunggu lama seperti Pangeran Charles dari Inggris. Charles, yang hampir berusia 66 tahun, saat ini tercatat sebagai putra mahkota tertua sepanjang sejarah Kerajaan Inggris. Ia memecahkan rekor William IV, yang menjadi raja pada tahun 1830 dalam usia 64 rahun, 10 bulan, dan 5  hari.  Pangeran Charles juga tercatat sebagai putra mahkota terlama. Ia  menjadi putra mahkota  pada usia tiga tahun, saat ibunya, Ratu Elizabeth II, mulai bertakhta pada tahun 1952.
Menanggapi hal ini, pakar sejarah kerajaan Inggris, Hugo Vickers, mengatakan bahwa kecil kemungkinan Ratu Elizabeth II akan menyerahkan takhtanya dalam waktu dekat. Pasalnya, tidak seperti Juan Carlos yang  popularitasnya merosot dan kondisi kesehatannya menurun, Ratu Elizabth II masih tetap populer dan bugar. Entah kapan Charles akan menjadi raja.
Apa yang dilakukan oleh Raja Juan Carlos, Ratu Beatrix, dan Raja Albert II patut diteladani. Meski posisi mereka kebanyakan bersifat seremonial, raja dan ratu itu telah membuktikan diri mereka layak menjadi figur panutan. Mereka membimbing rakyatnya menghadapi masa-masa sulit dan memotivasi mereka umtuk kemajuan bangsa.  Mereka juga telah mendidik dan mempersiapkan calon pengganti mereka sehingga siap untuk berkiprah.  Saat merasa calon pengganti mereka sudah siap tampil, mereka dengan sukarela menyerahkan kekuasaannya.
Keteladanan di tingkat nasional ini sejatinya  dapat menginspirasi para pemimpin senior di organisasi-organisasi lain, semisal perusahaan dan organisasi nirlaba. Sayangnya, tidak semua pemimpin mau bertindak sebijaksana Raja Juan Carlos, Ratu Beatrix, dan Raja Albert II. Meski telah belasan, bahkan puluhan tahun berkuasa, mereka tetap enggan untuk mundur Berbagai dalih dikemukakan sebagai justifikasi. Mulai dari pengikut  yang masih menghendaki dirinya berkuasa, masih butuh waktu untuk mewujudkan cita-citanya, takut organisasi tercerai berai karena pengikut masih perlu waktu untuk belajar, dan sebagainya.  Alasan-alasan di atas sejatinya hanyalah kedok untuk menutupi ketakutan sang pemimpin senior akan kehilangan kekuasaan dan pengaruh, yang identik dengan prestise dan materi.
Banyak pemimpin yang di masa-masa awal kekuasaanya mampu menorehkan prestasi-prestasi gemilang. Namun karena terlalu lama duduk di singgasana, mereka cenderung tidak peka terhadap perubahan. Karena terbiasa dengan pujian, ia menjadi tidak tahan kritik serta menganggap para pengkritiknya sebagai ancaman yang harus dilibas.  
Oleh karenanya, seorang pemimpin harus sadar bahwa ia tidak mungkin memimpin selamanya. Mekanisme untuk memilih pengganti harus disiapkan sejak dini, termasuk waktu untuk melakukan pergantian. Masa terbaik untuk melakukannya adalah saat pemimpin sedang jaya.
Sedihnya, tidak banyak pemimpin yang mau berpikir untuk mundur saat berada di puncak. Padahal dengan melakukan hal ini, ia mundur dengan terhormat. Wibawanya masih kuat, pemikirannya masih didengar.

Sabtu, 17 Mei 2014

Enyahkan

Pemain tim nasional Brasil, Dani Alves, mengambil sepak pojok saat klub yang diperkuatnya, Barcelona, berhadapan dengan Villarreal dalam kompetisi sepakbola Liga Spanyol musim 2013/2014.  Tiba-tiba, sebuah pisang dilemparkan dari tribune penonton dan mendarat tepat di dekat Alves. Alves, kelahiran Juazeiro, Brasil, 6 Mei 1983 itu  kemudian mengambil pisang itu, mengupas, dan memakannya satu gigitan. Kemudian ia melanjutkan mengambil sepak pojok. Dalam pertandingan itu, Barcelona mengalahkan Villarreal dengan skor 3-2.
Peristiwa itu terekam dan dapat disaksikan di seluruh dunia melalui internet. Umumnya, orang bersimpati atas tindakan Alves. Stasiun televisi CNN menyebutnya sebagai humor melawan rasisme dalam sepakbola. Rekan seklub dan senegara Alves, Neymar, berkomentar dalam akun Twitternya, “Kita memang sekumpulan monyet. Lalu kenapa?”. Mantan pemain Barcelona dan tim nasional Inggris, Gary Lineker, turut memuji tindakan Alves. “Reaksi yang sungguh Brilian dari Alves”, kata Lineker.
Pihak Villarreal sendiri menyatakan sangat menyesalkan insiden itu. Klub yang dilatih Marcelino Garcia Toral itu juga mengatakan telah mengenal identitas orang yang melakukan perbuatan tercela itu, menarik kartu keanggotaan klub, dan melarang orang tersebut menginjakkan kaki di stadion El Madrigol, markas Villarreal,  seumur hidup.
Alves bukanlah orang pertama yang dengan jenaka menanggapi perlakuan rasis sekumpulan penonton saat pertandingan berlangsung. Pada tahun 2005, Samuel Eto’o, pemain asal Kamerun yang saat itu memperkuat Barcelona, menari layaknya seekor monyet setelah berhasil menciptakaan gol ke gawang Real Zaragoza. Hal ini sebagai tanggapan atas suara-suara monyet yang diarahkan padanya setiap kali ia menggiring bola. Bukan hanya itu, ia juga dilempari kacang saat berhasil mencetak gol. Menanggapi aksinya itu, Eto’o mengatakan bahwa ia menari seperti monyet karena ada penonton yang memperlakukannya seperti monyet. Barcelona mengalahkan Real Zaragoza 4-0 dalam pertandingan itu. Dan pada tahun itu pula, Eto’o terpilih sebagai pemain terbaik Afrika.
Tak Hanya di Eropa, Bukan Hanya oleh Penonton
Rasisme dalam sepakbola terjadi tatkala pemain dilecehkan karena warna kulit, etnis, dan kebangsaan. Yang melecehkan merasa bahwa golongan, suku, dan bangsa mereka lebih tinggi derajatnya ketimbang yang dilecehkan. Rasisme bukan hanya terjadi di negara-negara Eropa, melainkan juga di negara-negara di kawasan lain semisal Asia (Hong Kong, Jepang, dan Filipina). Amerika Utara (Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada), dan Amerika Selatan (Brasil dan Argentina). Bukan hanya dilakukan oleh penonton dalam bentuk ejekan dan lemparan seperti yang dialami Alves dan Eto’o, melainkan juga dilakukan oleh pihak-pihalk lainnya semisal pelatih,  pemain,  dan komentator.
Bukan Pilihan
Seprti halnya dalam bidang-bidang lainnya, rasisme dalam sepakbola harus dilenyapkan. Mengapa seseorang harus dihina lantaran warna kulit, etnis, dan kebangsaan yang berbeda? Kesemuanya itu adalah pemberian, bukan pilihan.  Tidak ada orang yang sebelum lahir dapat memilih untuk berkulit hitam, putih, atau kuning. Tidak ada orang yang sebelum lahir dapat memilih untuk beretnis Arab, Tiongkok, Urdu, dan sebagainya. Tidak ada orang yang sebelum lahir dapat memilih tempat kelahirannya, apakah di Indonesia, India, Brazil, Inggris, Meksiko, dan sebagainya. Namun Tuhan maha adil. Meski berbeda warna kulit, etnis, dan kebangsaan, setiap individu dianugerahi potensi yang sama untuk berkembang. Kemuliaan seseorang tidak tergantung warna kulit, etnis, dan tempat lahir, melainkan oleh seberapa banyak kebaikan yang ia lakukan.

Federati-federasi sepakbola, baik pada tingkat nasional, regional, maupun internasional telah berupaya mengatasi masalah rasisme, baik melalui peraturan maupun sanksi. Hal ini tentu patut kita dukung. Namun para pemain yang rentan mendapat perlakuan rasis juga diharapkan dapat bersatu serta menemukan cara-cara kreatif, seperti yang dilakukan Alves dan Eto’o.  Mari enyahkan rasisme dari muka bumi.